Monday, May 5, 2014

POETRY PART #21

TETAP SEPERTI SAAT AKU MENUTUP MATA

POETRY PART #21

Menatap cahaya sang surya
Buatku itu biasa saja
Tentunya jika aku lakukan bersamamu
Dan berada di sampingmu
Aku tak segan menutup mataku sekejap
Melewatkan gagahnya pancaran surya
Karena hati meyakinkanku
Aku kan tetap berada disamping bahumu
Aku berharap
Saat aku membuka kelopak mata
Kamu masih disitu, disampingku
Meski matamu takan pernah memandangku
Aku tetap selalu berharap
Engkau tetap seperti apa yang aku lihat
Tetap seperti mimpi saat aku menutup mataku
Sesuatu yang kan nyata saat aku membuka mataku
Aku takan pernah memandangmu
Ketika suryapun masih memandang kita berdua
Bukan salah satu diantara kita
Sampai suatu saat kita memahaminya
Tentunya tuk saling mengerti
Sesuatu yang sangat berharga
Berada disamping kita
Hingga akhirnya kita menatapnya
Saling menatap
Saling memahami
Saling merasakan
Betapa kita dicintai
Hingga kita layaknya sang surya
Memandang dua insan tanpa membedakan
Karena kita sudah dipersatukan
Oleh selain cinta, namun takdir kehidupan
- Umy Amanah -

Saturday, May 3, 2014

TULISANKU PART #14

DIBAHAGIAKAN atau MEMBAHAGIAKAN

Umy AmanahMinggu pagi ini tepat 4 Mei 2014, ucapan terimakasih dengan mengawali aktifitas hari ini Sholat Subuh bukan hal buruk yang dilakukan bukan? Alloh SWT masih memberiku kehidupan semudah aku bernafas. Terpenting adalah saat aku menatap sang surya pagi ini, dan masih dalam pertanyaan yang sama, ketika kita dihadapkan dalam dua pilihan lebih tepatnya Dibahagiakan atau Membahagiakan? Itu benar-benar pilihan yang sulit menurutku.

Saat hatiku merasa ingin dibahagiakan, entah mengapa saat waktu yang sama pula aku harus membahagiakan. Dibahagiakan bukan hal yang mudah, karena aku harus melalui waktu yang secepat kilat saat merasakannya, menunggu kekosongan yang tak pernh terisi, melalui hari tanpa tau kapan kan terakhiri dan tentunya terus menatap surya kapan dia kan menjadi saksi dalam cahaya kebahagiaan yang takan pernah terlewatkan. Hanya satu yang membuatku tak pernah melihatnya, exactly this is time. Aku takut melihat waktu, karena aku selalu berfikiran saat aku belum mendapatkannya waktu telah berakhir dan tak memberiku kesempatan untuk itu tentunya untuk merasakan Dibahagiakan.

Namun saat aku harus membahagiakan, aku merasa hal ini semudah aku bernafas, selama aku saat tertidur dan sedalam saat aku memberikan kasih lewat sebuah kebahagiaan. Terkadang banyak hal yang terlupakan, seperti tetap terjaga meski kelopak tak sanggup menahannya, tetap berdiri meski raga tak mampu berbuat, tetap tegar meski hati rapuh tak seperti yang dibayangkan, dan tentunya tetap tersenyum meski bibir ini melawan hati tuk berbohong, malah terkadang mata ini memancarkan kasih dan memberi kebahagiaan yang tulus meski didalamnya menyimpan berjuta air tuk seketika juga bisa keluar.

Sayangnya semua menjadi berbeda, terkadang aku rindu dibahagiakan. Namun jika membahagiakan saja sudah membuat kita dibahagiakan untuk apa kita meminta pada orang lain tentunya untuk membahagiakan kita, tak terpahami bukan bahwasanya kita melakukan dua hal yang terkadang membuat kita Dibahaiakan dan Membahagiakan.

"Dibahagiakan belum tentu hasil pemberian orang lain, namun saat kamu Membahagiakan orang lain dan kamu merasa Dibahagiakan, tak sepantasnya kamu meminta Dibahagiakan oleh orang lain. Karena orang yang kamu mintapun belum tentu dia bisa Membahagiakan dirinya sendiri" - Umy Amanah

Umy Amanah

Thursday, February 13, 2014

AKU BENCI DIBANGUNKAN

Umy Amanah
                 Umy Amanah pagi ini berjalan sekeren apa yang dia inginkan. Memakai kostum jurnalistik dan atribut lengkap dengan ID Card melangkahkan kakinya pada kegelapan. Kegelapan adalah sebuah suasana dimana hanya ada dalam sebuah negeri yang sangat dia cintai, sayangnya itu bukanlah yang dirinya kehendaki.

Suatu ketika Umy bertemu dengan seorang temannya, Endru sapaan akrabnya. Kedua sosok seprofesi ini bertemu di depan sebuah gedung dimana kewibawaan gedungnya saja kini telah hancur, tidak bisa membayangkan hancurnya orang-orang di dalamnya bukan? Ah coba tinggalkan itu! Dengan perlengkapan jurnalis, keduanya duduk di emperan jalan dengan menyantap seporsi rames yang dirasanya seperti suport asupan tenaga pagi yang membangunkan.
Lepas dari itu semua, ternyata mereka berdua menanti sosok kontraversi minggu ini yang memang sebagai tranding topic pembicaraan seluruh lapisan masyarakat. Dialog antara Umy dan Endru selepas menyantap sarapan pagipun tak terelakan.
Umy         : “Masih banyak yang kayak gini nggak ya? “
Endru       : “Ah,... apanya? Bisa hancur lah negeri kita ini.”
Umy         : “Dari dulu memangnya belum hancur?”
Endru       : “Yang aku lihat si setengah-setengah.”
Umy         : “Apa maksudmu ini?”
Endru       : “Ah lupakan!”
Mengakhiri pembicaraannya Endru langsung membuka note pribadinya untuk memeriksa kembali daftar pertanyaan yang akan diajukan pada narasumber yang dia dan rekannya tunggu-tunggu dari pagi. Tidak seperti Endru, Umy malah asyik dengan situs pribadinya. Saat diingatkan, ternyata belum ada satu daftar pertanyaanpun yang ada dalam note pribadi Umy. Padahal, kalian ketahui saja bahwa rekan Endru ini yang sering dipanggil Umy kesehariannya dia selalu mengatakan impiannya menjadi Agent Of Change.
Lewat dunia jurnalis, Umy memang berkeinginan menjadi agen perubahan negeri ini. Kemirisan akan apa yang ada didalamnya menjadikan hatinya berontak, kemauannya menjadikan negeri ini lebih baik dengan jalan jurnalis yang ada dalam darahnya memang membara. Menurutnya negeri ini bisa dirubah dengan kata-kata. Seperti selogan jurnalisnya “Hebatnya jadi jurnalis itu bisa mengubah dunia hanya dengan kata-kata” itu yang selalu dirinya inginkan.
Tepat pukul 08:00 WIB dirinya dan Endru rekannya bangkit dari posisi duduk pada awalnya. Semua rekan-rekan yang ada dalam lokasi tersebut semua berlarian dan berhamburan tepat di pintu masuk gedung dengan embel-embel lembaga peradilan hukum tertinggi itu. Berlari mengejar sosok yang telah kehilangan kewibawaan memang menjadi tugasnya untuk mendapatkan apa yang masyarakat perlukan. Tepat sekali, sebuah informasi skandal kehancuran pimpinan elit negeri ini.
Hujan pertanyaan dari rekan-rekan seprofesinya memang mempersempit kesempatannya untuk bertanya meski hanya satu pertanyaan. Terlebih postur tubuh dirinya yang tidak terlalu tinggi juga menambah pelik apa yang dirinya hadapi. Tak mau dikonfirmasi, sosok yang telah kehilangan kewibawaan itu terus dikawal polisi menuju persinggahannya. Rekan seprofesinya mungkin banyak yang menyerah karena tidak ada satupun kalimat yang keluar dari Hilang Wibawa, begitu kami memanggilnya di belakang.
Saat semua rekannya mundur dan kembali pada tempat semula sebelum tokoh kontrofersi itu datang, Umy tetap berdiri melihat Hilang Wibawa berjalan dengan kawalan ketat. Tanpa dibekali satu pertanyaan dalam note pribadinya, dia memberanikan diri menanyakan satu pertanyaan.
Umy           : “Pak, satu pertanyaan saja dari saya. Apa Tuhan menangis melihat apa yang anda lakukan untuk negeri ini?” (Teriaknya sebelum Hilang Wibawa memasuki gedung yang telah rontok kewibawaannya itu).
Endru         : “Hih kamu, itu bukan pertanyaan seorang jurnalis lah. Yang benar saja kau ini!” (Tadah keras Endru yang waktu itu masih berdiri bengong disampingnya).
Saat mendengar ada pertanyaan seperti itu, semua rekan profesinya menengok heran. Tak ada pertanyaan seperti itu sebelum-sebelumnya. Semua rekan profesinya kembali gencar menyoroti Hilang Wibawa dengan perlengkapan jurnalisnya. Terlihat memang putaran kepala sekitar 1300 Hilang Wibawa, mungkin karena heran atau merasa bersalah. Entahlah, karena Umypun tak sadar bahwa pertanyaan yang dia lontarkan telah membuat semuanya terkejut.
Jepretan flash kamera terus menyoroti dirinya dan sang tokoh kontrafersi Hilang Wibawa. Semua jurnalis yang ada disitu berinisiatif bahwa jika kejadian tersebut diberitakan akan menjadi berita terpopuler seketika itu juga. Sayangnya, dari semua ketidaksengajaan apa yang terjadi di luar pintu masuk berkaca itu, Hilang Wibawa kemudian meneruskan langkahnya untuk memasuki gedung yang memang sebagai tempat dirinya bekerja semula.
Semua awak media kini menyoroti dirinya, penasaran kenapa sampai keluar satu pertanyaan yang mematikan. Kini profile pribadinya muncuk dimana-mana sebagai headline berita dan lainnya. Banyak memang yang menyoroti kalimat pertanyaan Umy pada hari itu, sorotan pendapat dari berbagai kalanganpun bermunculan. Saat dirinya semakin buming menyaingi tokoh kontrafersi Hilang Wibawa, banyak orang berpendapat bahwa jarang sekali seseorang berfikir sebuah pertanyaan pemberitaan mengaitkannya dengan Tuhan.
Setelah kejadian itu, Endru datang ke ruang kerjanya. Seperti biasanya, terlihatlah sosok sederhana di depan monitor kerjanya.
Endru       : “Gila, jadi tranding topic pekan ini.”
Umy         : “Ah biasa aja, nggak ngaruh buat aku sebelum ada jawaban tuh dari Hilang Wibawa.” (Jawabnya sembari mengupdate situs pribadinya).
Endru       : “Sial, kaya gini kamu pikir biasa aja?”
Umy         : “Iyalah, semua masih biasa sebelum ada perubahan di negeri tercinta ini.”
Endru       : “Aku yakin, sebentar lagi bakalan ada perubahan dari kata-kata kamu, seperti opsesimu.”
Umy         : “Masih inget prinsip jurnalis aku?”
Endru       : “Iyalah, gini kan Hebatnya Jurnalis Itu Bisa Mengubah Dunia Hanya Dengan Kata-Kata.”
Umy         : “Exactly, itu inginku. Eitz,... tapi sebelum mengubah negeri ini dan dunia aku hanya sedang berusaha mengubah diriku sendiri.”
Endru       : “Nggak lama lagi kamu pasti bakal mengubah negeri ini, dengan kata-katamu itu. Hahaha,...” (candanya).
Benar, tak lama setelah perbincangan keduanya, Umy menjadi sosok fenomenal negeri ini, banyak diundang sebagai narasumber atas apa yang telah dia keluarkan lewat kata-kata. Tak terpikir sebelumnya bahwa Umy akan menjadi seseorang yang punya segudang jadwal undangan seperti sekarang ini, berbeda dengan jadwal kesibukannya dengan jadwal mengejar-ngejar berita. Kini khalayak menerima baik apa yang dia lakukan, banyak sekali yang mengapresiasi dengan baik.
Menjadi sosok fenomenal dan sedikit merubah negeri ini dari para Hilang Wibawa memang menjadikannya banyak menerima penghargaan, diantaranya yang hari ini akan dia terima. Penghargaan sebagai Tokoh Muda Inspirasi Negeri. Saat nama lengkapnya dipanggil untuk menuju podium, dengan teriakan Umy Amanah. Sayangnya banyak yang aneh, Umy merasa dia tidak disambut baik, seperti ini.
Ibu           : “Umy, Umy, Umy,..... Bangun, bangun, bangun! Setiap kali liburan sekolah, kamu selalu bangun jam 10. Cepet bangun!” (Teriak ibunya marah-marah membangunkan).
Umy         : “Aaaaghhhhhhhrrrrrrr...... Mamah, sebentar lagi aku mau jadi Tokoh Inspirasi Negeri ini, kenapa mamah bangunkan aku?” (Kekecewaannya mendalam karena gagal mendapatkan piala tokoh inspirasi yang sebentar lagi akan diberikan pada dirinya dalam mimpi).
Ibu           : “Oh ternyata kamu lagi mimpi? Kebanyakan tidur si, liat udah jam 10, cepat bangun, mandi!”
Umy         : “Mamaaaaaaaaaaah...... AKU BENCI DIBANGUNKAN!” (Marahnya Umy pada Ibunya yang membangunkannya dari mimpi terindahnya).
Beranjak dari tempat tidurnya, Umy lekas melakukan apa yang Ibunya perintahkan. Terlepas dari kemalasannya, Umy tetap anak perempuan yang menurut pada Ibunya. Meskipun dirinya sangat marah pada Ibunya karena telah membangunkannya dari mimpi terindahnya, namun hanya sesaat. Karena dirinya telah bersyukur bisa merasaakan menjadi apa yang dia inginkan di dalam mimpinya. Umy percaya bahwa masa depan yang besar dalam hidupnya berasal dari sebuah mimpi yang menjadikan kita berusaha untuk merealisasikan mimpi itu.

THE END
(Umi Amanah)
Facebook : Umy Amanah / www.facebook.com/UmyAmanah26
Twitter : @Umy_Amanah26 / www.twitter.com/Umy_Amanah26

POETRY PART #20

Me, You and Shadow

Saat rapuh merasa akan kesendirian
Sayang, hening tak mampu beritahukan
Aku bertanya pada sepi
Kenapa aku seperti ini?

Gema, aku dapat mendengarnya
Sayangnya, tak bisakah kulihat rupanya
Aku bertanya sendiri
Apa kau tak bisa kusentuh kembali?

Alone, ... alone
Dan kini aku tak mengerti
Saat aku hanya bisa rapuh
Dimana aku hanya bisa mendengar gema

Seringkali aku menutup mata
Berpura-pura semua baik-baik saja
Gema adalah satu-satunya yang datang kembali
Apakah itu satu-satunya teman yang aku miliki

Hanya bayangan yang tak pernah nyata
Tepatnya shadow
Satu-satunya temanku
Dan terakhir aku sendiri


Umy Amanah
Umy Amanah

Sunday, December 29, 2013

POETRY PART #19

Bahagia Itu Seperti Apa ?

Selang hari aku bertanya pada malam 
Apa arti bahagia itu sesungguhnya
Tapi malam selalu diam
Bisu, atau memang menghiraukan

Banyak orang mendefinisikan kebahagiaan
Banyak pula bahagia ditahsirkan dengan sederhana
Sesimpel apa sebenarnya sebuah kebahagiaan 
Saat diriku saja tak mengerti akan perihal bahagia

Bagaimana sebenarnya sebuah perasaan bahagia
Saat kita hanya bisa mendefinisikan
Seperti malam yang selalu diam 
Saat ditanya tentang arti kebahagiaan

Sayangnya malam selalu memberi gelap
Menandakan kembalinya manusia pada waktu istirahat
Apakah malam itu bahagia 
Atau manusia yang lupa berterimakasih padanya

Umy Amanah
Umy Amanah




Friday, December 27, 2013

INI YANG INGIN SAYA RUBAH !

Umy Amanah
Hanya Ini Yang Aktif
Seminggu ini mungkin memang nggak ada tulisan di blog http://umiamanah.blogspot.com/ (Umy Amanah). Namun Sabtu (28/12/2013) pagi ini, jujur aku ingin sekali merubah diriku. Apa yang ingin aku rubah? Entahlah, namun jujur di penghujung Tahun 2013 ini aku ingin sekali merealisasikan apa yang aku inginkan dari hidupku tentang sebuah perubahan. 

Terinspirasi ketidaksengajaanku membaca artikel blog Alyssa Soebandono http://ichalyssa-soebandono.blogspot.com/ tepatnya Artikel yang berjudul Fake Twitter Account. Dalam tulisan Alyssa, disitu sebenarnya hanya menjelaskan tentang ketidaknyamanannya karena ada seseorang yang membuat account twitter seperti account yang pernah dirinya buat sebelumnya. Alyssa mengatakan bahwa sebelumnya account twitternya sudah di delete. Alyssa juga tidak memiliki Account Facebook, dia hanya memiliki blog pribadi yang memang satu-satunya situs yang dia miliki. Ia menganggap bahwa blog adalah satu-satunya media yang Alyssa pakai untuk berkomunikasi mengenai kehidupannya sekarang.

Terlepas dari itu semua, selepas aku membacanya aku semakin sadar. Yeah,.. aku salah satu orang yang memiliki banyak situs jejaring sosial diantaranya Facebook Umy Amanah, Twitter @Umy_Amanah26, dan 9 situs lainnya. Karena itu, diriku memang sering menghabiskan waktuku hanya untuk hal yang tidak penting. Seperti nongkrong di depan laptop hanya untuk bermain facebook dan twitter. Aku memang suka menulis, apapun yang menurutku menarik itu yang aku tulis. Dan hari ini sungguh menarik, karena aku akan menulis tentang perubahan yang aku impikan.

Lepas dari jejaring social memang hal yang tidak mudah, aku pernah mencobanya saat kelas IX SMP, memang karena mendekati Ujian Nasional (UN). Namun, setelah kelulusan, kembalilah aku pada kecanduanku terhadap situs-situs tersebut. Mungkin cerita ini memang lumayan panjang, tapi ini kisahnya. Ketidakbisaanku terlepas dari situs jejaring social memang menjadi polemik yang tak pernah selesai bagiku. Terlebih saat aku menjadi Ketua Dewan Redaksi Lentera Jurnalistik SMA Negeri 2 Purbalingga yang mana ekstrakurikuler tersebut yang membawaku menghasilkan 4 Online News. 

Benar-benar gagal keinginanku dari SMP yang mana aku ingin sekali terlepas dari situs jejaring, apalagi setelah aku semakin eksis dengan 4 Online News yang aku buat untuk ekstrakurikuler yang aku pimpin #Nggak bermaksud sombong. Sampe kelas XII SMA ini aku tiap harinya minimal menghabiskan 4 jam/hari hanya untuk Online Social Media. Terlebih jika ditambah dengan kesenanganku menulis di blog, hampir 8 jam/hari. 

Namun, setelah membaca artikelnya Alyssa Soebandono, entah mengapa aku sadar. Aku terlalu banyak menggunakan waktu untuk hal yang tak perlu. Terlalu rugi jika kebiasaan ini diteruskan, saat aku gagal mencoba untuk berhenti memang ajakan dan arahan untuk teteap menggunakan selalu ada. Namun aku bertanya pada diriku, kalo bukan kamu yang merubah dirimu, siapa lagi? Tepat hari inilah aku berniat akan benar-benar off dari social media, kecuali blog pribadiku Umy Amanah. Aku ingin tetap menulis di blog sebagai aktifitas yang tak pernah merugikan menurutku. Meski tak setiap hari menulis, tapi aku berharap apa yang aku tulis bisa menginspirasi setiap orang yang membacanya. 

Aku hanya berharap niat yang entah kesekian kalinya untuk off dari social media kali ini berhasil, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang gagal di tengah jalan. Dengan mengucap Bismillahirrohmaanirrohiim,.... Insya Alloh tepat hari ini Sabtu (28/12/2013) saya (Umy Amanah) akan mengendalikan diri saya dengan hanya mengoprasikan Blog sebagai tempat berbagi inspirasi. Semoga apa yang saya niatkan bisa terlaksana. Aamiin,...

Dari banyaknya uraian di atas, saya juga hanya ingin berkonsentrasi ke Ujian Nasional SMA (UN-SMA) yang April tahun depan 2014 akan aku hadapi. Semoga ini menjadi langkah terbaik yang saya ambil demi masa depan kesuksesan diri saya. Semoga apa yang saya harapkan bisa menjadi kenyataan dengan memanfaatkan waktuku untuk hal-hal yang penting. Lebih serius dalam belajar, belajar dan belajar. Dengan tidak banyak menghabiskan waktu hanya untuk Online Social Media, semoga aku bisa Mendekatkan diriku pada Alloh SWT (Tuhanku) dan tentunya Kesuksesan Masadepanku. Aamiin...


Umy Amanah


Umy Amanah

Umy Amanah

Thursday, December 19, 2013

LEMPAR SENYUM SAJA

Pelanggaran Traffic Light
Hari ini ada yang aneh, tepatnya Kamis (19/12) pagi diwaktu aku dengan semangat berangkat sekolah membawa sepeda motor. Saat aku berhenti karena traffic light menunjukan lampu merah, entah kenapa KLAKSON MOBIL MINIBUS dengan nomor polisi B 3070 DA terus memberikan sinyal agar aku menerobos lampu merah. 

Anehnya justru pengendara lainlah yang menengok. Tepatnya bingung karena saat kita menaati peraturan justru kita disalahkan. Detik itu aku berfikir apakah seperti ini seseorang yang kehilangan jati dirinya. Saat kita mencoba melakukan perubahan dengan menaati peraturan, malah terkesan kita yang dipojokan untuk sekaligus melakukan kesalahan. Seperti inilah bagian kecil kita melakukan perubahan. 

Namun dengan tetap PD aku masih tetap menunggu lampu hijau sebagai pertanda boleh melanjutkan perjalanan. Sebelum aku melanjutkan perjalanan anehnya aku membuka kaca helm dan menengok ke sopir minibus tersebut sambil tersenyum. Hahahahah

Entah apa yang aku lakukan hari ini, mungkin aku berhasil mempermalukan orang lain. Tapi aku berharap itu menjadi satu kebaikan aku menularkan kebaikan kepada orang lain untuk sadar akan tertib berlalulintas. Semoga semakin banyak orang yang sadar bahwa Alloh SWT memberikan nyawa hanya satu pada tiap manusia. Bagaimana kita menjaganya? Salah satunya dengan tertib berlalu-lintas. 

Umy Amanah
Powered by Blogger.