Saturday, October 31, 2015

MAKALAH SASTRA BATAK DAN SASTRA MINANG

MAKALAH SASTRA BATAK DAN SASTRA MINANG
Dibuat untuk memenuhi tugas Ulangan Tengah Semester
 Mata Kuliah Sastra Nusantara
Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M.Hum.




Disusun Oleh:
                      Nama                        : Umi Amanah
                      NIM                         : CO214064
                       Semester/Kelas        : 3/B





PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

MAKALAH SASTRA BATAK DAN SASTRA MINANG
Umi Amanah
Universitas Sebelas Maret Surakarta

1.      PENDAHULUAN
a.       Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki kekayaan sastra. Hal tersebut mengacu pada banyaknya wilayah kepulauan di Indonesia yang mengakibatkan adanya pembagian wilayah Sastra Nusantara. Dalam hal ini, penulis akan mengambil konsentrasi pada sastra nusantara yang wilayahnya terpengaruh budaya Melayu.
Pengaruh Melayu tentunya tampak pada bentuk-bentuk karya sastra seperti pantun, syair, seloka, gurindam, dan hikayat. Wilayah tersebut diantaranya Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaka. Namun, ternyata pembagian wilayah dalam sastra nusantara merupakan sebuah skema belaka yang di dalamnya masih terdapat tumpang tindih dan ketidakpastian. Dalam tulisan ini, penulis akan mengulas sastra Batak dan sastra Minang sebagai bentuk atau bagian dari sastra nusantara.

b. Rumusan Masalah
1.         Bagaimana contoh karya sastra Batak?
2.         Bagaimana isi dalam karya sastra Batak?
3.         Bagaimana suatu karya dapat dikategorikan dalam sastra Batak?
4.         Bagaimana contoh karya sastra Minang?
5.         Apa saja jenis karya sastra Minang?
6.         Bagaimana karya tersebut dapat dikategorikan dalam sastra Minang?

c.    Tujuan Penulisan
1.         Mengetahui contoh karya sastra Batak.
2.         Mengetahui isi contoh karya sastra Batak.
3.         Mengetahui bagaimana suatu karya dapat dikategorikan dalam karya sastra Batak.
4.         Mengetahui contoh karya sastra Minang.
5.         Mengetahui jenis karya sastra Minang.
6.         Mengetahui bagaimana suatu karya dapat dikategorikan dalam karya sastra Minang.


2. PEMBAHASAN
Sastra Nusantara adalah sebuah frasa yang menunjuk tentang karya-karya sastra dan hal terkait yang terdapat di wilayah kepulauan Asia Tenggara. Karena Indonesia merupakan negara yang masuk dalam negara kepulauan, oleh karena itu Indonesia memiliki sebutan Nusantara. Indonesia tentu memiliki banyak wilayah yang di dalamnya tentu terdapat karya sastra. Ini sangat dekat dengan pembagian wilayah sastra nusantara. Dalam hal ini, penulis akan memngambil dua wilayah di Indonesia yang memiliki karya sastra terpengaruh Melayu yaitu sastra Batak dan Sastra Minang.   
Sastra Batak merupakan hasil kebudayaan yang berkenaan dengan cerita rakyatnya. Ini berkaitan erat dengan Bahasa Batak pada zaman dahulu secara umum merupakan bahasa lisan. Sebenarnya hingga saat ini, sastra Batak belum dapat diuraikan dengan jelas dan lengkap karena beberapa faktor yang mempengaruhiny.

Wednesday, October 21, 2015

#sajakSINGKAT

Dia

Dia,
dia?
dia!

petaka,
lantas
aku bercerita
ini makna

dia,
dia?
dia!

Ah,
suara,
luka,
dan cerita

Cerita,
cerita?
Cerita!

semua
aku bunuh bersama
dia, dia? dia!
segala melegenda
aku membunuhnya

*Debu Ambigu

Saturday, October 17, 2015

Aku dan Dia Hanya Berdua

Rizal Muhamad, Aku dan Dia Hanya Berdua, Cerpen, Cinta, Karya Sastra
Langit sore tadi tidak aku hiraukan, mega yang memerah saja tiada aku perdulikan, apalagi pekat yang mulai datang membayang lekas saja aku tendang. Aku sedang bahagia, iya aku diterima oleh salah satu perguruan tinggi luar negeri. Berbekal tulisan yang kerap kali aku postingkan, ternyata ada sedikit mata-mata yang memperhatikan. Katanya, itulah salah satu alasan.

Sedikit saja sebenarnya rasa yang aku bingungkan. Darimana aku akan memulai, bersama siapa, dan akan bagaiana? Ah, aku kembali pada bahagia. Kebingunganku dijawab Tuhan bersama realita. Aku bertemu teman SMPku, dia masih sering bercanda bersamaku. Jangan Tanya seperti apa, lewat apa, dan bagaimana! Intinya kita sama, ternyata dia juga diterima di perguruan tinggi luar negeri.

Aku sampaikan kabar bahagia ini padanya, anehnya kita diterima di perguruan tinggi satu Negara yang sama meski beda universitasnya. Raut merona terpancar dari kita berdua, seolah ada kebahagiaan di depan sana yang akan kita kejar, kita dapatkan, dan segalanya dengan kebersamaan. Iya, aku paling suka terakhirnya, secara bersama kita akan mendapatkan semuanya.

Paspor keberangkatan menuju Timur Tengah telah ada di tangan. Sekali ponsel kecilku bordering, satu pesanpun masuk.
Dia : "Aku jemput di bandara ya?"
Aku: "Iya," Lantas, hanya itu yang aku katakan padanya. Kita bersahabat telah lama, hingga kebaikan yang dia berikan tidak dapat aku maknai lain. Keberangkatan dia yang lebih dulu dariku sebenarnya membuatku sedikit bias tersenyum. Karena tanpa aku mau, dia telah menyiapkan segalanya untukku.

Tujuh jam di pesawat membuatku banyak berfikir tentang dia, iya dia sahabatku dan sahabatnya. Jujur saja, dia adalah sahabat dari laki-laki yang aku suka. Segala yang aku rasa, aku ceritakan padanya. Lama sekali aku merepotkan dirinya karena menyukai sahabantnya. Anehnya dia selalu bias mengubah tangis menjadi tawa, itu yang aku suka.

Wah, beberapa menit lagi pesawat ini akan tiba di negeri orang. Satu-satunya yang aku harapkan adalah dia yang akan menyambutku dengan kebahagiaan, perasamaan harapan, serta tujuan. Suara bising gesekan roda dengan aspal menjadi jeritan yang tiada terelakan, baling-baling pesawat mulai pelan, dan pintu kabin mulai terbuka.

Aku lihat langit biru yang dinodai awan, kakiku mulai turun perlahan menapaki anak tangga, sesaat aku berada di landasan yang menyadarkanku begitu kecil dibanding semesta. Tapi waktu itu perasaanku masih begitu besar, jika semesta bisa aku teriaki kebahagiaan yang luar biasa. Kemudian aku naiki bus yang tersedia bersama koper yang melekat di tangan.

Sampai di terminal bandara negeri entah siapa, dia ternyata sudah ada di gerombolan penjemput lainnya. Iya, dia temanku, sahabat dari pria yang aku cintai. Lambaian tangannya waktu itu membuat aku bahagia dan tenang. Karena akan ada yang bersamaku diantara jutaan orang yang tiada peduli dan mengenalku. Lntas kemudian aku menghampirinya, manatapnya dan menyapa dalam hatiku bahwa dia yang akan ada untukku.
Koper yang awalnya di tanganku kini pindah di tangan kirinya. Sambil diam kita berdua melangkah meninggalkan terminal bandara. Saat lantai-lantai yang bersih menjadi saksi langkah kita, aku takut jendela-jendela kaca bisa melihat bagaimana tangan kanannya menggandeng tangan kiriku. Melengkapi ruas yang telah lama kosong, dan genggaman erat yang seolah tidak mau kehilangan.

Panjangnya jarak dari penjemputan menuju tempat parkir taksi yang telah dia sediakan, aku hanya bisa menatap samping mukanya. Lama dan penuh makna, aku jarang sekali memperhatikan dia sampai sebegitunya. Ini adalah pertama kalinya, seketika itu aku melupakan dia sahabatku, melupakan sahabatnya yang aku suka, dan menaggap semua ini perlu dimaknai berbeda.

Tatapan matanya padaku seketika membangunkanku dari lamunan, dari angan yang tidak pernah terbayang. Taksi telah ada di depan mata, pintu yang terbuka mengharuskan aku untuk memasukinya, genggaman eratpun harus aku lepaskan, dan terkesan semua terselesaikan. Aku lantas menempati tempat duduk di sebelah kiri dan dia di sebelah kanan.

Perbincangan banyak kita angkat dari topic-topic yang sudah terlewatkan, termasuk bagaimana aku dengan perasaanku yang kerap kali aku bagikan padanya. Keseruan hanya kita miliki berdua, sopir taksi yang tidak mengetahui segalanya karena berbeda bahasa, pemandangan di luar sana yang masih terkalahkan oleh tema, hingga kebisingan kendaraan lain yang masih bisa kita kalahkan.

Perjalanan terkesan singkat, gedung penginapan mahasiswa yang berada di kanan jalan membuat semuanya behenti. Pembicaraan, keseruan, kebahagiaan, dan tawa kebersamaan, semuanya berhenti, dan segalanya mati. Mulai terbanyang bagaimana keadaan ke depan.

Koperku mulai diturunkan oleh supir taksi. Aku dan dia pun akhirnya keluar dan memandang apa yang akan terjadi. Dia mengantarkaku pada tempat penginapanku. Menggunakan lift, lantai pertama, kedua, dan ketiga dilewati tanpa ada bekas. Pintu membuka di lantai empat, menuju pavilion nomor 26 kita lalui berdua tanpa jeda. Hal itu telah dipersiapkan dia sebelum-sebelumnya.

Sampai di tempat istirahatku, aku mulai berbenah dan bersantai ria. Sejenak aku memikirkan seseorang yang aku suka, karena orang itu akan lama tidak bersamaku, tapi aku akan lama berada dekat bersama sahabatnya. Iya, dia adalah sahabat orang yang aku suka.

Tiba-tiba ponselku bersuara, satu pesan masuk.
Dia : "Akan aku ajak kamu berkeliling kota ini sore nanti, aku jemput tiga jam lagi."
Aku : "Ok, keknya seru. Aku siap-siap dulu." Itu jawabanku, bergegas aku membereskan barang-baangku yang telah termuntahkan dari dalam koper.

Sore datang begitu cepat, dia memberitahuku sudah berada di bawah gedung pavilionku. Bergegas turun dan keluar dari gedung, senyum hangat dia menyambutku. Udara dingin penusuk tulang sedikit membuatku kedinginan, mungkin karena belum terbiasa saja. Ah, jahatnya dia malah tertawa.

Beberapa puluhan meter telah kita lewati berdua, shall di leherku aku naikkan, jaket di badanku kemudian aku kancingkan. Tapi tangan ini masih terabaikan, aku gosok-gosokan kedua tanganku sembari berjalan di trotoar jalan bersama dia. Sinar matahari sore itu tidak mampu mengalahkan dingin, bunga yang mekarpun masih mampu menengadah pada cahayanya.

Jalan-jalan begitu ramai sesak dipenuhi banyak orang sore itu, namun yang merasakan kedinginan sepertinya hanya aku. Kembali lagi dia tertawa, iya seseorang yang di dekatku. Ah, aku menunduk dan seketika aku melihat tangan kanan dia menyambut tangan kiriku lantas dengan pelan menggenggam tanganku dan memasukannya pada jaket tebalnya. Jujur saja aku sangat kaget, tidak hanya itu yang aku dapat, karena kebahagiaan dan kenyamanan aku dapatkan pada waktu dan tempat yang sama.

Aku dan dia, dan hanya berdua, kita lewati jalan-jalan kebisingan kota. Dia mengajakku pada sebuah taman kota yang banyak pengunjungnya. Melewati pintu masuk yang tiada penjaganya, aku seolah menegakkan langkah, menyiapkan mental dengan siapa aku berjalan. Dengan dia temanku, sahabat dari orang yang aku suka. Dan kini, tanganku masih ada di saku jaket tebalnya.

Perlahan dia mengeluarkan tanganku dari saku jaket tebalnya, sambil berjalan di lantai yang membentuk pola seni kemudian dia merangkulku. Aku dan dia tidak berhadapan, tidak saling memandang, dan tidak saling bertatap. Kita hanya menatap ke depan, merasakan segalanya terjadi seolah sudah ditakdirkan.

Perkataan demi perkataan mulai diungkapkan.
Dia : "Aku tau siapa yang memiliki hatimu, aku tau siapa yang kamu cintai, dan aku tau siapa yang memiliki rasamu. Aku tau semua, tapi bolehkah aku meminta padamu agar kamu mencintaiku, agar aku memiliki hatimu, dan agar aku ada dalam rasamu?"

Langkah kaki kemudian menjadi begitu beratnya, tatapan mata tajam masih lurus ke depan, dan tangan masih merangkul dipundak yang seolah ketakutan. Seketika, semua terhentikan. Dia memaksaku menatapnya, memandangnya, dan menjawab segala yang dia tanyakan, hingga akhirnya kita berdua berhadapan dan aku dan dia hanya berdua.

Di tengah taman yang berkeramik pola Timur Tengahan aku menangis, yang kemudian memaksaku menyandarkan jiwa dan ragaku pada dadanya. Membasahi jaket tebalnya dengan air mata, dan membuatnya memelukku seolah akan kehilangan.

Aku lupakan orang yang aku suka, aku lupakan dia sahabatnya, aku lupakan lima tahun aku menunggu sahabatnya, aku lupakan diam yang membuatku bisu di hadapan cinta, aku lupakan ungkapan-ungkapan kode untuk memberitahukan,  aku lupakan segala hati yang pernah aku korbankan, dan aku melupakan segala kesakitan yang telah aku lewatkan.

Saat ini aku ada di hadapan cinta yang agung, di hadapan dia yang mencintaku seperti cinta yang aku memiliki. Serta detak jantung keseriusan yang dapat aku rasakan hingga di luar jaket tebal yang dia kenakan. Aku yakin saat ini aku mencintainya dan aku memberikan rasaku untuknya dengan melupakan segala yang pernah aku sia-siakan sebelumnya.

Aku sambut pelukannya, aku satukan kedua tangaku di punggungnya. Hingga aku merasakan dekapan yang seolah tidak ingin terpisahkan. Dan aku yakinkan bahwa dia yang harus aku perjuangkan, dia yang memintaku untuk mencintainya, bukan yang aku minta untuk mencintaiku. Saat itu segalanya hangat, dingin mulai menjauh, malam menyambut kebahagiaan, dan di atas kita ada mega tidak segagah biasanya di hadapan aku dan dia, serta di hadapan cinta yang agung.

Rizal Muhamad, Aku dan Dia Hanya Berdua, Cerpen, Cinta, Karya Sastra
Iya, sekarang aku mencintai dia, dan semua itu hidup dalam mimpiku sore tadi. Jangan salahkan aku untuk membawa semuanya dalam realita. Itu semua memang mimpi, tapi jika awalnya dimulai dari kerinduanku pada dia, aku rasa mulai ada yang berbeda antara aku dan dia. Akhirnya, sore tadi kita telah bertemu (dalam mimpi), aku dan dia hanya berdua. Bangunku, membawaku melupakan cinta yang sebelumnya dan memulai segala yang belum pernah ada. Semoga aku dapat cinta yang tidak hanya hidup dalam mimpiku, tapi secara nyata dalam realita. Itu saja,
*Debu Ambigu

Friday, October 16, 2015

Surat Untuk Terkasih

Surat Untuk Terkasih #coretSINGKAT
Wahai pemilik cinta yang terkesan dipeluk nistapa. Jika aku hitung waktu yang telah aku lalui untuk diam, apa kau sanggup menggambarkan? Jika aku kejar waktu lamanya aku memulai mencintaimu, apa kau sanggup berlari bersamaku? Jika aku bicarakan tentang cinta yang memenuhi sajak-sajaku, apa kau sanggup membaca tanpa ada jeda waktu? Dan jika aku ceritakan bagaimana aku mencintaimu lewat tulisan, apa kau sanggup untuk memaknai perasaan?

Itu semua yang aku ragukan. Karena selama ini kau menganggap semua puisiku itu visualisasi imaji, ceritaku adalah larik penghibur diri, dan suratku adalah bentuk nyata dari hasil karya sastra.

Semua itu bukan, wahai yang terkasih..! Karena puisi adalah ungkapan cinta yang sanggup aku beri, cerita adalah bentuk nyata bagaimana aku mengadu pada dunia tentang cinta, dan surat adalah bentuk terakhir bagaimana aku memberitahumu tentang cinta yang tersirat.

Lantas, apa yang akan kau tanyakan padaku setelah membaca suratku? Memastikan atau bahkan memutuskan? Keduanya, aku telah memiliki jawaban. Tapi jika kau masih saja tidak paham, kau telah membuatku kembali diam untuk sesuatu yang menyakitkan.

*Debu Ambigu

Saturday, September 19, 2015

Ini Tentang Kecewa

Ini Tentang Kecewa
Sekian lama tidak menulis, agaknya aku bingung ingin memulai kalimat awal apa dan mengambil judul apa. Sayangnya, karena hari ini begitu berat, jadi aku mencoba memvisualisasikannya pada tulisan. Semoga saja kepalaku tidak meledak karena emosi dalam diri yang sejatinya tidak terkontrol lagi.

Ini tentang kecewa jujur saja. Iya, hari ini aku ingin sekali mencurhakan tulisan tentang kecewa. Wah masih bingung juga ini tentang kecewa, mengecewakan, atau dikecewakan. Satu kata, tapi dengan beberapa afiks itu maknanya jadi sangat berjauhan.

Kalau saja kata 'kecewa' itu sedang dalam mata kuliah Morfologi, wah tentu saja akan terjadi seperti ini,
kecewa => me + kecewa + kan
kecewa => di + kecewa + kan
Itu, sederhananya dalam Morfologi, dalam hidup ini ternyata berat sekali. Ah, entahlah. 

Ah, hari ini memang bisa dibilang hari yang sangat berat. Berat antara menjadi pecundang atau pengecut. Aku ingin sedikit bercerita tentang pecundang, iya pecundang. Awalnya aku kira, aku tidak mau menjadi pecundang, habisnya pecundang itu suka sembunyi-sembunyi. Apalagi sembunyi dari masalah.

Eh ternyata, hari ini aku telah menjadi pecundang. Alasannya simpel saja, karena jika aku jadi pembelapun yang aku akan dapatkan sama saja dengan jadi pecundang. Iya, ini kembali pada pilihan mana yang lebih mudah dan ringan. Bukan tidak suka pekerjaan berat, tapi karena tersaji yang ringan dan menguntungkan, kenapa harus mengambil yang berat dan merugikan. 

Nah anehnya, setelah menjadi pecundang. Aku ternyata juga jadi pengecut. Kalu ini tentang diam tentu saja. Diamku kali ini sebenarnya bukan diam emas pada umumnya, karena ini tentang diam yang membara, diam yang beramarah, dan diam tentang sesuatu bertentangan dengan nurani. Jika berbicara tentang nurani itu terlalu jauh, baiklah ini yentang hati. 

Kembali pada hal bahwa ini tentang kecewa, tentang mengecewakan atau dikecewakan. Awalnya sebenarnya aku merasa bahwa aku telah mengecewakan. Sayangnya pola berpikirku berubah di tengah-tengah. Karena ini jujur saja tentang kecewa yang diimbuhi afiks 'di' dan 'kan' hingga berakhir dikecewakan. 

Satu kata, beda penambahan hingga beda penafsiran. Lantas katanya kita satu keluarga, beda perlakuan, hingga beda memaknai siapa yang sebenarnya benar-benar benar dalam kesalahan. Itu tidak ada. Itu saja.,  

Umy Amanah

Sunday, March 22, 2015

Lagu, Seperti Itulah Aku

Lagu, Seperti Itulah Aku
Sekarang-sekarang ini aku sedang aneh, lebih suka mengamati sesuatu yang tiada pernah aku lihat sebelumnya. Hal kecil yang sering aku lewati ternyata menarik juga. Salah satunya yang tiba-tiba saja menghentakan pikiranku di pagi-pagi buta seperti sekarang. Tepat sekali, lagu, itulah sesuatu yang barusan sungguh menggelitik jariku untuk menulis sesuatu. 

Sudah sekitar empat tahun aku suka mendengarkan lagu. Awalnya aku dengar biasa lewat speaker laptop pribadiku, namun lama kelamaan aku lebih suka mendengarkannya lewat hedset yang acap kali nyangkut di kedua telingaku. Alasannya simpel saja, menurutku agar lebih terhanyut dalam lantunan syair kehidupan yang dinyanyikan beriringan orkestra dunia. 

Waktu yang paling sering aku habiskan untuk mendengarkan lagu biasanya dimulai saat malam kian memekat hingga fajar pagi mulai mengabani. Sebenarnya karena menurutku, waktu-waktu seperti itu waktuku saat sendiri dan tiada yang mampu mengusik selain sepi, hening, dan segala yang tiada pernah orang lain punyai. Seperti pagi ini, aku telah mulai mendengarkan lagu sejak pukul 20:00 WIB kemarin, dan kini sudah menunjukan pukul 01:00 WIB. Berarti jika dihitung sudah lima jam aku mendengarkan banyak lagu. 

Ada sekitar 800 lagu tersimpan dan terdaftar di aplikasi pemutar lagu. Beberapa lagu aku ulang-ulang hingga tak pernah bosan. Anehnya, setelah sekian lama mendengarkan lagu dari malam hingga pagi buta, barusan aku baru tersadar akan satu hal. Iya,... Itulah lagu, seperti itulah diriku. Ternyata meski aku mengatur volume yang sama dari awal aku memutar lagu hingga sekarang yang sedang aku dengarkan, suaranya berubah. Menurutku, ini seperti diriku bahwa semakin kita larut dalam lantunan lagu dan semesta yang mengijinkan malam menjadi saksi bisu. 

Aku seperti lagu, dimana kala pagi datang diriku semakin tak terhindarkan untuk berteriak. Kesannya memang berteriak, tapi bagaimana bisa jika volumenya saja sama dengan pertama kali aku memutarnya. Berbeda dengan malam ataupun siang, yang suaraku bahkan sama sekali tak terdengar oleh kebisingan manusia yang berdalih menjalani kewajiban dunia. Setelah semuanya yang aku lewati, ternyata aku baru sadar bahwa lagu adalah cerminan diriku. Dimana semakin malam hingga pagi, lagu yang aku dengarkan semakin keras meski dalam volume yang sama. Seperti itulah diriku, semakin malam hingga menjelang pagi ternyata aku semakin berteriak meski tetap pada volume yang sama.

Kemudian aku tersadar, inilah kebesaran malam hingga pagi yang begitu luar biasa. Mampu mendengarkan sesuatu yang siang tak bisa memberikannya. Hingga malam dan sunyi lebih menghargai kita-kita, diantaranya aku dan lagu yang berdawai dan besuara merdu lewat sanubari tanpa banyak yang tau. 

Umy Amanah

Benarkah Aku Jatuh Cinta?

Benarkah Aku Jatuh Cinta?
Pertanyaan itu jujur saja beberapa minggu terakhir ini menghantui diriku secara rutin. Lebih menakutkan dari cerita mistik atau horor lainnya. Bagaimana tidak, pertanyaan itu muncul kala aku merasa aku sudah kehilangannya. Iyalah pria yang membuatku kembali merasakan rasa yang berbeda setelah sekian lama. Awalnya aku hanya bertaruh dengan diriku bahwa aku hanya terbawa perasaan saja, namun waktu kembali memukau dengan realita yang berbeda. 

Pendekatan semenjak dua tahun lalu sepertinya bukan waktu yang singkat. Bedanya, dua tahun lalu aku menganggap itu hanya sebatas silaturahmi antara teman yang dulu berada di sekolah yang sama. Sekarang, mau bagaimana jika perasaan telah berkecimuk dan muncul sesuatu yang berbeda. Apa aku hanya kepedean semata? Tapi kenapa engkau membuatku terlalu pd dibanding yang lainnya? Entahlah, apa ini salah satu program kerjamu menyakiti wanita, atau aku yang salah mengartikan semua yang engkau lakukan? Ah pusing sekali jika dipikirkan. 

Jujur saja akhir-akhir ini aku merasa kecewa. Tapi kecewa karena siapa? Kecewa karena apa? Kecewa bagaimana? Hak apa untuk kecewa? Apa aku harus menjawab kecewa karenamu, lantas apa peduli kamu yang bukan siapa-siapanya diriku. Kemudian aku harus menjawab, kecewa karena kau tak pernah mengungkapkan pertanyaan yang jawabannya telah aku siapkan, lantas apa yang harus kamu pertanyakan jika jawaban yang aku persiapkan hanya kesalah pahaman. Lalu aku kecewa bagaimana, kecewa karena engkau tak pernah memberi kejelasan bagaimana kita, bagaimana kelanjutannya, bagaimana semua, ah aku benci paling kau memikir jawabannya tiada kau ketahui. Terakhir kali aku kecewa karena hakku tiada pantas untuk meminta kau mencintaiku. Itu saja,

Umy Amanah
Powered by Blogger.