Showing posts with label Cerita Jalan. Show all posts
Showing posts with label Cerita Jalan. Show all posts

Tuesday, November 17, 2020

Dream About Umroh (at Al Masjid an Nabawi)

Dream about al masjid an nabawi
This place look so similar when I did pray in my dream

    First of all, I'd say thank you especially to Allah Swt., thank you for gave me a beautiful dream that I could asked for. Allah, thank you so much for gave me a dream such an Umroh. This dream just happened 30 minutes ago when I write this story. I fell a sleep after Magrib and woke up at 9.45 pm cause I'm so exhausted. I knew that I haven't pray Isya yet, but the dream that Allah Swt. gave to me was so special. I'm glad that Allah Swt. gave that dream to me. 

    I'd explain to you how beautiful it was. Honestly, I just confused what happens when I'am in my dream. I just remember I'am standing at Masjid Nabawi and praying. After pray, my eyes just look around the Masjid and see the most beautiful Masjid I've ever seen in my life. And I'd never forget that my guide is a boys (literally a kid). He was telling me about everything that I see at Masjid Nabawi. He tell me about the way how I can go to the resting place of Prophet Muhammad saw., and explain everything about pillar of Umroh, tell me about the history of Masjid Nabawi, where the Jabal Uhud and everything. I just amazed for everything that I can see around Masjid Nabawi. Me and my group, of course with our guide walking to all the places around Masjid Nabawi. The one thing that I can't understand is why Masjid Nabawi was so empty, so that make me and group can walk around with comfortable (maybe because of this pandemic in real). Finally, I am standing in front of the gate of Masjid Nabawi and smiling. And then I woke up from sleep. 

    Of course, I was smiling after woke up from sleep, took a bath, and did Isya. But, the feel about this dream I think I can't never forget. Thank you so much Allah for everything that You gives to me. Alkhamdulillah (All praise is for Allah Swt.) Aamiin. 


Surakarta, 17 November 2020

Saturday, August 4, 2018

Lombok, 27-30 Juli 2018

Lombok International Airport
Melihat postingan terakhir saya di blog ini rasanya sudah terlalu lama. Seketika, saya jadi ingin berbagi pengalaman mengenai perjalanan saya ke Lombok selama empat hari tiga malam. Anggap saja tulisan ini untuk memperbarui draf entri sekaligus berbagi cerita jalan yang dulu sering dilakukan namun tiba-tiba menjadi seperti terlupakan.

Masih ingat tentang gema berkekuatan 6.4 SR yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat pada 29 Juli 2018 lalu? Iya, waktu itu saya sedang berada di sana. Perjalanan saya untuk mengikuti acara "Seminar Antarbangsa: Arkeologi, Sejarah, Bahasa, dan Budaya di Alam Melayu" menjadikan saya salah satu orang yang merasakan gempa tersebut. 

Kepanikan terjadi pagi hari saat banyak orang bersiap memulai aktifitasnya. Waktu itu saya sedang mempersiapkan untuk mengikuti hari kedua acara seminar. Penginapan saya berada tepat di pinggir Pantai Senggigi, salah satu destinasi wisata favorit wisatawan yang datang ke Lombok. Mengingat posisi penginapan dan gempa yang datang tiba-tiba, saat itu saya hanya bisa berdoa dan memohon ampun kepada Allah Swt. 

Pascagempa pertama yang kemudian disusul gempa-gempa selanjutnya menjadikan saya dan kawan-kawan tetap berangkat ke acara seminar. Acara pun tetap berlangsung lancar meski gempa yang terjadi hari itu sedikit membuat panik. Hanya, pada pertengahan hari kedua seminar sempat dihebohkan dengan berita-berita yang muncul di media. Hal tersebut menjadikan beberapa keluarga yang berada di Jawa menjadi sangat khawatir. 

Komunikasi yang dilakukan lebih sering daripada biasanya diperlihatkan tidak hanya oleh saya, namun beberapa kawan-kawan pula. Hal ini terjadi karena banyak sekali peserta seminar yang berasal dari luar Lombok. Meski demikian, acara seminar tetap berjalan lancar sampai penutupan. Selebihnya, Lombok kembali tenang dan para peserta menghabiskan sisa waktunya dengan mengunjungi tempat wisata populer di Lombok. 

Perjalanan kemarin benar-benar memberi saya pelajaran, yaitu bahwa kematian memang sangat dekat dengan saya. Hal itulah yang dapat saya ambil dari perjalanan saya. Sekarang, saya perlu menghargai waktu yang telah Allah Swt. anugerahkan kepada saya. Selain itu, saya harap perjalanan ke Lombok seminggu lalu dapat mengajarkan kebaikan dan menjadi yang paling dirindukan untuk kembali. 

Surakarta, 4 Agustus 2018 
Nik Abdul Rakib Bin Nik Hassan
Bertemu dengan Nik Abdul Rakib Bin Nik Hassan (Head, Nusantara Studies Center)
Pantai Senggigi, Lombok, NTB
Pesawat Republik Indonesia
Pesawat Republik Indonesia
Lombok International Airport (29//7/2018)

ASBAM ke-7 2018
Pemakalah ASBAM ke-7 2018
(Mahasiswa pascasarjana kecuali saya)
Dr. Kathryn Wellen (Kitlv, Leiden)
ASBAM ke-7 2018
Pemakalah ASBAM ke-7 2018

ASBAM ke-7 2018
Acara Penutupan ASBAM ke-7 2018
The Jayakarta Lombok, Beach Resort & Spa

Thursday, February 11, 2016

Assalam Hypermarket Solo

Assalam Hypermarket Solo
Dari banyaknya perjalanan ke pusat perbelanjaan, jujur kemarinlah yang paling aku suka. Ditemani oleh @vera.savi , kami berdua memulai dengan makan siang yang di qada bersama sarapan. Kemudian kami berjalan dari belakang kampus menuju depan kampus kami untuk menemukan transportasi.

Menggunakan Bus Batik Solo Tras (BST), kami memulai perjalanan dari Kentingan menuju Sukoharjo. Lebih tepatnya ke Assalam Hypermarket. Iya, jauhnya jarak tetap tidak mengurungkan niat kami untuk pergi. Waktu tempuh keberangkatan yang hampir satu jam juga kami isi dengan amal, InsyaAlloh. Itu terjadi karena tempat duduk kami akhirnya kami relakan untuk ibu-ibu, dari satu jam mungkin hanya 15 menit kami duduk.

Super sekali perjuangannya ya? Itu semua karena satu. Iya, ada acara Pameran Buku yang ditambahi dengan kata "MURAH". Sangat menggiurkan sekali tentu bagi kami yang sedang menamai diri mahasiswa. Perjalanan membeli buku kami niati berjihad (mencari ilmu) karena Alloh ta'ala. Terbelilah tiga buku dengan harga cukup murah, hanya Rp 25.000,00 saja. Padahal, ilmu yang ada di dalamnya lebih dari itu. Kini saya sedang menghabisinya, iya buku-buku itu.

Nah salut saya. Saya baru pernah merasa bahagia sekali melakukan perjalanan ke sebuah pusat perbelanjaan. Kemarin itu, saya shalat dzuhur dan asyar tepat waktu. Meski saya sedang berada di pusat perbelanjaan. Itu karena, Masjid Assalam yang berdiri megah di samping pintu masuk pusat perbelanjaan memudahkan kami untuk mendekati Tuhan kami.

Biasanya, pusat perbelanjaan sebesar apapun, saya selalu kesulitan mencari tempat ibadah. Selain memang jarang ditemukan, kalaupun ada biasanya berada di pojok dekat toilet, lantai paling bawah gedung dekat parkiran, maupun lantai paling atas yang jarang sekali pengunjungnya. Malah, biasanya selain kotor, untuk jamaah beberapa orang saja tempatnya kurang. Kemarin benar-benar sebuah pengalaman yang menurut saya luar biasa. Meski banyak orang yang mengesampingkan ibadah saat menikmati dunia. Ternyata masih ada pihak-pihak yang berinisiatif sedemikian rupa dan itu saya apresiasi setinggi-tingginya.

Umi Amanah

Friday, December 4, 2015

Pesawat Terbang

Tiga semester ini aku pikir sudah lama untuk perihal memandang. Iya, terlebih memandang malam yang sesekali dihiasi kerlip lampu menari. Bersumber dari lampu pesawat terbang, banyak waktu yang aku habiskan hanya untuk melihatnya. Entah kebetulan, kost yang aku tempati ternyata memberikan tempat jemuran yang terbuka. 

Lima hari dalam satu Minggu pasti aku sempatkan untuk memandang malam. Awalnya memandang malam, lama-kelamaan memandang segala yang dimiliki malam. Sudah banyak bulan purnama terindah yang telah aku saksikan, bintang terbanyak yang aku pandangi sampai kemalaman, rasi yang selalu aku hubung-hubungkan, dan terakhir pasti kerlip lampu pesawat terbang yang aku ikuti sampai menghilang di balik awan. 

Akhir-akhir ini aku sangat suka memandang kerlip lampu yang diberikan pesawat padaku. Gradasi warna hitam malam, serta putih, hijau, kuning, merah, biru yang dimiliki pesawat menjadikanku berimajinasi liar. Iya, ide menjadi kebutuhan dalam menulis semua yang ingin aku tulis. Sayangnya barusan aku baru tersadar, bahwa yang selalu aku pandang belum sempat aku tuliskan. 

Kini saatnya, aku ingin menulis segala yang telah dianugerahkan Alloh Swt. lewat malam padaku. Tentang pesawat yang setiap saat aku dengar suara baling-balingnya, tentang refleksi capung yang kerap aku dengar kegagahannya membelah udara, tentang benda bersayap di angkasa sana yang selalu aku nanti-nantikan lampunya, dan tentang tumpangan terbesar yang bisa melayang dan aku belum pernah menaikinya. 

Aku berspekulasi, tentunya sebagai seseorang yang belum pernah naik pesawat. Pikirku, orang-orang di dalam pesawat yang terbang di malam hari tidak sebahagia orang yang berada di daratan bumi. Iya, ini berkaitan dengan pandangan mereka yang dibatasi baja dengan awan hitam di luar sana. Mereka tidak bisa memandang banyak manusia, padahal banyak manusia yang memandang mereka. Mereka juga tidak bisa memandang lampu pesawat yang mereka tumpangi meski tersaji bak bintang yang terus berjalan. 

Itu bentuk spekulasi dari seseorang yang belum pernah naik pesawat. Semoga suatu saat spekulasiku itu terbantahkan oleh diriku. Akan ada waktu untuk aku terbang, di manapun, kapanpun, serta untuk alasan apapun, dan semoga semua untuk kebaikan. Aku ingin terbang, aku ingin memandang banyak lampu dari atas sana, aku ingin membelah udara, dan aku ingin merasa memeluk awan. Suatu saat, akan ada yang sepertiku, menulis indahnya lampu pesawat yang berkerlip di malam hari dengan pesawat yang di dalamnya ada seseorang yang pernah menulis ini sebelumnya. Itu saja, 

Saturday, September 19, 2015

Ini Tentang Kecewa

Ini Tentang Kecewa
Sekian lama tidak menulis, agaknya aku bingung ingin memulai kalimat awal apa dan mengambil judul apa. Sayangnya, karena hari ini begitu berat, jadi aku mencoba memvisualisasikannya pada tulisan. Semoga saja kepalaku tidak meledak karena emosi dalam diri yang sejatinya tidak terkontrol lagi.

Ini tentang kecewa jujur saja. Iya, hari ini aku ingin sekali mencurhakan tulisan tentang kecewa. Wah masih bingung juga ini tentang kecewa, mengecewakan, atau dikecewakan. Satu kata, tapi dengan beberapa afiks itu maknanya jadi sangat berjauhan.

Kalau saja kata 'kecewa' itu sedang dalam mata kuliah Morfologi, wah tentu saja akan terjadi seperti ini,
kecewa => me + kecewa + kan
kecewa => di + kecewa + kan
Itu, sederhananya dalam Morfologi, dalam hidup ini ternyata berat sekali. Ah, entahlah. 

Ah, hari ini memang bisa dibilang hari yang sangat berat. Berat antara menjadi pecundang atau pengecut. Aku ingin sedikit bercerita tentang pecundang, iya pecundang. Awalnya aku kira, aku tidak mau menjadi pecundang, habisnya pecundang itu suka sembunyi-sembunyi. Apalagi sembunyi dari masalah.

Eh ternyata, hari ini aku telah menjadi pecundang. Alasannya simpel saja, karena jika aku jadi pembelapun yang aku akan dapatkan sama saja dengan jadi pecundang. Iya, ini kembali pada pilihan mana yang lebih mudah dan ringan. Bukan tidak suka pekerjaan berat, tapi karena tersaji yang ringan dan menguntungkan, kenapa harus mengambil yang berat dan merugikan. 

Nah anehnya, setelah menjadi pecundang. Aku ternyata juga jadi pengecut. Kalu ini tentang diam tentu saja. Diamku kali ini sebenarnya bukan diam emas pada umumnya, karena ini tentang diam yang membara, diam yang beramarah, dan diam tentang sesuatu bertentangan dengan nurani. Jika berbicara tentang nurani itu terlalu jauh, baiklah ini yentang hati. 

Kembali pada hal bahwa ini tentang kecewa, tentang mengecewakan atau dikecewakan. Awalnya sebenarnya aku merasa bahwa aku telah mengecewakan. Sayangnya pola berpikirku berubah di tengah-tengah. Karena ini jujur saja tentang kecewa yang diimbuhi afiks 'di' dan 'kan' hingga berakhir dikecewakan. 

Satu kata, beda penambahan hingga beda penafsiran. Lantas katanya kita satu keluarga, beda perlakuan, hingga beda memaknai siapa yang sebenarnya benar-benar benar dalam kesalahan. Itu tidak ada. Itu saja.,  

Umy Amanah

Wednesday, July 23, 2014

Perlukah Pindah HABITAT?

Hari ini tepat banget buat aku melajarin bahwa banyak banget hal yang nggak aku tau soal tempat tinggal yang biasanya aku menyebutnya HABITAT. Yah, mulai kemarin sore sampa pagi ini aku tidur di rumah eyang, aku sadar banyak akan sebuah habitat. Pindahnya habitat aku dari rumah semenjak kemarin sore sampai pagi ini tepatnya tanggal 24 Juli 2014 sebenarnya karena nggak disengaja, yah terjebak hujan dan terjebak rasa takut yang dari orok buatku tak berani pulang ke rumah malem-malem. 

Umy Amanah Perlukah Pindah HABITAT? sempat cerita
Pindah habitat membuatku menyesuaikan dengan dimana aku berada saat itu dan terimakasih Alloh telah memberikan aku berkah dari semuanya. Beranjak mengunjungi tempat eyang emang udah biasa, tapi kemarin sore dikarenakan eyang yang minta aku suruh kesitu, ternyata mau dikasih duit. Asyiknyaaaaa..... Lanjut cerita karena hujan, aku jadi nginep deh disitu. Memulai dengan buka puasa bersama Eyang, Budhe dan Mamaz-mamaz ku yang kece, karena Adiknya Mamaz yang cewe satu lagi di Klampok jadi aku suruh nemenin budheku. 

Biasanya kalo buka di rumah sendiri, aku kenal banget istilah "TONG-TONG JEL" itu salah satu bentuk saat bedug magrib terdengar maka aku sekeluarga biasanya langsung makan. Tapi di tempat eyang nggak gitu, makan yang manis-manis dulu, baru deh makan nasi. Semenjak itu aku jadi sadar, kenapa di rumah sendiri aku nggak bisa seperti itu, tentunya untuk melaksanakan sunah Rasull Muhammad SAW dengan berbuka yang manis-manis dulu. Akhirnya akupun mikir, ternyata perlu juga pindah habitat untuk merubah gaya hidup yang kurang tepat. 

Lanjut ke cerita berikutnya, pagi ini selepas sahur aku mencuci piring dan perkakas rumah tangga lainnya di tempat cucian belakang. Nggak sendirian si, dibantuin budhe HEHEHEHEH. Pas lagi nyuci piring karena licinnya sabun akhirnya satu piring jatuh dan PYAAAK pecah deh. Sebenernya tanganku kena pecahan piring, tapi aku diem aja, nggak kebayang deh kalo di rumah udah seheboh apa sama ibu sendiri. Sumpah deh sakitnya itu dari orok. Hahahahah..... saat itu juga aku berfikir ternyata perlu pindah habitat juga untuk membuat kita lebih kuat dan nggak aleman.

Lanjut cerita berikutnya, ini agak menakutkan menurutku. Karena sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri 1435H budheku mengajakku membersihkan pemakaman keluarga di Desa Bojong, Kaliwangi Mrebet. Disitu terbaring Alm. Salimah Binti Supardjo (Eyang Putri) yang 2009 lalu telah dipanggil ALLOH SWT. dan semoga sekarang berada di tempat terbaik-Nya bersama keluarga-keluarga terdahulu. Aamiin. 
Saat membersihkan nisan dan fondasinya aku disitu berfikir suatu saat nani aku pasti akan berpindah habitat kesini tepatnya fisikku yang akan terbaring dibawah nisan seperti ini. Sayangnya waktu itu aku tersentak, seolah aku belum siap menghadapi semuanya. Tapi aku bersyukur disitu aku sadar perlu habitat di bawah tanah untuk mengantarkanku ke kampung yang abadi yaitu Kampung Akhirat. Masih tersentak dengan kesadaran diriku, ternyata budheku memberi tahuku kalo sebelah pemakaman Alm. Eyang Putri yang telah rapi dilengkapi nisan bak pemakaman idaman ternyata belum ada mayatnya, namun sudah ada pemiliknya istilahnya #MANJER MAKAM gitu menurutku, karena pemiliknya sekarang masih sehat. 

Sejenak aku melongo, aku sadar bahwa mati bukanlah hal yang harus ditakuti tapi suatu hal yang harus dipahami. Karena ternyata banyak orang yang sudah siap untuk mati dan sudah siap berpindah habitat ke alam sana nanti yang abadi. Aku paham bahwa dunia hanya sementara dan akhiratlah selama-lamanya #LIRIKLAGU. Ternyata aku perlu mental untuk pindah habitat ke yang satu ini. Yah di pemakaman pagi itu aku berdoa:
"Ya Alloh yang maha segalanya, panjangkanlah umurku dan penuhilah umurku dengan keberkahan. Terimalah segala amal ibadahku dan berkahi kehidupanku. Jadikanlah aku hamba yang baik sesuai apa yang Engkau janjikan dan inginkan. Agar aku semakin siap untuk berpindah ke habitat yang seperti ini. Aamiin."
Disitu aku tak lupa berinstighfar untuk memohon ampun atas segala kesalahanku dan mengucapkan syahadat tauhid dan syahadat rosull. 
اَØ´ْÙ‡َدُ اَÙ†ْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ , Ùˆَ اَØ´ْÙ‡َدُ اَÙ†َّ Ù…ُØ­َÙ…َّدًا رَّسُÙˆْÙ„ُ اللهِ

Yang artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Sekian kesempatan cerita yang dapat saya tuliskan lewat kata-kata. Semoga menginspirasi anda semua para pembaca. Salammmm......
Umy Amanah

Thursday, December 19, 2013

LEMPAR SENYUM SAJA

Pelanggaran Traffic Light
Hari ini ada yang aneh, tepatnya Kamis (19/12) pagi diwaktu aku dengan semangat berangkat sekolah membawa sepeda motor. Saat aku berhenti karena traffic light menunjukan lampu merah, entah kenapa KLAKSON MOBIL MINIBUS dengan nomor polisi B 3070 DA terus memberikan sinyal agar aku menerobos lampu merah. 

Anehnya justru pengendara lainlah yang menengok. Tepatnya bingung karena saat kita menaati peraturan justru kita disalahkan. Detik itu aku berfikir apakah seperti ini seseorang yang kehilangan jati dirinya. Saat kita mencoba melakukan perubahan dengan menaati peraturan, malah terkesan kita yang dipojokan untuk sekaligus melakukan kesalahan. Seperti inilah bagian kecil kita melakukan perubahan. 

Namun dengan tetap PD aku masih tetap menunggu lampu hijau sebagai pertanda boleh melanjutkan perjalanan. Sebelum aku melanjutkan perjalanan anehnya aku membuka kaca helm dan menengok ke sopir minibus tersebut sambil tersenyum. Hahahahah

Entah apa yang aku lakukan hari ini, mungkin aku berhasil mempermalukan orang lain. Tapi aku berharap itu menjadi satu kebaikan aku menularkan kebaikan kepada orang lain untuk sadar akan tertib berlalulintas. Semoga semakin banyak orang yang sadar bahwa Alloh SWT memberikan nyawa hanya satu pada tiap manusia. Bagaimana kita menjaganya? Salah satunya dengan tertib berlalu-lintas. 

Umy Amanah

Wednesday, May 15, 2013

Tak Sangka Harus Ku Ulangi Lagi

Umy Amanah
Umy Amanah
Semalam sungguh rasa kantuk yang sebenarnya tak bisa ku tahan namun tetap aku tahan. Memang tuntutan sebuah tugas sekolah yang menjadi alasannya. Sudah kewajibanku tuk menjalankan semuanya, meski sebenarnya beban dipundak ini sungguh terasa. Tigapuluh soal Akuntansi yang menjadi Pekerjaan Rumah sekitar 98% sudah aku kerjakan, meski lelah, letih dan kantuk yang mendera tapi melihat dua nomor yang belum akhirnyapun tetap aku tutup. Menutup folio pekerjaan menjadi awalku tuk beristirahat malan tadi. Sungguh beban yang ada dipundak, aku tuangkan semua diatas bantal. Selesai sekitar pukul 2:00 AM membuatku tidur tak berkutik. Diawali do'a sebelum tidur sungguh nikmatnya tidur tak berkutik aku rasakan. 
Tapi paginya semuanya kacau ketika di perempatan bangjo aku mengecek folio hasil kerjaku semalam tak ada di tas sekolahku, hanya dua folio kosong yang ada. Kekecewaan itu seketika muncul hingga airmata merona dimata. Tapi apa daya akhirnya aku kembali mengerjakan tigapuluh soal itu di sekolah. Memang butuh ketelitian dalam hal apapun,
harusnya sebelum aku berangkat sekolah terlebih dahulu aku teliti dan pastikan bahwa semua yang diperlukan hari ini sudah aku bawa. Untung banyak teman-teman baikku yang rela mengajariku dan memperlihatkan hasil pekerjaannya untuk referensi aku mengerjakan kembali soal-soal itu.

Friday, May 10, 2013

Aku Bangga Menjadi Bagian Darinya

SMA Negeri 2 PurbalinggaLentera Jurnalistik SMA Negeri 2 Purbalinggsa memang sebuah ekstrakurikuler yang dimotori oleh Syifa Faidati kala itu. Sungguh ekskul yang penuh tantangan dan jadwal kegiatan yang bejibun ini aku bisa menjadi bagian di dalamnya. Produksi ide-ide berliant harus ada dalam ekskul ini. Memang terkenal jika anak-anak jurnalis itu cuman bsanya baca buku, nulisa dan sebagainya. Tentunya anggapan itu sebenarnya tidak sama atau sebanding dengan kenyataan. Jurnalis adalah sebuah kegiatan dimana kita harus menguasai segala bentuk informasi meski sekecil apapun itu. Jadilah yang pertama tau akan suatu hal menjadikan kita ketar-ketir kesana kemari. Meski tulisan masih acak adulpun aku berpendapat menjadi bagian didalamnya (Jurnalis) itu suatu anugrah yang tak terhingga. Memang diriku tak pernah menyangka meski aku bisa masuk didalamnya. Dan sampai sekarangpun aku belum bisa memahami tapi inilah aku yang bangga menjadi bagian darinya

Awal Jadi Pemburu Berita

SMA Negeri 2 Purbalingga
Anggota Jurnalis Angkatan I dan II
Diawali dari kesukaanku terhadap media laptop hingga mengantarkanku pada ekstrakurikuler Jurnalistik SMA Negeri 2 Purbalingga satu tahun lalu. Promosi ekskul pada kala kegiatan itu Masa Pengenalan Unit Kerja OSIS (MPUKO) memang terkesan sederhana, tapi enatah aku sungguh mengaguminya. Medengar kata Jurnalis yang asing di telinga menjadi layah ketika aku telah mengikutinya. Bermodal hanya suka mengetik tulisan aku mengikuti ekstraurikuler Lentera Jurnalistik SMA Negeri 2 Purbalingga. Awalnya hanya menjadi Layouter Amatiran di susunan redaksi. Tapi dalam kerja sebagai pemburu berita aku sungguh kerja serba guna dari wawancara, menulis, editor hingga samapi publikasi kadang menjadi tantangan wajib. Kini aku telah menjadi ketua sub unit Jurnalistik SMA Negeri 2 Purbalingga periode 2012/2013. Entah darimana aku bisa menyukainya tapi dari buka bersama inilah aku percaya jika Jurnalistik itu keluargaku.

Melancong Pertama Dengan Motor Bersama

Umy Amanah
Umy Amanah
Ini dia pertama kalinya melancong ke Purwokerto kala itu bersama Sancika Catur Yuliana membawa motor sendiri. Belum bolehnya membawa motor ke purwokerto dikarenakan ketakutan orang tuaku soal pengguna jalan raya sekarang yang ugal-ugalan. Tapi akhirnya minggu itu terjalani. Awalnya memang jadwal kita berdua adalah menonton film  Habibie & Ainun di Rajawali Cimemplek yang kala itu bar saja launching. Namun dikarenakan banykanya orang yang mengantri tiket hingga keluar halaman, kamipun ngegas menuju Andhang Pangrenan atau Taman Kota Purwokerto. Melihat banyaknya orang yang bersantai kamipun berfoto melepas panas yang kala itu menyengat. memnag hari itu suhu udahra sekitar 29 derajat celcius. Disamping panasnya suhu hari itu salahnya aku memakai kostum hitam, entahlah tak terfikirkan akan panasnya hari. Tapi disinilah ibarat model yang berlenggak lenggok ahirnya kami action berfoto ria.

Ceritaku Soal Basket

SMP Negeri 3 Purbalingga
Umy Amanah
Menjadi pelajar yang menonton pertandingan bola basket itu biasa. Tapi bayangkan jika kita menjadi pelajar yang ditonton saat pertandingan bola basket? Sungguh pengalaman yang luar biasa. Ya, waktu itu Sabtu sore aku duduk di panggung SMP Negeri 3 Purbalingga untuk melihat teman-temanku mengikuti ekstrakurikuler basket. Karena hujan, ekskul terhenti. Ketika itulah Pak Priyanto guru Olah Raga SMP negeri 3 Purbalingga mengajakku memegang-megang bola basket dan kemudian mendriblenya. Entah, tapi itu menjadi pertama kali dalam hidupku memgang bola basket. Pak Priyanto menyuruhku mengikuti ekskul basket. Sekian lama ku ikuti sunggu kado terindah ketika orang yang paling menyemangati aku ULTAH hari itu juga aku menjadi tim inti POPDA mewakili SMP Negeri 3 Purbaingga. Kelamaan jiwa basket tumbuh dengan sendirinya, memang kecintaanku terhadap basket itu tak ada duanya hingga di kelas VIII aku mengikutinya lagi sampai POPDA. Sungguh cucuran air mata sore itu ada di mobil Pak Imam Sohidin. Latihan keras aku dan teman-temanku kalah ketika SMP3PBG 0 - 3 SMP3BBS disemi final putri. Dua tetes air matapun jatuh dari mata sang pelatih (Pak Priyanto). Rasa kecewa hingga hari berikutnyapun terasa. Namun, pengobat rasa sakit itu datang ketika aku dan tiga teman lainnya diminta bergabung menjadi tim Kabupaten Purbalingga kala itu. Latihan yang dilaksanakan di SMPN 3 Bobotsaripun dijalani hari demi hari meski jauhnya jarak tak terhitung. Meski kalah di Karesidenan nekatku melanjutkan basket di SMA Negeri 2 Purbalingga tercapai. Menjadi tim inti saatmasih duduk di angku kelas X memang sungguh prestasi untuk diriku. Juara I pun aku dapatkan kala itu di SMA Negeri 2 Purbaligga. Entah sekarang alih profesi oleh diriku kian jauh. Awal dari seorang atlite sekarang menjadi seorang pemburu berita di kelas XI ini. Tapi, this is my life and my story. Thank's for all yang sudah melengkapi pengalaman-pengalaman terbaiku dalam basketball.

Sastra Hatiku

Umi Amanah
Umy Amanah
Dahulu membuat puisi adalah sebuah ekspresi diri ini untuk dirimu. Yah, meski sebuah puisi sederhana. Namun. kepahamanku akan semuanya menjadikanku tak bisa lagi bercerita lewat bait puisi. Jarang ide-ide tertuang meski sekarang kita masih bersama. Percaya, sabar dan sebagainya adalah hal yang sulit tuk dituangkan ketika semuanya kreasi dari dirimu. Tak lagi berekspresi lewat sastra kadang membuatku lemah. Ketahuilah sastra adalah sesuatu yang bisa mengungkapkan satu dari sekian juta perasaan hati. Kadang hati menunggu datangnya sastra, padahal sastra tak datang ketika hati tak mengampirinya. Kegalauan hati ini mungkin tak sebanding dengan banyaknya untaian kata yang dikeluarkan namun etahuilah bahwa satu sastra yang keluar dari hati itu mewakili jutaan perasaan yang beraduk.
Powered by Blogger.