Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Saturday, October 17, 2015

Aku dan Dia Hanya Berdua

Rizal Muhamad, Aku dan Dia Hanya Berdua, Cerpen, Cinta, Karya Sastra
Langit sore tadi tidak aku hiraukan, mega yang memerah saja tiada aku perdulikan, apalagi pekat yang mulai datang membayang lekas saja aku tendang. Aku sedang bahagia, iya aku diterima oleh salah satu perguruan tinggi luar negeri. Berbekal tulisan yang kerap kali aku postingkan, ternyata ada sedikit mata-mata yang memperhatikan. Katanya, itulah salah satu alasan.

Sedikit saja sebenarnya rasa yang aku bingungkan. Darimana aku akan memulai, bersama siapa, dan akan bagaiana? Ah, aku kembali pada bahagia. Kebingunganku dijawab Tuhan bersama realita. Aku bertemu teman SMPku, dia masih sering bercanda bersamaku. Jangan Tanya seperti apa, lewat apa, dan bagaimana! Intinya kita sama, ternyata dia juga diterima di perguruan tinggi luar negeri.

Aku sampaikan kabar bahagia ini padanya, anehnya kita diterima di perguruan tinggi satu Negara yang sama meski beda universitasnya. Raut merona terpancar dari kita berdua, seolah ada kebahagiaan di depan sana yang akan kita kejar, kita dapatkan, dan segalanya dengan kebersamaan. Iya, aku paling suka terakhirnya, secara bersama kita akan mendapatkan semuanya.

Paspor keberangkatan menuju Timur Tengah telah ada di tangan. Sekali ponsel kecilku bordering, satu pesanpun masuk.
Dia : "Aku jemput di bandara ya?"
Aku: "Iya," Lantas, hanya itu yang aku katakan padanya. Kita bersahabat telah lama, hingga kebaikan yang dia berikan tidak dapat aku maknai lain. Keberangkatan dia yang lebih dulu dariku sebenarnya membuatku sedikit bias tersenyum. Karena tanpa aku mau, dia telah menyiapkan segalanya untukku.

Tujuh jam di pesawat membuatku banyak berfikir tentang dia, iya dia sahabatku dan sahabatnya. Jujur saja, dia adalah sahabat dari laki-laki yang aku suka. Segala yang aku rasa, aku ceritakan padanya. Lama sekali aku merepotkan dirinya karena menyukai sahabantnya. Anehnya dia selalu bias mengubah tangis menjadi tawa, itu yang aku suka.

Wah, beberapa menit lagi pesawat ini akan tiba di negeri orang. Satu-satunya yang aku harapkan adalah dia yang akan menyambutku dengan kebahagiaan, perasamaan harapan, serta tujuan. Suara bising gesekan roda dengan aspal menjadi jeritan yang tiada terelakan, baling-baling pesawat mulai pelan, dan pintu kabin mulai terbuka.

Aku lihat langit biru yang dinodai awan, kakiku mulai turun perlahan menapaki anak tangga, sesaat aku berada di landasan yang menyadarkanku begitu kecil dibanding semesta. Tapi waktu itu perasaanku masih begitu besar, jika semesta bisa aku teriaki kebahagiaan yang luar biasa. Kemudian aku naiki bus yang tersedia bersama koper yang melekat di tangan.

Sampai di terminal bandara negeri entah siapa, dia ternyata sudah ada di gerombolan penjemput lainnya. Iya, dia temanku, sahabat dari pria yang aku cintai. Lambaian tangannya waktu itu membuat aku bahagia dan tenang. Karena akan ada yang bersamaku diantara jutaan orang yang tiada peduli dan mengenalku. Lntas kemudian aku menghampirinya, manatapnya dan menyapa dalam hatiku bahwa dia yang akan ada untukku.
Koper yang awalnya di tanganku kini pindah di tangan kirinya. Sambil diam kita berdua melangkah meninggalkan terminal bandara. Saat lantai-lantai yang bersih menjadi saksi langkah kita, aku takut jendela-jendela kaca bisa melihat bagaimana tangan kanannya menggandeng tangan kiriku. Melengkapi ruas yang telah lama kosong, dan genggaman erat yang seolah tidak mau kehilangan.

Panjangnya jarak dari penjemputan menuju tempat parkir taksi yang telah dia sediakan, aku hanya bisa menatap samping mukanya. Lama dan penuh makna, aku jarang sekali memperhatikan dia sampai sebegitunya. Ini adalah pertama kalinya, seketika itu aku melupakan dia sahabatku, melupakan sahabatnya yang aku suka, dan menaggap semua ini perlu dimaknai berbeda.

Tatapan matanya padaku seketika membangunkanku dari lamunan, dari angan yang tidak pernah terbayang. Taksi telah ada di depan mata, pintu yang terbuka mengharuskan aku untuk memasukinya, genggaman eratpun harus aku lepaskan, dan terkesan semua terselesaikan. Aku lantas menempati tempat duduk di sebelah kiri dan dia di sebelah kanan.

Perbincangan banyak kita angkat dari topic-topic yang sudah terlewatkan, termasuk bagaimana aku dengan perasaanku yang kerap kali aku bagikan padanya. Keseruan hanya kita miliki berdua, sopir taksi yang tidak mengetahui segalanya karena berbeda bahasa, pemandangan di luar sana yang masih terkalahkan oleh tema, hingga kebisingan kendaraan lain yang masih bisa kita kalahkan.

Perjalanan terkesan singkat, gedung penginapan mahasiswa yang berada di kanan jalan membuat semuanya behenti. Pembicaraan, keseruan, kebahagiaan, dan tawa kebersamaan, semuanya berhenti, dan segalanya mati. Mulai terbanyang bagaimana keadaan ke depan.

Koperku mulai diturunkan oleh supir taksi. Aku dan dia pun akhirnya keluar dan memandang apa yang akan terjadi. Dia mengantarkaku pada tempat penginapanku. Menggunakan lift, lantai pertama, kedua, dan ketiga dilewati tanpa ada bekas. Pintu membuka di lantai empat, menuju pavilion nomor 26 kita lalui berdua tanpa jeda. Hal itu telah dipersiapkan dia sebelum-sebelumnya.

Sampai di tempat istirahatku, aku mulai berbenah dan bersantai ria. Sejenak aku memikirkan seseorang yang aku suka, karena orang itu akan lama tidak bersamaku, tapi aku akan lama berada dekat bersama sahabatnya. Iya, dia adalah sahabat orang yang aku suka.

Tiba-tiba ponselku bersuara, satu pesan masuk.
Dia : "Akan aku ajak kamu berkeliling kota ini sore nanti, aku jemput tiga jam lagi."
Aku : "Ok, keknya seru. Aku siap-siap dulu." Itu jawabanku, bergegas aku membereskan barang-baangku yang telah termuntahkan dari dalam koper.

Sore datang begitu cepat, dia memberitahuku sudah berada di bawah gedung pavilionku. Bergegas turun dan keluar dari gedung, senyum hangat dia menyambutku. Udara dingin penusuk tulang sedikit membuatku kedinginan, mungkin karena belum terbiasa saja. Ah, jahatnya dia malah tertawa.

Beberapa puluhan meter telah kita lewati berdua, shall di leherku aku naikkan, jaket di badanku kemudian aku kancingkan. Tapi tangan ini masih terabaikan, aku gosok-gosokan kedua tanganku sembari berjalan di trotoar jalan bersama dia. Sinar matahari sore itu tidak mampu mengalahkan dingin, bunga yang mekarpun masih mampu menengadah pada cahayanya.

Jalan-jalan begitu ramai sesak dipenuhi banyak orang sore itu, namun yang merasakan kedinginan sepertinya hanya aku. Kembali lagi dia tertawa, iya seseorang yang di dekatku. Ah, aku menunduk dan seketika aku melihat tangan kanan dia menyambut tangan kiriku lantas dengan pelan menggenggam tanganku dan memasukannya pada jaket tebalnya. Jujur saja aku sangat kaget, tidak hanya itu yang aku dapat, karena kebahagiaan dan kenyamanan aku dapatkan pada waktu dan tempat yang sama.

Aku dan dia, dan hanya berdua, kita lewati jalan-jalan kebisingan kota. Dia mengajakku pada sebuah taman kota yang banyak pengunjungnya. Melewati pintu masuk yang tiada penjaganya, aku seolah menegakkan langkah, menyiapkan mental dengan siapa aku berjalan. Dengan dia temanku, sahabat dari orang yang aku suka. Dan kini, tanganku masih ada di saku jaket tebalnya.

Perlahan dia mengeluarkan tanganku dari saku jaket tebalnya, sambil berjalan di lantai yang membentuk pola seni kemudian dia merangkulku. Aku dan dia tidak berhadapan, tidak saling memandang, dan tidak saling bertatap. Kita hanya menatap ke depan, merasakan segalanya terjadi seolah sudah ditakdirkan.

Perkataan demi perkataan mulai diungkapkan.
Dia : "Aku tau siapa yang memiliki hatimu, aku tau siapa yang kamu cintai, dan aku tau siapa yang memiliki rasamu. Aku tau semua, tapi bolehkah aku meminta padamu agar kamu mencintaiku, agar aku memiliki hatimu, dan agar aku ada dalam rasamu?"

Langkah kaki kemudian menjadi begitu beratnya, tatapan mata tajam masih lurus ke depan, dan tangan masih merangkul dipundak yang seolah ketakutan. Seketika, semua terhentikan. Dia memaksaku menatapnya, memandangnya, dan menjawab segala yang dia tanyakan, hingga akhirnya kita berdua berhadapan dan aku dan dia hanya berdua.

Di tengah taman yang berkeramik pola Timur Tengahan aku menangis, yang kemudian memaksaku menyandarkan jiwa dan ragaku pada dadanya. Membasahi jaket tebalnya dengan air mata, dan membuatnya memelukku seolah akan kehilangan.

Aku lupakan orang yang aku suka, aku lupakan dia sahabatnya, aku lupakan lima tahun aku menunggu sahabatnya, aku lupakan diam yang membuatku bisu di hadapan cinta, aku lupakan ungkapan-ungkapan kode untuk memberitahukan,  aku lupakan segala hati yang pernah aku korbankan, dan aku melupakan segala kesakitan yang telah aku lewatkan.

Saat ini aku ada di hadapan cinta yang agung, di hadapan dia yang mencintaku seperti cinta yang aku memiliki. Serta detak jantung keseriusan yang dapat aku rasakan hingga di luar jaket tebal yang dia kenakan. Aku yakin saat ini aku mencintainya dan aku memberikan rasaku untuknya dengan melupakan segala yang pernah aku sia-siakan sebelumnya.

Aku sambut pelukannya, aku satukan kedua tangaku di punggungnya. Hingga aku merasakan dekapan yang seolah tidak ingin terpisahkan. Dan aku yakinkan bahwa dia yang harus aku perjuangkan, dia yang memintaku untuk mencintainya, bukan yang aku minta untuk mencintaiku. Saat itu segalanya hangat, dingin mulai menjauh, malam menyambut kebahagiaan, dan di atas kita ada mega tidak segagah biasanya di hadapan aku dan dia, serta di hadapan cinta yang agung.

Rizal Muhamad, Aku dan Dia Hanya Berdua, Cerpen, Cinta, Karya Sastra
Iya, sekarang aku mencintai dia, dan semua itu hidup dalam mimpiku sore tadi. Jangan salahkan aku untuk membawa semuanya dalam realita. Itu semua memang mimpi, tapi jika awalnya dimulai dari kerinduanku pada dia, aku rasa mulai ada yang berbeda antara aku dan dia. Akhirnya, sore tadi kita telah bertemu (dalam mimpi), aku dan dia hanya berdua. Bangunku, membawaku melupakan cinta yang sebelumnya dan memulai segala yang belum pernah ada. Semoga aku dapat cinta yang tidak hanya hidup dalam mimpiku, tapi secara nyata dalam realita. Itu saja,
*Debu Ambigu

Wednesday, March 11, 2015

Cerpen : Pujangga Yang Tak Bisa Berkata Cinta

Cerpen : Pujangga Yang Tak Bisa Berkata CintaSengatan matahari siang ini sungguh menghitamkan kulit. Terlebih dibarengi dengan perasaan hati yang sedang terbakar akan perasaan. Sedianya aku hanya ingin pergi ke perpustakaan, tapi pandangan mataku seolah salah aku arahkan. Alisku menikam tajam dengan mata yang kian terciutkan. Jika orang lain melihat ini, pastilah mereka hanya berfikir bahwa aku hanya sedang mengurangi banyaknya cahaya yang memasuki pupil mata.

Tiada orang kira bahwasannya sebenarnya aku sedang memandang sesuatu yang menyakitkan. Ialah memandang cinta, bukan milikku, bukan milik siapa, tapi perihal prinsip sekaligus pobia. Aku tenteng buku tipis yang kata orang di dalamnya adalah kata-kata puitis. Sesekali aku lihat cover buku yang kata orang membaca itu menjadikan kita terbawa ambigu. Lalu aku berjalan berirama fatamorgana yang menemani langkah keragu-raguan hati menuju tempat di depan sana. Sekilas terlintas untuk tidak mendekati apa yang tersaji di hadapan mata. Tapi mau bagaimana lagi, dua hari sudah aku melewati batas waktu pengembalian buku karangan penyair yang sangat terkenal tempo dulu. Sudah terfikirkan bukan, akan denda yang harus aku bayarkan karena kemalasan mengembalikan sesuatu yang bukan milikku. Atau sebenarnya aku hanya tidak ingin mengembalikan buku itu karena ketidakbosanan diriku mengulang-ulang syair pujangga yang sangat luar biasa. Entahlah, itu masih menjadi PR yang kesulitannya mengalahkan tugas yang diberikan dosen. 

Aku tapaki jalan yang belum selesai direnovasi. Rasanya sungguh terjal, layaknya perasaan hati yang tersayat-sayat melihat panorama cinta di hadapan muka. Sebenarnya bukan sedang iri melihat dua sejoli memadu rasa dengan sangat di dukung suasana. Tapi lebih pada bercermin pada diri akibat kebanyakan membaca puisi cinta.

"Hay,... apa yang kau fikirkan? Ayok kita pulang!"

Suara bising itu sungguh mengagetkanku, tapi aku bersyukur sejelek apapun suaranya akhirnya menyadarkanku bahwa pengembalian buku yang tadi aku tenteng ternyata telah usai. Dalam perjalanan pulang, telingaku seolah tersumpal oleh renungan. Tak aku hiraukanlah dia, temanku yang sedang berbicara melebihi dosen yang melakukannya. Renunganku sepanjang perjalanan sebenarnya aneh, diantaranya seperti ini, mungkin karena akibat kebanyakan membaca syair-syair pujangga awalnya aku ingin jadi pujangga. Tapi sayangnya teman-temanku sudah menilaiku sebagai pujangga akibat tulisan yang aku posting di media sosial pribadiku.

"Nggak turun? Udah nyampe nih. Apa mau aku labasin ke kostku?"

Kembali aku terkaget, lamunanku ternyata mematikan alat indera. Diantaranya telinga yang tidak bisa mendengar tabuhan kenalpot sekaligus jeritan rem motor temanku. Tidak hanya itu, mata inipun hanya terbuka tapi entah apa yang terrekam di dalamnya. Terlebih hati yang semakin mati memikirkan perihal cinta. 

Aku tapaki tangga pesakitan, mungkin karena jarak antaranak tangga yang berjauhan. Ah,... kembali aku pada lamunan. Banyak sekali pertanyaan mengenai diriku. Tapi jika aku bertanya dan yang menjawab adalah orang yang sama apa itu tidak gila namanya? Aku ambil kunci untuk membuka rumah keduaku. Ada sedikit berisik yang tercipta dari kunci yang sedang berjuang agar pintu itu bisa terbuka. Aku buka sepatu beserta kaos kaki yang belum aku ganti sejak empat hari yang lalu. Kurehatkan badan ini pada tempat tidur yang hanya muat untuk satu penghuni yaitu diriku. 

"Katanya kamu pujangga? Emang bener?"
"Katanya kamu sedang memiliki cinta untuk sang pria yang kau cinta semenjak masa sma, apa iya?"
"Kenapa sampai sekarang dia belum mengetahui cintamu?"
"Apa kau belum mengatakan perihal rasamu padanya?"
"Katanya kau pujangga?"
"Apakah aku harus memanggilmu Pujangga Yang Tak Bisa Berkata Cinta?"

Booomb, aku banting telepon genggam yang selama aku berrehat berada di atas perut untuk menyadarkanku dari lamunan yang kembali mematikan diriku. Kekesalanku memuncak tatkala pertanyaan-pertanyaan itu tiada bisa aku elak. Seketika cermin kecil yang berada di atas meja ku ambil dengan penuh bara. Cermin datar dengan bayangan yang seharusnya nyata ternyata tidak terjadi pada waktu aku berkaca. Aku lihat, yang ada di dalam cermin lebih baik daripada aku yang sedang menampakkan pribadi buruk rupa dihadapan cermin tanpa ada orang lain yang mengetahuinya.

"Sudahlah, jangan kau salahkan dirimu hanya karena cinta. Kau tiada berbeda, buktinya kau memiliki cinta dan rasa pada orang yang kau suka! Kau benar-benar pujangga menurutku, karena kau bisa menuliskan segala perasaanmu lewat kata yang belum tentu semua orang bisa menerjemahkannya, termasuk orang yang kau suka. Itulah sebenarnya yang membedakan dirimu dibanding lainnya."

Ucap sosok dalam cermin yang sangat mirip denganku, namun seketika sosok itupun hilang. Tinggallah sosok buruk rupa yang lekas pudar menjadi apa adanya dia sejatinya. Menawan dengan segala cinta yang dia sembunyikan hingga suatu saat akan ada seseorang yang tersadarkan sebagai pemilik cinta yang tersimpan.

Umy Amanah

Cerpen : Jadi Napas? Aku Tidak Mau

Cerpen : Jadi Napas? Aku Tidak Mau
Sungguh hari ini aku mengakui bahwa sebuah lagu benar-benar bisa menghipnotis pendengarnya. Salah satunya saya, yang seminggu ini sedang tergila-gila mendengarkan tangga lagu laptop pribadi saya. Terlebih lagi saya sedang suka lagu melo yang sejujurnya bukan selera saya, mau bagaimana lagi, mungkin juga karena didukung perasaan hati. 

Alah, sedang berbicara apa sebenarnya aku ini. Berlanjut dengan lagu-lagu yang syairnya mengharuskanku untuk diam menjadikan bising di luar sana benar-benar tiada sedikitpun aku dengar. Ada beberapa lagu yang merasuk dalam relung kalbu, itulah lagu yang memiliki syair napas dalam hidup.

Pengibaratan kita akan sebuah napas kehidupan sejujurnya sedang menghipnotis diriku. Tapi kenapa tiba-tiba aku terdiam, merenung, dan lama-lama aku tak sudi menjadi napas. Petir apa yang seketika menyambar nuraniku untuk menafsirkan sebuah napas kehidupan. Hatiku seketika bertolak untuk mengibartkan bahwa aku adalah napas untuk yang mencintaiku. Adakan yang mencintaiku? Itu tidak perlu aku jawab sebenarnya.  

Akan aku ceritakan ketidakmauanku menjadi napas kehidupan adalah hanya karena aku tidak mau seperti napas. Karena menurutku, napas ibarat sesuatu yang tidak akan pernah kembali pada orang yang telah menghembuskannya. Padahal, orang yang menghirup napas adalah orang yang atas seizin-Nya diberi kehidupan lantaran kita (napas) dan dengan itu tentu saja kita harus siap untuk kehilangannya dan tanpa dia sadari dia pula harus siap kehilangan kita (napas) padahal dia berkata bahwa kita adalah yang dicinta. Kehilangan hanya dengan waktu yang singkat kala kita telah memberikan hidup untuk dia yang mencintai kita dengan tanpa sadar harus acap kali siap kehilangan orang yang katanya paling dia cinta. Itu saja, 

Umy Amanah

Cerpen : Saat Dia Adalah Kamu

Cerpen : Saat Dia Adalah KamuTombak tatapan sepasang mata wanita yang duduk di sebelah sana sungguh menakutkan. Terlebih tatapannya yang ditujukan untuk mega yang menaunginya sore ini. Apa itu adalah sebuah protes akan gerimis atau guyuran hujan yang tiada diturunkan sore ini? Entahlah akupun tiada mengetahui. Aku geluti gelagatnya dengan berpura-pura sedang membaca buku pesona kata. 

Sesaat lirikanku kembali mengarah pada wanita yang ternyata sedang menunggu dering alat komunikasi yang dimilikinya. Wajahnya tertunduk tiada kutau, kursi yang sesekali berbunyi karena kecemasan dari yang menduduki, hingga angin mengiringi dengan bertiup kencang seperti hembusan nafas yang wanita itu keluarkan.  

Kriiiiiiinggggg,..... Tiba-tiba telepon wanita itu berbunyi. Segala bentuk persiapanpun dilakukan wanita itu sekedar hanya untuk mengangkat telepon yang sudah bergetar beberapa kali. Senyum manis terlihat dari wajahnya, sungguh itu mempersulit diriku untuk menafsirkan siapa sebenarnya yang menelfon wanita yang sedari tadi kupandangi penuh rasa ingin tau. 

Sejenak aku menunduk untuk kembali melanjutkan membaca buku bacaan yang aku kesampingkan. Sayangnya tiba-tiba suara wanita itu terdengar sampai ke tempatku. Buku yang aku pegang seolah bergetar tanpa ada gempa sebelumnya. Mataku berkedip untuk bersiap memandang dalam waktu yang lama, mulutku diam tak bersuara hingga telingaku kupasang awas-awas untuk menguping pembicaraannya.

Ternyata wanita itu sedang berkomunikasi dengan seorang pria. Banyak sekali perbincangan yang mereka lakukan hingga bungan sore menutuppun tiada wanita itu ketahui, kemudian langit yang berubah pekatpun tiada wanita itu hiraukan hingga dirinya tersadar bahwa waktu malam telah menjelang kala lampu samar penerang balkon itu oleh temannya dihidupkan.  

Pengakhiran sebuah perbincangan hanya mereka akhiri dengan salam perpisahan. Kembali kulihat wajah lesu tanpa gairah kehidupan, badan yang disenderkan pada kursi yang selalu berbunyi penuh beban. Sayangnya aku tak bergegas menyimpulkan, karena seketika wanita itu berbicara sendiri. Kukuping isi pembicaraannya, namun saat aku mengetahui ringkas cerita perbincangan wanita itu dengan seorang pria yang baru saja menelponnya sunggu tak ingin sebenarnya aku mendengarkan. Jujur saja ternyata sangat mengharukan. 

Aku dengar wanita itu berbicara sendiri dengan lirih " Meski hanya sebentar kita berucap mengenai ini itu, tentang dia yang aku suka dan tentang dia yang kamu punya. Betapa terlukanya aku saat harus menggunakan kata ganti dia yang sebenarnya adalah dirimu, seseorang yang selalu membuatku memiliki cinta tanpa kau tau bahwa yang selalu aku ceritakan DIA adalah KAMU". Begitulah ringkas cerita yang mampu telingaku rekam meski sebenarnya sangat menyakiti telinga. Bukan tentang suaranya, tapi perihal cintanya yang begitu luar biasa. Mampu terluka tatkala waktu masih belum mengizinkan akan cinta yang nantinya diketahuinya (sang pria). Selamat berjuang dengan cintamu yang sebenarnya menyakitimu wahai wanita, ingin sekali kusampaikan rasamu pada si pria itu hingga pria itu tersadar betapa beruntungnya dia memiliki cinta darimu.

Selamat membaca

Umy Amanah

Saturday, September 13, 2014

Cepat Kemari Sebelum Aku Beranjak Pergi...!

Sendiri, wanita sendiri, menunggu, menunggu seseorang, waiting someone
Ternyata seseorang telah membuatku tak merasa bahagia secara lama. Sayang, aku baru sadar akan hal itu semuanya, KINI. Maafkan aku sang waktu, yang telah melupakanmu, menganggap semuanya begitu cepat, secepat detik meninggalkan jejaknya tanpa bekas yang tersisa, tanpa sadar telah begitu jauh saat aku melihat kalender yang tercoret merah kisaran lima tahun lalu. Apa aku masih harus tak bahagia? Karena cinta? Bekas cinta malahan.

Sayangnya aku merugi, tak seperti dia yang beruntung karenaku, karena cintaku tentunya. Bukannya cinta itu bahagia, seperti banyak pendapat tertoreh dalam teori para pemain perasaan yang sedang terbuai oleh keindahan cinta. Apa mereka belum pernah mengetahui bagaimana cinta itu menggoreskan luka? Ah ,... aku jadi semakin tak percaya mengenai perasaan suka. Apa ini tandanya bahwa perasaan suka berbeda dengan sayang? Ah apalagi itu, aku sungguh tak mengetahuinya.

Lima tahun lalu itu sebentar, saat semua kenangan masih terpotret jelas dalam kamera mata dan disimpan dalam hardisk hati yang tak pernah terganti. Namun sangat lama saat kita melihat waktu meninggalkan luka seperti virus yang memasuki hardisk hati yang tak bisa tergantikan. Biasanya hanya pembuangan memori yang harus dilakukan demi memperbaiki keadaan, tapi membuang memori itu sangat disayangkan. Apapun itu, baik memori saat dia membuatku memejamkan mata dan merasa semuanya masih terang, bahkan membuatku gelap gulita saat aku membuka mata.

Aku hanya ingin sedikit mengulang potretan-potretan yang tersimpan dalam hardisk hati yang selama ini masih, meski kekuatan hardisk dalam penyimpanan telah digerogoti virus dari apa yang menjadi perjalanan hidup. Lima tahun lalu ternyata menjadi pertemuan tersingkat dalam sejarah pettemuan yang berkelanjutan. 

Dua minggu dalam bayang perkenalan ternyata menjadikan kita lupa bahwa kita belum mengenal untuk lantas melanjutkan. Sayangnya kita geganah, menjadikan suatu perasaan tak pernah terpungkiri bahkan ditolak untuk memasuki relung hati. 

He : Hay,... aku "He". 
She : Ooh ya. Hay "He".

Terlalu singkat memang menceritakan awal dimulainya perkenalan secara seperti itu, tapi ketahuilan bahwa itu yang terpadu. Hingga menjadi sebuah perjalanan panjang memasuki apa yang kita akan jalani. Ketika sebuah perkenalan menjadi awal sebuah perasaan tak sama seperti yang lainnya, inilah yang membuat keduanya beruntung pada masanya.

He : "Aku sayang sama kamu, kamu mau jadi pacar aku?"
She : (dengan nada malu si "She") "Iya aku mau."

Ini lebih singkat lagi bukan, karena perlu diketahui, bahwa untuk mengungkapkan hal itu, kita hanya perlu dua minggu setelah perkenalan awal di atas. Bukannya itu terlalu singkat dalam sebuah keputusan. Ah apapun yang kita lakukan waktu itu seolah semuanya hanya menuruti kata hati yang keduanya memang baru pernah merasakan perasaan yang berbeda dari biasanya.

Penciptaan sebuah ikatan dengan perkenalan singkat ternyata menjadi awal kita menjalani sebuah status tanpa tau status apa sebenarnya itu. Kenyamanan, kebahagiaan, kesukaran, kegokilan, pengertian, pemahaman serta air mata menjadi warna dalam setiap cerita keduanya "He and She". Tak sesempurna seperti yang lainnya memang, sayangnya itu menjadi sesuatu yang tak pernah luput untuk dikenang.

Sayang, keretakan dalam sebuah hubungan takan pernah terpinggirkan. Dengan komitmen serta keputusan tanpa penyesalan menjadikan keduanya tak bisa dianggap menjalin status yang keduanya saja tidak tau status apa itu. Kesendirian masing-masing kala itu sungguh menyakitkan, layaknya duduk menangis tanpa ada bah di sampingnya, dan saat kita menoleh berharap ada seseorang yang tersenyum menyediakan bahu dengan genggaman erat tangan ternyata semuanya kosong. Hanya ada angin yang selalu menyapu kedinginan hati yang tak pernah terganti.

Tiga bulan telah terlewati, seolah tanpa cerita yang pantas tuk tertulis dalam buku karena hanya pikiran kekosongan dan flashback kenangan tak terlupakan. Tanpa komunikasi, bertatap, berpapas, berdialog dan ber-ber yang lain kita seolah seseorang yang baru kenal lagi kala itu. Seperti awal, persis saat perkenalan menjadikan sesuatu yang berkelanjutan.

He : "Hay,...Lama nggak ada kabar?"
She : "Iya nih, kamu juga lama nggak ada kabar." (seolah menahan kecamuk untuk mengatakan kapan kamu pernah menanyakan kabarku, memandangku, berjalan menghampiriku, menoleh kepadaku dan menatapku tajam seperti dulu, tiga bulan lalu).
He : "Iya nih, gimana kabarmu?"
She : "Baik, kamu gimana?"
He : "Baik juga, kok kita jadi kek orang berantem ya akhir-akhir ini?"
She : "Mungkin cuman ngerasa canggung aja."
He : "Ya mungkin."
..................
..................
Kemudian percakapan itu berlanjut, menembus angin yang biasanya menyapu kenangan seolah menahannya untuk kemudian memberitahunya bahwa kami berdua sedang mengenang masa yang tak pernah terfikirkan. Saat itu semua luka seolah hilang, kesendirian, ksedihan terganti menjadi senyum tak pernah terpalingkan. Hingga pagi menyambut dini hari sosok pertama dalam perkenalan itu seolah muncul kembali, tetap dengan orang yang sama.

He : "Apa kamu masih sayang sama aku? Seperti apa yang aku rasakan untukmu."
She : "Apa harus aku jawab, jika dirimu saja masih merasakan apa yang telah terlewatkan?"
Ternyata percakapan itu kembali mengantarkan kita kembali ke masa dimana kita saling memahami, sepeti kita yang meski tak ada kata kejelasan untuk status berikutnya setelah percakapan itu tapi kita memahami untuk kembali seperti dulu.
Setahun perjalanan cerita tak terdefinisikan menjadi goresan warna keruh dan terang jika digambarkan melalui kuas dalam kanvas. Sayangnya aku tak bisa membagikan segala potret yang tersimpan rapi dalam hardisk hati tak pernah tergantikan. Aku sadar, hari iu hanya selisih tiga hari dari hari dimana banyak orang mengatakan itu hari "One Year Anniversary" belum sempat merayakan atau mensyukuri segala yang telah terlewati ternyata keegoisan serta gengsi idiologi dari keduanya menjadikan semuanya nyata, ya pemutusan dari sebuah hubungan panjang yang tak pernah tergantikan.

She :"Maaf, baru bisa bales sms kamu. Tadi pas latihan hp nya mati, aku juga bru sampai di rumah."
He :"Nggak di bales juga nggak papa."
She : (cape membuatnya tak terkendali, bersamaan dengan emosi dia tak terlebih dahulu mempertimbangkannya hingga terucap) Kalau udah nggak bisa ngertiin aku yah udah kita putus aja, udahan. Emang kita udah nggak cocok kan, kamu nggak bisa ngertiin aku dan aku nggak bisa ngertiin kamu."
He : "Okay kita putus."

Jawaban "He" memang jelas, singkat, padat dan tanpa tau bahwa aku hanya perlu waktu untuk kamu memahami segalanya, menjawab tanpa membalas ego dari diriku yang tak terkendali. Sayangnya itu menjadi kata terakhir yang diungkapkannya. Karena tanpa sadar ternyata kita seperti musuh setelah itu.

Tanpa sapa, tatap, memandang, boro-boro untuk bercanda dan bercengkerama jika untuk berkata di hadapannya saja aku tak menyanggupinya. Seolah penyudahan sebuah hubungan waktu itu benar-benar menyudahi segalanya. Menyudahi kontak, sapa, salam, tatap, berkata, bercengkerama dan segalanya yang sebelumnya tak pernah ada. Aku tak pernah berharap banyak padanya, hanya dalam doaku aku selalu berharap bisa menjaga hubungan baik dengannya tanpa khuatir akan lebih dari hubungan teman. 

Sayangnya semuanya terkesan tertutup dan keduanya sama-sama seakan melupakan segalanya yang pernah ada. Aku tak pernah tau isi hatinya, pikirannya dan pilihannya. Namun apapun itu, aku hanya ingin mengungkapkan sesuatu yang tak pernah tersampaikan padanya.
"Terimakasih engkau menjadi yang pertama yang telah mengajariku rasa yang berbeda dari biasanya."

Sebenarnya dari dulu aku ingin mengucapkan itu, langsung padanya. Sayangnya waktu tak pernah mengijinkan. Seperti angin yang takan bisa dikenali mana yang pernah menyentuh kita untuk berusaha menghilangkan keringat dari fisik manusia. Aku selalu berpendapat bahwa :

"Betap beruntungnya dia yang aku cinta, dan betapa meruginya aku mencintainya."

Ketahuilah jika saat ini kamu menoleh padaku, rasa itu takan pernah hilang dari awal pertama kamu mengungkapkan hingga kini yang hanya aku yang bisa merasakannya. Aku tak pernah berdoa lebih untuk menjadikanmu seperti dulu, hanya aku berdoa semoga apa yang aku rasakan masih tetap sama seperti ima tahun lalu (hanya untuk sampai malam ini saja). 
Jangan salahkan aku, jika suatu saat kamu membaca curahan katiku dan memahami itu, aku telah beranjak dari apa yang telah membuatku sampai enggan menunggu. Karena aku hanya takut waktu akan membuatku meninggalkanmu dari menunggu serta membawaku pada ajakan sosok lain yang tak suka melihatku terpuruk dan menunggu.


Umy Amanah

Thursday, February 13, 2014

AKU BENCI DIBANGUNKAN

Umy Amanah
                 Umy Amanah pagi ini berjalan sekeren apa yang dia inginkan. Memakai kostum jurnalistik dan atribut lengkap dengan ID Card melangkahkan kakinya pada kegelapan. Kegelapan adalah sebuah suasana dimana hanya ada dalam sebuah negeri yang sangat dia cintai, sayangnya itu bukanlah yang dirinya kehendaki.

Suatu ketika Umy bertemu dengan seorang temannya, Endru sapaan akrabnya. Kedua sosok seprofesi ini bertemu di depan sebuah gedung dimana kewibawaan gedungnya saja kini telah hancur, tidak bisa membayangkan hancurnya orang-orang di dalamnya bukan? Ah coba tinggalkan itu! Dengan perlengkapan jurnalis, keduanya duduk di emperan jalan dengan menyantap seporsi rames yang dirasanya seperti suport asupan tenaga pagi yang membangunkan.
Lepas dari itu semua, ternyata mereka berdua menanti sosok kontraversi minggu ini yang memang sebagai tranding topic pembicaraan seluruh lapisan masyarakat. Dialog antara Umy dan Endru selepas menyantap sarapan pagipun tak terelakan.
Umy         : “Masih banyak yang kayak gini nggak ya? “
Endru       : “Ah,... apanya? Bisa hancur lah negeri kita ini.”
Umy         : “Dari dulu memangnya belum hancur?”
Endru       : “Yang aku lihat si setengah-setengah.”
Umy         : “Apa maksudmu ini?”
Endru       : “Ah lupakan!”
Mengakhiri pembicaraannya Endru langsung membuka note pribadinya untuk memeriksa kembali daftar pertanyaan yang akan diajukan pada narasumber yang dia dan rekannya tunggu-tunggu dari pagi. Tidak seperti Endru, Umy malah asyik dengan situs pribadinya. Saat diingatkan, ternyata belum ada satu daftar pertanyaanpun yang ada dalam note pribadi Umy. Padahal, kalian ketahui saja bahwa rekan Endru ini yang sering dipanggil Umy kesehariannya dia selalu mengatakan impiannya menjadi Agent Of Change.
Lewat dunia jurnalis, Umy memang berkeinginan menjadi agen perubahan negeri ini. Kemirisan akan apa yang ada didalamnya menjadikan hatinya berontak, kemauannya menjadikan negeri ini lebih baik dengan jalan jurnalis yang ada dalam darahnya memang membara. Menurutnya negeri ini bisa dirubah dengan kata-kata. Seperti selogan jurnalisnya “Hebatnya jadi jurnalis itu bisa mengubah dunia hanya dengan kata-kata” itu yang selalu dirinya inginkan.
Tepat pukul 08:00 WIB dirinya dan Endru rekannya bangkit dari posisi duduk pada awalnya. Semua rekan-rekan yang ada dalam lokasi tersebut semua berlarian dan berhamburan tepat di pintu masuk gedung dengan embel-embel lembaga peradilan hukum tertinggi itu. Berlari mengejar sosok yang telah kehilangan kewibawaan memang menjadi tugasnya untuk mendapatkan apa yang masyarakat perlukan. Tepat sekali, sebuah informasi skandal kehancuran pimpinan elit negeri ini.
Hujan pertanyaan dari rekan-rekan seprofesinya memang mempersempit kesempatannya untuk bertanya meski hanya satu pertanyaan. Terlebih postur tubuh dirinya yang tidak terlalu tinggi juga menambah pelik apa yang dirinya hadapi. Tak mau dikonfirmasi, sosok yang telah kehilangan kewibawaan itu terus dikawal polisi menuju persinggahannya. Rekan seprofesinya mungkin banyak yang menyerah karena tidak ada satupun kalimat yang keluar dari Hilang Wibawa, begitu kami memanggilnya di belakang.
Saat semua rekannya mundur dan kembali pada tempat semula sebelum tokoh kontrofersi itu datang, Umy tetap berdiri melihat Hilang Wibawa berjalan dengan kawalan ketat. Tanpa dibekali satu pertanyaan dalam note pribadinya, dia memberanikan diri menanyakan satu pertanyaan.
Umy           : “Pak, satu pertanyaan saja dari saya. Apa Tuhan menangis melihat apa yang anda lakukan untuk negeri ini?” (Teriaknya sebelum Hilang Wibawa memasuki gedung yang telah rontok kewibawaannya itu).
Endru         : “Hih kamu, itu bukan pertanyaan seorang jurnalis lah. Yang benar saja kau ini!” (Tadah keras Endru yang waktu itu masih berdiri bengong disampingnya).
Saat mendengar ada pertanyaan seperti itu, semua rekan profesinya menengok heran. Tak ada pertanyaan seperti itu sebelum-sebelumnya. Semua rekan profesinya kembali gencar menyoroti Hilang Wibawa dengan perlengkapan jurnalisnya. Terlihat memang putaran kepala sekitar 1300 Hilang Wibawa, mungkin karena heran atau merasa bersalah. Entahlah, karena Umypun tak sadar bahwa pertanyaan yang dia lontarkan telah membuat semuanya terkejut.
Jepretan flash kamera terus menyoroti dirinya dan sang tokoh kontrafersi Hilang Wibawa. Semua jurnalis yang ada disitu berinisiatif bahwa jika kejadian tersebut diberitakan akan menjadi berita terpopuler seketika itu juga. Sayangnya, dari semua ketidaksengajaan apa yang terjadi di luar pintu masuk berkaca itu, Hilang Wibawa kemudian meneruskan langkahnya untuk memasuki gedung yang memang sebagai tempat dirinya bekerja semula.
Semua awak media kini menyoroti dirinya, penasaran kenapa sampai keluar satu pertanyaan yang mematikan. Kini profile pribadinya muncuk dimana-mana sebagai headline berita dan lainnya. Banyak memang yang menyoroti kalimat pertanyaan Umy pada hari itu, sorotan pendapat dari berbagai kalanganpun bermunculan. Saat dirinya semakin buming menyaingi tokoh kontrafersi Hilang Wibawa, banyak orang berpendapat bahwa jarang sekali seseorang berfikir sebuah pertanyaan pemberitaan mengaitkannya dengan Tuhan.
Setelah kejadian itu, Endru datang ke ruang kerjanya. Seperti biasanya, terlihatlah sosok sederhana di depan monitor kerjanya.
Endru       : “Gila, jadi tranding topic pekan ini.”
Umy         : “Ah biasa aja, nggak ngaruh buat aku sebelum ada jawaban tuh dari Hilang Wibawa.” (Jawabnya sembari mengupdate situs pribadinya).
Endru       : “Sial, kaya gini kamu pikir biasa aja?”
Umy         : “Iyalah, semua masih biasa sebelum ada perubahan di negeri tercinta ini.”
Endru       : “Aku yakin, sebentar lagi bakalan ada perubahan dari kata-kata kamu, seperti opsesimu.”
Umy         : “Masih inget prinsip jurnalis aku?”
Endru       : “Iyalah, gini kan Hebatnya Jurnalis Itu Bisa Mengubah Dunia Hanya Dengan Kata-Kata.”
Umy         : “Exactly, itu inginku. Eitz,... tapi sebelum mengubah negeri ini dan dunia aku hanya sedang berusaha mengubah diriku sendiri.”
Endru       : “Nggak lama lagi kamu pasti bakal mengubah negeri ini, dengan kata-katamu itu. Hahaha,...” (candanya).
Benar, tak lama setelah perbincangan keduanya, Umy menjadi sosok fenomenal negeri ini, banyak diundang sebagai narasumber atas apa yang telah dia keluarkan lewat kata-kata. Tak terpikir sebelumnya bahwa Umy akan menjadi seseorang yang punya segudang jadwal undangan seperti sekarang ini, berbeda dengan jadwal kesibukannya dengan jadwal mengejar-ngejar berita. Kini khalayak menerima baik apa yang dia lakukan, banyak sekali yang mengapresiasi dengan baik.
Menjadi sosok fenomenal dan sedikit merubah negeri ini dari para Hilang Wibawa memang menjadikannya banyak menerima penghargaan, diantaranya yang hari ini akan dia terima. Penghargaan sebagai Tokoh Muda Inspirasi Negeri. Saat nama lengkapnya dipanggil untuk menuju podium, dengan teriakan Umy Amanah. Sayangnya banyak yang aneh, Umy merasa dia tidak disambut baik, seperti ini.
Ibu           : “Umy, Umy, Umy,..... Bangun, bangun, bangun! Setiap kali liburan sekolah, kamu selalu bangun jam 10. Cepet bangun!” (Teriak ibunya marah-marah membangunkan).
Umy         : “Aaaaghhhhhhhrrrrrrr...... Mamah, sebentar lagi aku mau jadi Tokoh Inspirasi Negeri ini, kenapa mamah bangunkan aku?” (Kekecewaannya mendalam karena gagal mendapatkan piala tokoh inspirasi yang sebentar lagi akan diberikan pada dirinya dalam mimpi).
Ibu           : “Oh ternyata kamu lagi mimpi? Kebanyakan tidur si, liat udah jam 10, cepat bangun, mandi!”
Umy         : “Mamaaaaaaaaaaah...... AKU BENCI DIBANGUNKAN!” (Marahnya Umy pada Ibunya yang membangunkannya dari mimpi terindahnya).
Beranjak dari tempat tidurnya, Umy lekas melakukan apa yang Ibunya perintahkan. Terlepas dari kemalasannya, Umy tetap anak perempuan yang menurut pada Ibunya. Meskipun dirinya sangat marah pada Ibunya karena telah membangunkannya dari mimpi terindahnya, namun hanya sesaat. Karena dirinya telah bersyukur bisa merasaakan menjadi apa yang dia inginkan di dalam mimpinya. Umy percaya bahwa masa depan yang besar dalam hidupnya berasal dari sebuah mimpi yang menjadikan kita berusaha untuk merealisasikan mimpi itu.

THE END
(Umi Amanah)
Facebook : Umy Amanah / www.facebook.com/UmyAmanah26
Twitter : @Umy_Amanah26 / www.twitter.com/Umy_Amanah26

Saturday, December 7, 2013

Senja Sore Itu

Senja itu tepat ketika matahari berwarna merah tuk menutup matanya, menandakan bahwa hari itu tugasnya telah selesai memberi warna dalam hidup ini, memberi senyum dan memberi perasaan cinta pada seorang gadis yang menginjak masa dewasanya. Gadis yang semua laki-laki mengatakan parasnya yang manis, ramah dan pintar pastinya, dia bernama Reisha. Mungkin perasaan yang aneh kini muncul dalam hatinya. Di teras rumahnya kala itu dia melihat laki-laki yang berjalan di depannya, dengan kegantengan wajahnya Reishapun melihatnya tanpa mengedipkan mata. Ketika ia tak sadar memandanginya lebih dari yang dia fikirkan Adzan Magrib kala itu berkumandang. Rasa yang aneh kala itu mulai menggangunya, dimana dia merasa bahwa ada perasaan suka ketika ia melihatnya, entah apa yang difikirkannya. Tanpa tahu namanya dia terus memikirkannya.
Malam berlalu dengan mimpi yang indah, Reisha berharap pagi ini kan menjadi awal bahagia dalam hidupnya. Ia tak salah karena ketika ia sedang duduk di halte yang biasa untuk menunggu angkutan, nampak dari jauh sosok senja itu (laki-laki yang lewat di hadapannya sore itu) muncul dengan sepeda Poligonnya. Entah apa yang difikirkannya kala itu, namun angkot telah berada didepannya. Rasanya tak ingin sekali meninggalkan kesempatan tuk sekejap kembali memandanginya.
Turun dari angkot mata Reisha tak berkedip ketika melihat sepeda Poligon yang terparkir di depan sekolahnya dan dia meyakini bahwa sepeda itu adalah milik laki-laki itu, langkahnya perlahan berhenti ketika laki-laki itu keluar dari ruangan Kepala Sekolah. Dalam hati Reisha dia hanya berkata:”Apa mungkin dia anak baru?” Reisha hanya berharap itu yang kan terjadi. Bel masuk berbunyi dan ia bergegas masuk ke kelas kala itu. Duduk dengan teman sebangkunya, ya dia adalah Ana. Kala itu Pak Haris sebagai guru Bhs. Indonesia masuk dengan didampingi laki-laki yang membuatnya aneh. “Dia,….. Siswa baru, mungkinkah, satu kelas sama aku?” (hanya kata-kata itu yang ada dalam hatinya saat itu).
Pak Haris :”Anak-anak ini teman baru kalian, silahkan kamu perkenalan!”(perintah Pak Haris singkat).
Rey                        :” Terimakasih Pak,… Teman-teman nama saya Rey Andrean pindahan dari sekolah SMPN 77 Jakarta. Semoga saya bisa betah disini dan bisa bergabung dengan kalian semua, terimakasih.”
Pak Haris            :”Baik, silahkan Rey boleh duduk di belakang Reisha.”(sambung Pak Haris sembari melanjutkan untuk memulai pelajaran).
Kala itu juga Rey langsung duduk tepatdi belakang Reisha yang tanpa Rey ketahui bahwa dia sangat mengaguminya. Perkenalan singkat dengan nama Rey Andrean dari Jakarta. Mungkin itu yang paling di hafal Reisha dalam hatinya. Bangku kosong yang ada di belakang Reisha menjadi tempat duduk  Rey kala itu. Detak jantungyang kian menggebu menandakan ada perasaan yang lain dalam hati Reisha untuk Rey. Konsentrasi Reisha buyar kala itu, karena yang ada difikirannya hanyalah Rey Andrean yang membuatnya terdiam ketika pertamakali melihatnya. Delapan jam waktu pelajaran berlalu bagai sekejap waktu karena perasaan yang membuatnya tidak seperti biasanya.
Kring,…. Kringggg,…. Kriiiiiinggggg, tanda pulang sekolah telah berbunyi. Semua anak bergegas meninggalkan kelasnya. Rey terbangun dari tempat duduknya dan sedikit melangkahkan kakinya tuk sekedar menjulurkan tangan pada Reisha kala itu.
Rey              :” Heyyyy ,….. siapa nama kamu?”
Reisha        :”Emmmm,…. Aaa, eee…. Nama saya Reisha.” (jawaban yang sangat gugup ).
Rey              :” Ok,…. Senang berkenanal denganmu?”
Reisha        :”Iya,….”(jawabnya kembali begitu singkat).
Rey kemudian meninggalkan kelas untuk bergegas pulang ke rumah dan kala itu juga Reisha menghela nafasnya panjang-panjang menandakan dia merasa tegang berkenalan dengan laki-laki itu atau yang biasa dipanggil Rey. Keluar dari kelas Reisha melihat parkiran sepeda dan berharap ada Rey yang sedang mengambil sepedanya, namun dugaannya salah sepertinya Rey telah pulang beberapa saat yang lalu. Tanpa diduga dia bertemu Ana, ya dialah teman sebangkunya. Reisha kagetkarena setau Reisha Ana telah pulang terlebih dahulu.
Ana          :”Hey,…. Kok baru pulang si?”(tanya Ana sambil memegang pundak Reisha).
Reisha     :”Hey,… aku kira udah pulang. Darimana kamu?”
Ana          :”Abis dari perpus nih ngembaliin buku.”
Reisha     :”Oh gtu,…. Ya ya.”
Ana          :”Eyah tadi di perpus aku ketemu Rey loh, itu si anak baru?”
Mendengar omongan Ana sontak Reishapun kaget namun ia tak mau menunjukan kekagetannya, karena hal itu bisa membuat Ana curiga akan perasaannya pada Rey. Muka yang merah menandakan ada sesuatu yang terjadi dengan Reisha, melihatnya seperti itu Ana bingung dengan sikap Reisha yang tiba-tiba berubah.
Ana          :”Reis kamu nggak apa-apa kan, ada yang salah dengan omonganku?”
Reisha     :”Emmmm,…. Enggak koh An.”
Ana          :”Ohhhhhh yah udah aku pulang dulu yah, bye,….?”
Reisha     :”Ok bye,….. hati-hati di jalan yah!”
Ana          :”Pasti, kamu juga ya!”
Reisha     :”Emmm iya.” Jawabnya singkat tatkala Ana telah meninggalkannya.
Rasa yanganeh tiba-tiba datang dalam hatinya, dia tidak suka mendengar kedekatan ana dengan laki-laki yang dia kagumi yaitu Rey. Dengan wajah lesu Reisha pulang ke rumah dengan kendaraan biasanya yaitu angkutan kota. Dalam kisah lain ternyata Ana dan Rey banyak kesamaan yaitu sama-sama suka membaca, suka graffiti, suka yang berbau teknologi dan berita. Kesamaan ini yang membuat mereka dekat. Kedekatan mereka tak ada artinya bagi mereka hanya sebatas dua orang yang memiliki banyak kesamaan. Namun di rumah Reisha wajuah yang lesu dan tak bergairah terus ditunjukan Reisha ibarat kata seseorang yang lagi patah hati. Senja sore itu Reisha duduk di teras rumahnya kembali dan berharap Rey lewat di depan rumahnya. Tak disangka Rey kembali lewat di depan rumahnya dengan sepedanya. Dengan nada sopan Rey menyapa Reisha.
Rey           :”Selamat sore Reis, lagi nyante yah?”(sapa Rey ramah)
Reisha     :”Hey,…. Iya nih. Kamu mau kemana?”
Rey           :”Mau ke rumah Ana, kamu mau ikut?”(tanya Rey dengan mengajak)
Reisha     :”Emmmmm nda lah, lagi males.”(jawabnya singkat dengan muka cemberut)
Rey           :”Loh memang keapa Ana juga teman kamu kan?”(jawab Rey dengan bingung melihat wajah Reisha yang langsung berubah)
Reisha     :”Ya si,…. Tapiiiiii……?”
Rey           :”Hemmm ya sudahlah, aku keasana sendirian.”
Dengan bingung Rey kembali melanjutkan perjalanannya dan kembali mengayuh sepedanya. Rey bertanya-tanya dalam hatinya mengapa sikap Reisha yang seketika langsung berubah ketika dirinya menyebutkan nama Ana di depannya. Ketika dalam perjalanan Rey memikirkan sifat Reisha yang berubah saat Rey meninggalkan Reisha, seketika itu juga Reisha kembali masuk ke dalam rumah dan wajah yang semakin cemberut ada padanya. Saat itu juga Reisha paham akan perasaannya, perasaan bahwa dia menyukai Rey. Orang yang pernah dilihatnya senja itu. Memikirkan perasaannya Reisha sampai melupakan tugasnya untuk belajar.
Pagi datang dan embun pagi yang dinginpun menetes pada dedaunan yang bergetar mengiringi langkah Reisha yang sedang bingung akan perasaannya. Halte tempat biasanya ia menunggu angkutanpun menjadi temannya dikala pagi berangkat sekolah dan pulang sekolah, atau tepatnya mendekati senja. Senja yautu suasana yangpaling dia banggakan, karena saat itulah dia mulai mengenal sosok seorang Rey yang kini menjadi teman sekolahnya.
Dalam penantiannya di halte ada dua yang dia tunggu yaitu bisa melihat sosok seorang yang sangat dia kaguni dan angkutan yang setia mengantarkannya ke sekolah. Namun pagi itu mungkin belum jadi keberuntungannya, tak ada sosok orang yang paling dia kagumi sampai angkut yangbiasa mengantarkannyapun datang. Sesampai di gerbang sekolah dia masuk melewati garasi sepeda yangbiasa untuk memarkir sepeda Rey. Sepeda Polygon telah terparkir dengan rapi. Dengan wajah yang gembira dia berjalan dengan cepatnya untuk melihat apakah Rey telah berada dalam kelas. Ketika dia membuka pintu kelasnya Nampak dua orang yangmembuat hatinya hancur. Mereka adalah Rey dan Ana yang sedang asyik bertukar pengalaman mengenai kegemaran mereka yang banyak kesamaan. Dengan mata berkaca yang mencerminkan perasaannya perlahan Reisha masuk dan duduk dibangku biasanya. Melihat Reisha, Ana dan Reypun menyapanya.
Ana              :”Hey Reis, tumben pagi banget?”
Rey               :”Emang biasanya siang?”
Ana              :”Ya begitulah teman sebangkuku…. Hahhahah.”
Rey               :”Hhahhah ya sudah,…..”
Reisha        :”Udah puas nyindirnya?”(jawab Reisha sedikit marah)
Melihat Reisha seperti itu Ana kemudian meminta maaf dan dia meyakinkan bahwa omongannya hanyalah bercanda hanya untuk menghibur Reisha. Namun Reisha tak terima dengan apa yang mereka lakukan. Reisha kemudian membenci Rey dan Ana. Namun dalam hati Reisha masih tersimpan banyak rasa saying dan cinta pada Rey yang tak mampu dia ucapkan sebagai sosok perempuan yang pintar dan cantik. Dengan kebenciannya pada Rey dan Ana diapun menjauhi mereka berdua. Dalam sisi lain apa yang dilakukan Reisha justru semakin mendekatkan Rey dan Ana. Tanpa Reisha sadari semakin hari Ana dan Rey semakin dekat. Mungkin karena kesukaannya banyak yang sama dan sebagainya.
Dua minggu telah berlalu kedekatan Ana dan Rey semakin dekat dan akhirnya mereka memiliki perasaan yang sama yaitu saling menyayangi karena kesamaan hobby dan kesukaan. Reisha tidak menyadari akan hal itu.
Senja itu tepat tiga minggu pertemuan Reisha dan Rey Andrean pada sebuah halte. Namun pada hari itu pula ketika pulang sekolah di halte itu Reisha melihat Ana yang sedang membonceng Rey pulang sekolah dengan sepeda Polygonnya yang biasa digunakan Rey. Menandakan telah ada hubungan lebih dari dua orang yang memiliki hobi yang sama dari sekedar teman. Senja sore itu pula yang mengiringi tetesan air mata Reisha cahaya pantul dari tetesan air mata yang Reisha jatuhkan menandakan matahari kini kan menutup matanya kembali seperti waktu itu.
Saat itu pula Reisha sadar bahwa SENJA SORE ITU telah membawanya pada sebuah awal pertemuan indah dan berakhir air mata kepergian, dimana sosok yang sangat dia kagumi dan sangat dia cintai telah menjadi milik orang lain yaitu temannya sendiri. Dia sadar bahwa cinta tidak harus selalu memiliki. Melihat Rey dan Ana bahagia dengan hubungannya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Reisha. Saat itu pula Reisha mengikhlaskan Rey untuk sepenuhnya menjadi milik Ana.
Meski sakit dia akan terus mengenang pertemuan SENJA SORE ITU ketika sosok yang datang senja itu sangat ia kagumi dan sangat ia cintai dan SENJA SORE ITU pula sosok seseorang yang sangat ia cintai dan ia sayangi dia relakan menjadi milik orang lain dengan berakhir kepergian yang menyakitkan. Tapi dengan itulah Reisha bisa memaafkan mereka berdua kala bercanda waktu itu di kelas.

Kata Mutiara:
“Dalam hidup, jangan terlalu berharap, karena untuk setiap 'Hello' akan selalu berakhir dengan sebuah 'Goodbye'”
Powered by Blogger.