Thursday, January 22, 2015

FINALLY, Semester Pertama Terlewati

Keluarnya Indeks Prestasi atau yang lebih terkenal dengan IP Senin lalu (19/1) ternyata menandakan bahwa perkuliahan semester pertama terlah terlewati. Tepat lima bulan kurang satu hari menjalani kehidupan dengan embel-embel status sebagai mahasiswa tentunya banyak yang akan aku ceritakan. Namun kalian jangan berfikir bahwa aku akan bercerita mengenai bagaimana aku mendapatkan IP lebih dari tiga diatas kertas. Apalagi memperlihatkan hasil printoutnya, karena aku lebih suka menceritakan "behind the scene" dari apa yang ada di atas kertas, menurutku itu lebih menarik.

Perkara pertama yang paling aku suka menjadi mahasiswa adalah saat Ospek 20-23 Agustus 2014. Masuk menjadi mahasiswa di Fakultas Sastra dan Seni Rupa menjadi hal tak pernah terfikirkan olehku, apalagi ada dalam iring-iringan maskot lumba-lumba bertuliskan FSSR yang menjadi point of interest semua mata pada waktu itu. Dipanggil pertama dari semua fakultas menunjukan bahwa fakultasku memiliki umur tertua dalam universitasku. Betapa bahagianya menjadi bagian dari orang-orang yang mencintai kata dan seni dalam hidupnya. 

Kemudian aku berkenalan bersama mereka Kelompok 4 Studi Alternatif dan Ajang Kreatifitas (SAJAK) Sastra Indonesia 2014 yang diberi nama Muda Taruna dengan beranggotakan Icha Latifah Hanum, Isti, Ali Mustofa, Puput Siti Nur'aini, Eka Kristina Anggasari, Agung Satrio Nugroho, Dwi Rosiana Putri, Ayu Mardiyah dan aku sendiri. Ospek jurusan yang sebenarnya melelahkan namun terbayarkan lewat air mata saat kita akan dipisahkan ketika puncak acara telah terlewati dan proses menuju puncak telah dijalani. Terimakasih akan tawa yang selalu membuat kita bahagia, perbincangan yang selalu aku kangenkan, kasih yang selalu tertuah tanpa pamrih, karsa yang selalu diberi tanpa bersuara, namun ada yang pelu kita pelajari bersama bahwa perlu membedakan antara percaya diri dan gengsi, serta optimis dan ambisi. Namun yang aku salutkan perlu adanya kebersamaan tuk tercipta persahabataan. 

Kemudian aku ingin berbicara mengenai hari bahagia. Bagaimana tidak? Tahun lalu pertama kalinya aku melewati ulangtahunku tidak bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Awalnya aku takut saat akan melewatinya. tepat 26 Agustus 2014 hari itu ditakdirkan aku bertambah usia. Semakin dewasa dan mendekati-Nya. Namun terimakasih Tuhan, karena hari itu aku masih merasakan bahagia dari keluarga yang acap kali mendoakan, orang-orang terkasih yang kerap kali memberikan sesuatu tanpa pamrih, serta sahabat yang kadang tetap hadir meski tak sempat bertatap. Awalnya aku kaku merasakan hari bahagia dalam kesendirian, namun tiba-tiba sahabatku menitipkan sesuatu untuk diriku. Katakanlah kado ulangtahun darinya untukku. Terimakasih Eky Nur Rofiqoh atas kado yang terkirim lewat sahabatmu. Terimakasih telah menganggap jarak tak sejauh realita, terimakasih telah menganggap kesibukan tak seperti biasanya hingga tiada lupa, terimakasih atas doa yang tak terlupa, dan terimakasih atas boneka warna jingga.

Tidak dengan melupakan cerita persahabatan, aku akan menambah cerita pertemuan. Dipertemukan oleh Tuhan dengan Eka Kristina Anggasari ternyata memberi kesan berlanjutan. Seperti sekarang ini, jujur saja kita semakin dekat seperti keluarga. Mungkin seperti kebanyakan orang mengatakan bahwa diantara kita itu saling melengkapi kekurangan masing-masing. Menjadi manusia yang berada dalam tempat perantauan demi melaksanakan salah satu ibadah yaitu menuntut ilmu tentunya bukan hal mudah. Jauh dari keluarga terkadang menjadikan kita berfikir untuk menemukan sosok keluarga baru. Alhamdulillah,.... aku menemukannya dalam dirinya (Eka Kristina Anggasari). Terimakasih telah sudi menjadikanku beban sehari-hari di sepeda motormu, terimakasih telah menemani saat panas tubuh ini tidak seperti biasanya, terimakasih telah menjadikanku terkadang lebih dewasa, terimakasih telah membuatku menjadi sosok lebih sabar dari sebelumnya, terimakasih tumpangan makan beberapa waktu sebelumnya, serta terimakasih atas obat yang kau belikan saat aku tergeletak tak bertenaga, serta terimakasih atas kasih seperti keluarga yang kau tulus memberikannya. Semoga kita akan sampai pada kekeluargaan yang semestinya dengan tidak melupakan sedikitpun proses menujunya.

Lalu akan aku ceritakan mengenai sosok inspirasi dalam hidupku, meski dia masih sebaya denganku. Puput Siti Nur'aini yang dengan tangan terbuka mau menerima aku merasakan Lebaran Idul Adha (Minggu, 5 Oktober 2014) dengan bahagia meski tanpa keluarga. Mahasiswa perantauan yang tidak bisa pulang bertemu keluarga dihari raya sepertiku dan temanku Zulfah Mirda Matondang (Langkat, Medan, Sumatra Utara) diperbolehkan menginap di rumahnya ditemani Dwi Nur Masitoh. Keluarganya yang sebegitu baiknya menjadikanku merasakan kebahagiaan hari raya yang luar biasa. Menjalankan sholat 'id di lapangan Desa Klolokan, Kebakkramat, Karanganyar, Solo-Jawa Tengah menjadi penyempurna kebahagiaan yang tidak seperti biasanya. Melewati dua hari satu malam bersamanya sungguh menjadi ladang ilmu yang luar biasa. Dimana aku belajar bagaimana kesederhanaan menjadi mahkotanya, senyumnya menjadi kekuatan dalam hidupnya, rutinitas sebagai ladang ibadah baginya, sikapnya yang harusnya menginspirasi dunia, serta hidupnya yang sekarang menjadi pedoman pembelajaranku padanya. Memiliki moto "Jadilah Orang Yang Bermanfaat" benar-benar dia terapkan dalam hidupnya. Aku belajar darinya bahwa moto adalah realisasi dari pemikiran yang harus dilakukan agar menjadi kenyataan. Terimakasih Puput, telah mengajarkanku meski tanpa buku ini sungguh berarti bagiku. 

Menjadi mahasiswa tentunya tidak semua pengalaman atau cerita terlukis di luar kampus, beberapa juga tercipta di dalam kampus itu sendiri. Seperti pengalaman pertama pemati nadi tubuh pertama kali. Saat dimana 3 Desember 2014 aku, Nuraini Isti Kusuma, Dhika Aprilia menjadi wakil dari Kelas B Sastra Indonesia 2014. Mewakili mahasiswa dalam perlombaan di lapangan mungkin masih bisa terfikirkan, namum mewakili dalam forum kegiatan rutin seperti Seminar Antartingkat (SEMANTIK IV) Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS sebagai pemakalah benar-benar tak pernah terlewat dalam pikiran sebelumnya. Persiapan hanya 3 hari dan dituntut menyerahkan makalah yang hanya dibuat sekitar 6 jam menjadikan kita memiliki mental yang hanya bermodal Bismillah. Bermodal Bismillah, makalah yang dibuat selama 6 jam, serta dukunga dari semua teman-teman kelas berharap mematikan grogi dalam diri ini. Bagaimana tidak grogi jika audiensnya adalah semua mahasiswa dari semua angkatan dan beberapa dosen. Sebagai mahasiswa semester pertama dan tingkat pertama tentunya kita belum memiliki bekal apa-apa, namun yang aku perlu apresiasi dari diriku bahwa ternyata aku berani malkoninya. Sungguh, perlu mental baja untuk melihat banyaknya orang di hadapan kita dan mereka akan menyaksikan bagaimana kita menjadi pemakalah yang menyampaikan materi yang kita buat sebelumnya. Namun itu menjadi salah satu pengalaman tak pernah terlupakan.

Lepas dari itu, aku ingin bercerita beberapa hari lalu sebelum liburan mendekatiku. Mengerjakan tugas UKD 3 dan UKD 4 Antropologi mengajarkanku kesantunan lewat tulisan. Aku ceritakan seorang kawan bernama Partini, singkat sekali bukan namanya? Benar, namanya itu saja dan tidak ada kepanjangannya. Tapi sungguh, perlakuannya akan panjang sekali jika aku ceritakan. Berawal karena aku menjadi boncengers motornya kita membeli menu makan siang ayam penyet yang satu porsinya dihargai Rp 7.000,00. Lalu apa yang penting dari ceritaku sebelumnya? Ini yang penting bahwa ternyata ayam penyet itu mengantarkan kita berdua ke kostku. Tentunya untuk melaksanakan ritual makan siang yang paling didambakan anak kost pada umumnya. Makan menjadi yang kita dahulukan sebelum mendirikan sholat dzuhur, terang saja hal itu kita lakukan agar saat sholat dzuhur pikiran kita tak tertuju pada ayam penyet dengan godaan sambal yang saat dimakan menjadikan lidah membara. Setelah sholat dzuhur, laptop menjadi pelampiasan dari tugas yang harus segera dikirimkan. Dengan sistem copy paste menjadikan aku ketiduran, hal itu karena tugasku telah aku kirimkan sebelum dirinya. Tini, sapaan akrabnya memang mahasiswa yang memiliki tingkat kepanikan cukup tinggi. Namun aku bingung, kenapa saat mengerjakan tugas dia diam dan sangat serius. Justru kebisingan tercipta dari suara televisi yang saat itu diseting channel yang menayangkan film korea kesukaannya. Mungkin karena tidak suka, jadi aku terlelap dalam keadaan yang sebenarnya tidak nyaman untuk tidur semestinya. Perkara apa saat aku bangun ternyata dia sudah menghilang entah kemana, tv masih bersuara seperti jadwal biasanya, laptop masih tergeletak di depan pintu sana, serta kertas berada di sampingku entah apa maksudnya. Saat aku buka kertas itu dan aku baca tulisannya "Umi maaf aku pulang dulu, tadi aku udah bangunin kamu tapi kamu kayaknya pulas banget tidurnya jadi aku langsung keluar. Makasih banget laptopnya." Dari tulisan itu aku belajar banyak, bagaimana tulisan tangan masih menjadi hal paling santun menurutku ketika kemajuan teknologi semakin tidak terkendali. Tulisan menunjukan sebuah ketulusan, seperti dapat diambil pelajarannya bahwa dia rela menyobek bukunya demi sebuah pesan tak pernah terduga, menulis kata-kata sederhana yang bermakna luar biasa dengan tangannya, dan hasilnya menjadi kenangan tak pernah terlupakan olehku yang menerimanaya karena jarang sekali pada zaman ini aku mendapatkan hal yang sama seperti apa yang dilakukannya. Terimakasih Tini, telah mengajarkanku kesantunan lewat tulisan dan kenangan manis yang tak pernah terlupakan akan sebuah tulisan kesederhanaan. 

Selanjutnya aku akan bercerita mengenai peran perempuan dalam kekuatan kemandirian. Memutuskan untuk lebih memilih membeli sepeda sebagai alat transportasi dalam beraktifitas menjadikan sebuah pengalaman pertama saat membelinya. Bersama Ema Candra Kusuma teman SMP tiga tahun sebelumnya kita memulai langkah kaki yang diwakili dua roda berputar tanpa tau lelah mengantarkan kita berdua berkeliling Surakarta. Kota dengan semboyan The Spirite Of Java kita lalui dengan penuh tekanan batin karena ketidaktahuan logika dan pikir akan rute yang kita lewati. Luap rasa malu seakan tak kita punyai ketika lampu bangjo menjadi saksi kebingungan kita akan jalanan kota. Apalagi saat roda sepeda yang kita ikut sertakan menjadi bagian penumpang sepeda motor yang kita pinjam dari kawan kita kemudian menyantel dalam sepion pengendara lain di dekat kita, betapa malunya. Namun sungguh, ramahnya orang Surakarta yang memberi kita maaf dan senyum serta hantaran doa pada kita yang telah berbuat salah padanya. Berjalan sekitar 30 menit dengan guncangan beban ditengah, terpaan angin yang akan membawa kita melayang bersamanya ternyata menjadi pengalaman pertama kita masing-masing. Peduli logika, mengawalinya dengan membeli sepeda di Jalan Dr. Radjiman Solo, berlanjut ke Solo Grand Mall (SGM) dengan sasaran rute tak tau arahnya dan diakhiri di Taman Cerdas Solo dibarengi dengan berfoto dengan buku AKU - SJUMAN DJAYA semoga menjadi berkah hari ini dalam agenda terakhir mengerjakan tugas kuliah. Intinya, terimakasih Ema, telah menjadi teman pengukir pengalaman pertama sebagai perempuan dalam kekuatan kemandirian.

Lantas aku ingin bercerita mengenai rutinitas tahun baru yang sama sekali tak berbeda dengan biasanya. Menjadi pribadi yang kerap kali di hadapan monitor menjadikanku melewati tahun baru 2015 dalam kamar kost. Kembali menguntai sajak-sajak singkat dan coretan singkat menjadi rutinitas setiap tahun baru. Tidak ada yang berbeda dari biasanya, melihat kembang api lewat celah jendela, mendengar kebisingan kenalpot motor lewat telinga dan tidak pernah membayangkan akan bahagia di luarsana. Karena aku selalu berfikiran bahwa malam itu adalah aku yang paling merasakan bahagia. Menyendiri dalam imajinasi, bersuara lewat kata, membisu lewat lagu, memandang lewat senandung, serta berdansa lewat sajak kata. Lalu kurang apa lagi? Ini hasil sajak tahun baru 2015 yang tercipta semoga tetap menjadi modal bahagiaku selanjutnya.

#‎sajakSINGKAT‬
Aku sendiri dalam termangu
Kemudian sepi mengantarkanku pada air mata
Meski aku tak pernah merasakan luka seperti ini sebelumnya
Sadarku bahwa detik mengajakku beranjak dari pribadi awal diriku

Lalu kemudian aku merinding tersedu tanpa orang tau
Biadabnya diriku atas segala dosa yang pernah aku lewati sebelumnya
Lalu dengan doa aku berharap bisa mengobati luka
Kemudian aku menengadah mengangkat tangan lantas bersuara
Ya Allah ya Tuhanku....
Ampunilah segala perkara dosa perbuatanku
Hingga menjadikan aku hina di hadap-Mu
Dan kini anu merengek maaf dari-Mu
Di hari akhir tahun ini aku memohon ampun
Dalam tempat kesendirian yang tak terjamah peradaban
Meski tetap diiringi kebisingan suara kenalpot euvoria berlebihan
Oleh mereka yang mungkin malam ini berdalih melupakan
Pada-Mu...
Tuhan pemilik teguh kehidupan
*Debu Ambigu
‪#‎malamTERAKHIR2014‬ ‪#‎sambutSYUKUR2015‬. Semoga bisa menjadi pribadi lebih baik lagi. Aamiin

Mungkin itu beberapa behin the scene yang tidak aku lupakan. Sebenarnya banyak pengalaman luar biasa yang aku rasakan, sayangnya baru itu yang dapat aku tuliskan. Jika saja dapat aku ceritakan secara lisan aku takut akan kebablasan dan melupakan waktu yang sebenarnya memberi kita batasan. Selamat mengambil pesan dari sebuah cerita kehidupan yang tidak pernah terfikirkan. 

Umy Amanah.

Sunday, November 30, 2014

Aku Tutup November

Kawan-kawan KADE (LPM KALPADRUMA FSSR UNS 2014)
Pakai sepatu LEAGUE terakhir kalinya @Wisma Bu Sri
Akhirnya aku bisa merasakan November yang dingin seperti dalam lagunya Gun's N Rose - November Rain. Sayangnya aku bersyukur bukan kesedihan yang mengiringinya, tapi semangat kebahagiaan untuk menatap masa depan. Bagaimana tidak? Hujan bulan November ini aku menginap di Tawangmangu, tepat sekali bahwa itu merupakan sebuah tempat dataran tinggi di Kabupaten Karang Anyar, Solo-Jawa Tengah. Menginap selama tiga hari di Wisma Bu Sri ternyata aku baru sadar bahwa ada salah satu hari yang aku nggak mandi sama sekali, eitz jangan bilang siapa-siapa ya!

Lanjut ke cerita selanjutnya, sebenarnya menginap di tempat yang sangat dingin itu merupakan sebuah awal kebersamaan bersama Kawan-kawan KADE. Kegitan tersebut diikuti oleh seluruh anggota dan calon anggota LPM KALPADRUMA FSSR UNS. Dimulai dengan pradiklat 26 November 2014 di Gedung IV FSSR UNS berlanjut di Tawangmangu, 28-30 November 2014 menjadi agenda penutup November yang membahagiakan.

Bisa dikatakan membahagiakan karena dalam diklat tersebut saya bersama sosok-sosok luar biasa, bertemu manusia dengan segudang karya, dan beberapa alumni yang menginspirasi. Banyak ilmu yang didapatkan tanpa ada satupun terlewatkan. Tidak hanya itu, bertemu teman-teman yang sama-sama berkomitmen untuk belajar jurnalis menjadi hal yang sangat membahagiakan menurutku. Di dalamnya kita ada karena mereka, iyalah karena nggak cuman dari jurusanku Sastra Indonesia, tapi ada juga dari Ilmu Sejarah, Sastra Inggris, DKV pula. 

Selain membahagiakan, adapula yang menyedihkan. Aku ceritakan kesedihannya, jadi gini waktu perjalanan pulang karena kondisi sepatuku yang basah akhirnya aku meminjam sendal temanku Siti Nur Janah. Sepatu satu-satunya temanku selama beberapa bulan hidup di Surakarta yang dalam kondisi basah itu aku masukan dalam kantong plastik hitam. Kantong plastik itu saja pemberian dari Windi, temanku yang lain. Perjalanan pulang, sepatuku yang dibungkus kantong plastik itu aku letakan dalam loker bus atas niatnya agar tempat dudukkku tidak terlalu sepit dengan barang-barang yang aku bawa. Dengan santai aku tidur menikmati lenggak-lenggok jalan pegunungan menuju Universitas Sebelas Maret tercinta. Saat sampai di Fakultas Sastra dan Seni Rupa aku turun hanya dengan membawa dua tas milikku dengan beralaskan sendal milik teman satu jurusan. 
Mnjalani paving UNS menuju kost aku lalui tanpa henti tertawa bersama teman-teman tercinta. Jujur saja kala itu masih belum terlintas bahwa sepatu satu-satunya yang aku miliki masih diam dalam loker bus seolah tidak ada yang punya. Sesampai di dekat Cekueh (Warung Makan Belakang UNS) baru tuh sadar kalo tanganku hampa tanpa cangkingan sepatu. Heboh banget waktu itu minta nomer hp ini itu. Namun apa daya, sepatu satu-satunya kini entah di tangan siapa. Jujur itu kesedihannya. 

Tapi semuanya merupakan penutup Novermber yang luar biasa. Terimakasih KALPADRUMA telah memberi warna baru dalam dunia, terimakasih sepatu LEAGUE yang sudah mau menjadi teman beberapa bulan di Surakarta. Dan terimakasih pada pengalaman yang sangat berharga. Aku harap banyak lagi yang aku akan lakukan setelah ini. Itu saja ceritaku yang tak jelas penyelesaiannya. 

Umy Amanah

Monday, November 24, 2014

POETRY PART #27

Ternyata Aku Bukan Pemilik Sesungguhnya

Part Of POETRY, Umy Amanah, Umy, Amanah
Apa harus seperti ini Tuhan?
Selalu menyanyi nada rahasia hati milik Nidji
Tuk sekedar berpaling dari realita tanpa tau arahnya
Aku lelah Tuhan, aku lelah

Malam ini sengaja menyadarkanku
Lewat suara merdu toot-toot bunyi balasan panggilanku
Semula aku hiraukan itu
Lamanya, menjadikan aku malu

Aku malu Tuhanku....
Aku berucap kumiliki segalanya
Aku bercerita tentang semua
Kini aku sendiri sesungguhnya

Bukan aku ternyata pemilik sesungguhnya
Acap kali aku bercerita ternyata itu dusta
Kali ini aku tersadar akan realita
Bahwa selain hening dan kesendirian, hanya Engkau yang aku punya


Umy Amanah

Wednesday, November 12, 2014

POETRY PART #26

Aku Untukmu

Umy Amanah

Itulah rasa tanpa suara
Itulah kasih tanpa risih
Itulah cinta tanpa peduli
Itulah cerita tanpa menjadi

Akhir-akhir ini aku ragu
Tapi kuputuskan menjadi optimisme
Saat dimana aku melupakanmu
Untuk tidak menoleh kebelakanku

Bukan berarti aku melupakanmu
Namun karena aku yakin 
Di depan sana kamulah masa depanku
Tanpa harus aku ambil pusing selalu

Umy Amanah

POETRY PART #25

Gulita

PUISI GULITA - Umy Amanah

Sepetak ruang tanpa cahaya
Keluarga nan jauh di sana 
Ketakutanpun aku tahan
Bak seorang pahlawan

Saat pupil mata tak mampu menembus cahaya hitam
Pikir tak pernah tau ada apa di sekitar
Hanya hati kian terus aku hidupkan
Setidaknya tuk tak terkesan waktu terhentikan

Umy Amanah

Tuesday, November 11, 2014

Cara Mengunci Folder atau File

Banyak hal memang yang menjadikan kita mengunci folder atau file pribadi kita, salah satunya karena kadang file pribadi yang kita memiliki sebenarnya bukan untuk konsumsi publik namun saat komputer atau laptop kita dipinjam orang lain kita merasa was-was atau khawatir akan kejahilan teman kita yang kadang-kadang tanpa bilang sudah membuka folder atau file pribadi kita. Untuk menghindari kecemasan yang terlalu sering dan terkesan jadi berlebihan, kini saya akan memberi solusi pada kalian mengenai bagaimana cara mengunci folder atau file yang kita miliki. 

Cara mengunci folder atau file yang kita miliki bisa menggunakan aplikasi Folder Lock. Folder Lock merupakan sebuah aplikasi atau software yang bisa kita gunakan untuk mengunci atau mempasword folder atau file yang kita miliki dalam laptop atau komputer. Kenapa saya memilih folder lock untuk disarankan pada kalian karena aplikasi ini mudah digunakan dan memiliki tingkat proteksi yang sangat tinggi terhadap file atau folder yang kita proteksi. Jadi folder atau file yang telah kita kunci tidak akan terlihat dan hanya bisa dibuka lewat Folder Lock ini, tentunya juga setelah memasukan passwordnya. 

Langsung saja kita lihat caranya :
1. Sebelum menggunakannya, kalian harus download dulu. Silahkan klik Download Folder Lock (Klik langsung aja!), software ini geratis dan mudah di download.
2. Jika proses download sudah selesai, langsung saja install software tersebut.
3. Jika proses install telah selesai langsung saja buka aplikasi tersebut hingga muncul tampilan seperti di bawah ini,
Cara Mengunci Folder atau File


















4.Masukan pasword yang ingin anda gunakan untuk mengnci atau memproteksi folder atau file yang anda miliki. Lalu klik OK.
5. Masukan lagi pasword yang sama seperti sebelumnya. Klik OK lagi.
Cara Mengunci Folder atau File

 
















6. Setelah masuk, kalian kemudian pilih file atau folder yang akan dikunci atau diproteksi dengan mengeklik "Add".
7. Klik OK.
8. Lihat, status folder kalian sudah locked. Sekarang coba kalian lihat di drive, pasti sudah menghilang.
Cara Mengunci Folder atau File











Jangan bingung bagaimana kalian bisa membuka kembali file atau folder yang sudah kalian kunci, mudah saja begini caranya :
  1. Buka Folder Lock,
  2. Masukan kata sandi sobat,
  3. Klik 2x file yang ingin dibuka.
Bagaimana, mudah bukan? Selamat mencoba dan semoga berhasil. Jangan lupa tinggalkan komentar! :D 

Umy Amanah

Panorama 11 MARET SURAKARTA

UNS SURAKARTA, uns surakarta, UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA, universitas sebelas maret surakarta, guguran bunga di UNS , UNS punya gugur bunga,
Foto dari Galuh Kinanti
November yang dingin memang kini dimulai di Surakarta, tak seperti Guns N Rose yang menggambarkan dinginnya November lewat sebuah lagu dengan iringan nada tepatnya diberi judul November Rain (Hujan di Bulan November). Universitas Sebelas Maret Surakarta pun memiliki cara tersendiri dalam mengungkapkan dinginnya November. Cara lain yang ditunjukan 11 Maret yaitu dengan keindahan panorama.

Sudah hampir sepekan, universitas yang dijuluki Green Campus ini menunjukan aslinya, yaitu sebuah panorama guguran bunga disetiap deruan angin yang melakukannya. Tak sedikit bunga yang berjatuhan menjadikan panorama keindahan semakin memikat mata yang memandangnya. Tak hanya itu, mata yang tercengang melihat ke atas menunjukan bahwa mahasiswanya dan semua yang hidup di dalamnya tak ingin melewatkan kesempatan langka setahun sekali periodesasinya. Hirup nafas dengan alunan dinginnya udara serta mata yang memejam tak bisa kita bayangkan kenikmatannya.

Guguran bunga warna kuning bak hujan bunga tanpa ketakutan manusia untuk berlari menghindarinya. Aku salah satunya, mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang bahagia menjadi saksi mata keindahan panorama kampusku tercinta. Jika saja aku ahli matematika, aku pasti tak bisa menghitung seberapa banyaknya bunga yang berjatuhan. Jika saja aku ahli bisnis, aku masih berfikir untuk menjual keindahan bunga itu pada pihak lain. Jika aku ahli pertanian, aku pasti sudah mengerti kenapa bunga seperti itu hanya gugur di kampusku tercinta. Jika saja aku ahli ilmu komunikasi, aku pasti akan melakukan siaran langsung saat proses terjadinya guguran bunga. Jika saja aku ahli kependidikan, pasti panoramanya sudah aku bukukan.

Sayangnya aku hanya mahasiswa sastra, yang hanya bisa bercerita mengenai luar biasanya panorama kampusku tercinta saat terjadi guguran bunga lewat kata-kata. Tanpa sedikitpun berfikir akan ada yang membacanya dan menikmatinya bahkan merasa bahagia dan ikut merasakannya. Tapi inilah saya, yang bangga menjadi mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Akan kunikmati luar biasanya panorama yang kau (kampusku) sajikan setiap hari. Kesempatan yang seperti ini pasti akan kunanti meski hanya setahun sekali.

Umy Amanah
Powered by Blogger.