Tuesday, November 3, 2015

Richard Marx - Right Here Waiting

Oceans apart, day after day
Terpisah samudera, dari hari ke hari
And I slowly go insane
Dan perlahan aku hilang akal
I hear your voice on the line
Kudengar suaramu di telepon
But it doesn't stop the pain
Namun itu tak menghentikan rasa sakit ini

If I see you next to never
Jika aku hampir tak pernah melihatmu
But how can we say forever
Namun bagaimana kita bisa bilang selamanya

Chorus:
Wherever you go, whatever you do
Kemanapun kau pergi, apapun yang kau lakukan
I will be right here waiting for you
Aku akan tetap di sini menantimu
Whatever it takes or how my heart breaks
Apapun yang harus kulakukan atau betapapun hancurnya hatiku
I will be right here waiting for you
Aku akan tetap di sini menantimu

I took for granted, all the times
Kujalani begitu saja, semua waktu
That I thought would last somehow
Yang kupikir takkan pernah berakhir
I hear the laughter, I taste the tears
Kudengar tawa, kurasakan air mata
But I can't get near you now
Namun aku tak bisa menemuimu saat ini

I
Oh, can't you see it, baby
Oh, tak bisakah kau lihat, kasih
You've got me goin' crazy
Kau telah membuatku jadi gila

back to Chorus

I wonder how we can survive this romance
Aku tak tahu bagaimana kita bisa mempertahankan tali kasih ini
But in the end if I'm with you
Namun jika akhirnya aku bersamamu
I'll take the chance
Akan kumanfaatkan saat-saat itu

Back to I then Chorus

Waiting for you
Menantimu

SAJAK Sastra Indonesia 2015

Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta
Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menurut saya sudah cukup dewasa. Hal ini berkaitan dengan Studi Alternatif dan Ajang Kreativitas (SAJAK) yang diadakan setiap tahunnya untuk menyambut mahasiswa baru. Ini sebenarnya adalah sebuah acara yang orang umum lebih akrab menyapanya Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK). Namun, agenda ini diadakan di program studi Sastra Indonesia.


Puncak acara yang telah terselenggara dua hari yaitu 10 - 11 Oktober 2015 lalu dimulai pada Sabtu, 10 Oktober 2015. Pagi hari, acara dibuka oleh Dra. Chattri Sigit Widyastuti, M.Hum. (KAPRODI) Sastra Indonesia. Segala harapan terbang bersama seikat balon udara yang diterbangkan secara simbolik, hingga acara selanjutnya menjadi memori bahagia seperti senam bersama dan penampilan-penampilan yang sesungguhnya.

Akhirnya masuk pada acara inti, yaitu seminar. Mengundang dua pembicara dalam Seminar Kepenulisan Kreatif tentu menjadi saat yang ditunggu-tunggu untuk berbagi ilmu. Pertama adalah Rianna Wati, S.S. M.S. (dosen Sastra Indonesia FIB UNS). Karya beliau yang sangat banyak tentunya dalam kepenulisan menjadikan seminar kala itu begitu menarik. Banyaknya buku yang telah diterbitkan oleh beberapa penerbit menjadi alasan bagi panitia meminta beliau untuk berbagi ilmunya pada kami dan para mahasiswa baru dan semua yang datang pada waktu itu.

Acara yang dipandu oleh Zulfahmirda Matondang (mahasiswi Sastra Indonesia angkatan 2014) tentu semakin menarik saat Sosiawan Leak mulai berbagi pengetahuan soal dunia kesastraan. Memiliki nama asli Sosiawan Budi Sulistyo atau yang lebih dikenal Sosiawan Leak merupakan sastrawan dan budayawan asal Surakarta. Karyanya yang sudah sangat banyak yang dibarengi dengan sepak terjangnya menjadikan banyak mahasiswa terinspirasi dari beliau.

Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tahun 1994 ini sepertinya sudah tidak diragukan lagi dalam berbagai karya dan sepak terjangnya di dunia sastra baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Salah satunya pada Festival Puisi Internasional The Road di Bremen, Jerman, membaca puisi dan memberi workshop. Saat itu pula diundang membaca puisi dan menjadi narasumber di Universitas Hamburg dan Universitas Passau Jerman (Mei 2003).


Diskusi yang terjadi setelah pemaparan ilmu oleh narasumber sangat hangat. Ini berkaitan dengan banyaknya peserta seminar yang ingin bertanya dan batasan yang diberikan oleh moderator pada setiap terminnya. Namun, akhirnya setelah diskusi antarpeserta dan narasumber, acara dilanjutkan kembali. Kini diisi dengan hiburan dan penampilan dari tiap-tiap Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di Fakultas Ilmu Budaya UNS.

Hari pertama SAJAK selesai pukul 16:30 WIB. Dilanjutkan pada hari kedua yang dilaksanakan pada Minggu, 11 Oktober 2015. Acara pada hari itu merupakan penampilan dari semua kelompok mahasiswa baru Sastra Indonesia 2015. Penampilan tujuh kelompok dilakukan secara bertahap. Ada kelompok yang menampilkan musikalisasi puisi, parodi, drama, pantomim, drama musikal, dll. Selanjutnya diisi oleh penampilan perwakilan dari tiap-tiap angkatan, diantaranya angkatan 2014, 2013, 2012, 2011 s.d. 2008. Selain dari tiap angkatan, ada juga dari BEM dan kelompok musik atau komunitas tertentu.

Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta

Puncak sajak hari kedua berakhir dengan pemberian penghargaan bagi tiap katagori. Perasaan mengharukan dan kebahagiaan terpancar dari orang-orang yang memahami SAJAK sesungguhnya. Dari proses yang telah dilewati dan segala yang telah dikorbankan untuk sebuah persembahan dan tujuan. Intinya adalah, saat semua orang menganggap OSPEK itu menakutkan, Sastra Indonesia UNS punya sesuatu yang membahagiakan mengenai OSPEK yang tidak semua orang mengetahui, mengerti, dan memahami. Menurut saya, ini merupakan bentuk kedewasaan dalam dunia pendidikan. Di mana banyak sekali kegiatan di luar sana yang tidak sedikitpun mendidik dan itu masuk dalam agenda pendidikan.

Segalanya telah berlalu, tapi saya selaku panitia bersama rekan-rekan Sastra Indonesia angkatan 2014 berterimakasih atas segala proses yang telah dilewati. Sastra Indonesia..........! "AKU SAYANG KITA". Itu saja.

Saturday, October 31, 2015

MAKALAH SASTRA BATAK DAN SASTRA MINANG

MAKALAH SASTRA BATAK DAN SASTRA MINANG
Dibuat untuk memenuhi tugas Ulangan Tengah Semester
 Mata Kuliah Sastra Nusantara
Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M.Hum.




Disusun Oleh:
                      Nama                        : Umi Amanah
                      NIM                         : CO214064
                       Semester/Kelas        : 3/B





PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

MAKALAH SASTRA BATAK DAN SASTRA MINANG
Umi Amanah
Universitas Sebelas Maret Surakarta

1.      PENDAHULUAN
a.       Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki kekayaan sastra. Hal tersebut mengacu pada banyaknya wilayah kepulauan di Indonesia yang mengakibatkan adanya pembagian wilayah Sastra Nusantara. Dalam hal ini, penulis akan mengambil konsentrasi pada sastra nusantara yang wilayahnya terpengaruh budaya Melayu.
Pengaruh Melayu tentunya tampak pada bentuk-bentuk karya sastra seperti pantun, syair, seloka, gurindam, dan hikayat. Wilayah tersebut diantaranya Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaka. Namun, ternyata pembagian wilayah dalam sastra nusantara merupakan sebuah skema belaka yang di dalamnya masih terdapat tumpang tindih dan ketidakpastian. Dalam tulisan ini, penulis akan mengulas sastra Batak dan sastra Minang sebagai bentuk atau bagian dari sastra nusantara.

b. Rumusan Masalah
1.         Bagaimana contoh karya sastra Batak?
2.         Bagaimana isi dalam karya sastra Batak?
3.         Bagaimana suatu karya dapat dikategorikan dalam sastra Batak?
4.         Bagaimana contoh karya sastra Minang?
5.         Apa saja jenis karya sastra Minang?
6.         Bagaimana karya tersebut dapat dikategorikan dalam sastra Minang?

c.    Tujuan Penulisan
1.         Mengetahui contoh karya sastra Batak.
2.         Mengetahui isi contoh karya sastra Batak.
3.         Mengetahui bagaimana suatu karya dapat dikategorikan dalam karya sastra Batak.
4.         Mengetahui contoh karya sastra Minang.
5.         Mengetahui jenis karya sastra Minang.
6.         Mengetahui bagaimana suatu karya dapat dikategorikan dalam karya sastra Minang.


2. PEMBAHASAN
Sastra Nusantara adalah sebuah frasa yang menunjuk tentang karya-karya sastra dan hal terkait yang terdapat di wilayah kepulauan Asia Tenggara. Karena Indonesia merupakan negara yang masuk dalam negara kepulauan, oleh karena itu Indonesia memiliki sebutan Nusantara. Indonesia tentu memiliki banyak wilayah yang di dalamnya tentu terdapat karya sastra. Ini sangat dekat dengan pembagian wilayah sastra nusantara. Dalam hal ini, penulis akan memngambil dua wilayah di Indonesia yang memiliki karya sastra terpengaruh Melayu yaitu sastra Batak dan Sastra Minang.   
Sastra Batak merupakan hasil kebudayaan yang berkenaan dengan cerita rakyatnya. Ini berkaitan erat dengan Bahasa Batak pada zaman dahulu secara umum merupakan bahasa lisan. Sebenarnya hingga saat ini, sastra Batak belum dapat diuraikan dengan jelas dan lengkap karena beberapa faktor yang mempengaruhiny.

Wednesday, October 21, 2015

#sajakSINGKAT

Dia

Dia,
dia?
dia!

petaka,
lantas
aku bercerita
ini makna

dia,
dia?
dia!

Ah,
suara,
luka,
dan cerita

Cerita,
cerita?
Cerita!

semua
aku bunuh bersama
dia, dia? dia!
segala melegenda
aku membunuhnya

*Debu Ambigu

Saturday, October 17, 2015

Aku dan Dia Hanya Berdua

Rizal Muhamad, Aku dan Dia Hanya Berdua, Cerpen, Cinta, Karya Sastra
Langit sore tadi tidak aku hiraukan, mega yang memerah saja tiada aku perdulikan, apalagi pekat yang mulai datang membayang lekas saja aku tendang. Aku sedang bahagia, iya aku diterima oleh salah satu perguruan tinggi luar negeri. Berbekal tulisan yang kerap kali aku postingkan, ternyata ada sedikit mata-mata yang memperhatikan. Katanya, itulah salah satu alasan.

Sedikit saja sebenarnya rasa yang aku bingungkan. Darimana aku akan memulai, bersama siapa, dan akan bagaiana? Ah, aku kembali pada bahagia. Kebingunganku dijawab Tuhan bersama realita. Aku bertemu teman SMPku, dia masih sering bercanda bersamaku. Jangan Tanya seperti apa, lewat apa, dan bagaimana! Intinya kita sama, ternyata dia juga diterima di perguruan tinggi luar negeri.

Aku sampaikan kabar bahagia ini padanya, anehnya kita diterima di perguruan tinggi satu Negara yang sama meski beda universitasnya. Raut merona terpancar dari kita berdua, seolah ada kebahagiaan di depan sana yang akan kita kejar, kita dapatkan, dan segalanya dengan kebersamaan. Iya, aku paling suka terakhirnya, secara bersama kita akan mendapatkan semuanya.

Paspor keberangkatan menuju Timur Tengah telah ada di tangan. Sekali ponsel kecilku bordering, satu pesanpun masuk.
Dia : "Aku jemput di bandara ya?"
Aku: "Iya," Lantas, hanya itu yang aku katakan padanya. Kita bersahabat telah lama, hingga kebaikan yang dia berikan tidak dapat aku maknai lain. Keberangkatan dia yang lebih dulu dariku sebenarnya membuatku sedikit bias tersenyum. Karena tanpa aku mau, dia telah menyiapkan segalanya untukku.

Tujuh jam di pesawat membuatku banyak berfikir tentang dia, iya dia sahabatku dan sahabatnya. Jujur saja, dia adalah sahabat dari laki-laki yang aku suka. Segala yang aku rasa, aku ceritakan padanya. Lama sekali aku merepotkan dirinya karena menyukai sahabantnya. Anehnya dia selalu bias mengubah tangis menjadi tawa, itu yang aku suka.

Wah, beberapa menit lagi pesawat ini akan tiba di negeri orang. Satu-satunya yang aku harapkan adalah dia yang akan menyambutku dengan kebahagiaan, perasamaan harapan, serta tujuan. Suara bising gesekan roda dengan aspal menjadi jeritan yang tiada terelakan, baling-baling pesawat mulai pelan, dan pintu kabin mulai terbuka.

Aku lihat langit biru yang dinodai awan, kakiku mulai turun perlahan menapaki anak tangga, sesaat aku berada di landasan yang menyadarkanku begitu kecil dibanding semesta. Tapi waktu itu perasaanku masih begitu besar, jika semesta bisa aku teriaki kebahagiaan yang luar biasa. Kemudian aku naiki bus yang tersedia bersama koper yang melekat di tangan.

Sampai di terminal bandara negeri entah siapa, dia ternyata sudah ada di gerombolan penjemput lainnya. Iya, dia temanku, sahabat dari pria yang aku cintai. Lambaian tangannya waktu itu membuat aku bahagia dan tenang. Karena akan ada yang bersamaku diantara jutaan orang yang tiada peduli dan mengenalku. Lntas kemudian aku menghampirinya, manatapnya dan menyapa dalam hatiku bahwa dia yang akan ada untukku.
Koper yang awalnya di tanganku kini pindah di tangan kirinya. Sambil diam kita berdua melangkah meninggalkan terminal bandara. Saat lantai-lantai yang bersih menjadi saksi langkah kita, aku takut jendela-jendela kaca bisa melihat bagaimana tangan kanannya menggandeng tangan kiriku. Melengkapi ruas yang telah lama kosong, dan genggaman erat yang seolah tidak mau kehilangan.

Panjangnya jarak dari penjemputan menuju tempat parkir taksi yang telah dia sediakan, aku hanya bisa menatap samping mukanya. Lama dan penuh makna, aku jarang sekali memperhatikan dia sampai sebegitunya. Ini adalah pertama kalinya, seketika itu aku melupakan dia sahabatku, melupakan sahabatnya yang aku suka, dan menaggap semua ini perlu dimaknai berbeda.

Tatapan matanya padaku seketika membangunkanku dari lamunan, dari angan yang tidak pernah terbayang. Taksi telah ada di depan mata, pintu yang terbuka mengharuskan aku untuk memasukinya, genggaman eratpun harus aku lepaskan, dan terkesan semua terselesaikan. Aku lantas menempati tempat duduk di sebelah kiri dan dia di sebelah kanan.

Perbincangan banyak kita angkat dari topic-topic yang sudah terlewatkan, termasuk bagaimana aku dengan perasaanku yang kerap kali aku bagikan padanya. Keseruan hanya kita miliki berdua, sopir taksi yang tidak mengetahui segalanya karena berbeda bahasa, pemandangan di luar sana yang masih terkalahkan oleh tema, hingga kebisingan kendaraan lain yang masih bisa kita kalahkan.

Perjalanan terkesan singkat, gedung penginapan mahasiswa yang berada di kanan jalan membuat semuanya behenti. Pembicaraan, keseruan, kebahagiaan, dan tawa kebersamaan, semuanya berhenti, dan segalanya mati. Mulai terbanyang bagaimana keadaan ke depan.

Koperku mulai diturunkan oleh supir taksi. Aku dan dia pun akhirnya keluar dan memandang apa yang akan terjadi. Dia mengantarkaku pada tempat penginapanku. Menggunakan lift, lantai pertama, kedua, dan ketiga dilewati tanpa ada bekas. Pintu membuka di lantai empat, menuju pavilion nomor 26 kita lalui berdua tanpa jeda. Hal itu telah dipersiapkan dia sebelum-sebelumnya.

Sampai di tempat istirahatku, aku mulai berbenah dan bersantai ria. Sejenak aku memikirkan seseorang yang aku suka, karena orang itu akan lama tidak bersamaku, tapi aku akan lama berada dekat bersama sahabatnya. Iya, dia adalah sahabat orang yang aku suka.

Tiba-tiba ponselku bersuara, satu pesan masuk.
Dia : "Akan aku ajak kamu berkeliling kota ini sore nanti, aku jemput tiga jam lagi."
Aku : "Ok, keknya seru. Aku siap-siap dulu." Itu jawabanku, bergegas aku membereskan barang-baangku yang telah termuntahkan dari dalam koper.

Sore datang begitu cepat, dia memberitahuku sudah berada di bawah gedung pavilionku. Bergegas turun dan keluar dari gedung, senyum hangat dia menyambutku. Udara dingin penusuk tulang sedikit membuatku kedinginan, mungkin karena belum terbiasa saja. Ah, jahatnya dia malah tertawa.

Beberapa puluhan meter telah kita lewati berdua, shall di leherku aku naikkan, jaket di badanku kemudian aku kancingkan. Tapi tangan ini masih terabaikan, aku gosok-gosokan kedua tanganku sembari berjalan di trotoar jalan bersama dia. Sinar matahari sore itu tidak mampu mengalahkan dingin, bunga yang mekarpun masih mampu menengadah pada cahayanya.

Jalan-jalan begitu ramai sesak dipenuhi banyak orang sore itu, namun yang merasakan kedinginan sepertinya hanya aku. Kembali lagi dia tertawa, iya seseorang yang di dekatku. Ah, aku menunduk dan seketika aku melihat tangan kanan dia menyambut tangan kiriku lantas dengan pelan menggenggam tanganku dan memasukannya pada jaket tebalnya. Jujur saja aku sangat kaget, tidak hanya itu yang aku dapat, karena kebahagiaan dan kenyamanan aku dapatkan pada waktu dan tempat yang sama.

Aku dan dia, dan hanya berdua, kita lewati jalan-jalan kebisingan kota. Dia mengajakku pada sebuah taman kota yang banyak pengunjungnya. Melewati pintu masuk yang tiada penjaganya, aku seolah menegakkan langkah, menyiapkan mental dengan siapa aku berjalan. Dengan dia temanku, sahabat dari orang yang aku suka. Dan kini, tanganku masih ada di saku jaket tebalnya.

Perlahan dia mengeluarkan tanganku dari saku jaket tebalnya, sambil berjalan di lantai yang membentuk pola seni kemudian dia merangkulku. Aku dan dia tidak berhadapan, tidak saling memandang, dan tidak saling bertatap. Kita hanya menatap ke depan, merasakan segalanya terjadi seolah sudah ditakdirkan.

Perkataan demi perkataan mulai diungkapkan.
Dia : "Aku tau siapa yang memiliki hatimu, aku tau siapa yang kamu cintai, dan aku tau siapa yang memiliki rasamu. Aku tau semua, tapi bolehkah aku meminta padamu agar kamu mencintaiku, agar aku memiliki hatimu, dan agar aku ada dalam rasamu?"

Langkah kaki kemudian menjadi begitu beratnya, tatapan mata tajam masih lurus ke depan, dan tangan masih merangkul dipundak yang seolah ketakutan. Seketika, semua terhentikan. Dia memaksaku menatapnya, memandangnya, dan menjawab segala yang dia tanyakan, hingga akhirnya kita berdua berhadapan dan aku dan dia hanya berdua.

Di tengah taman yang berkeramik pola Timur Tengahan aku menangis, yang kemudian memaksaku menyandarkan jiwa dan ragaku pada dadanya. Membasahi jaket tebalnya dengan air mata, dan membuatnya memelukku seolah akan kehilangan.

Aku lupakan orang yang aku suka, aku lupakan dia sahabatnya, aku lupakan lima tahun aku menunggu sahabatnya, aku lupakan diam yang membuatku bisu di hadapan cinta, aku lupakan ungkapan-ungkapan kode untuk memberitahukan,  aku lupakan segala hati yang pernah aku korbankan, dan aku melupakan segala kesakitan yang telah aku lewatkan.

Saat ini aku ada di hadapan cinta yang agung, di hadapan dia yang mencintaku seperti cinta yang aku memiliki. Serta detak jantung keseriusan yang dapat aku rasakan hingga di luar jaket tebal yang dia kenakan. Aku yakin saat ini aku mencintainya dan aku memberikan rasaku untuknya dengan melupakan segala yang pernah aku sia-siakan sebelumnya.

Aku sambut pelukannya, aku satukan kedua tangaku di punggungnya. Hingga aku merasakan dekapan yang seolah tidak ingin terpisahkan. Dan aku yakinkan bahwa dia yang harus aku perjuangkan, dia yang memintaku untuk mencintainya, bukan yang aku minta untuk mencintaiku. Saat itu segalanya hangat, dingin mulai menjauh, malam menyambut kebahagiaan, dan di atas kita ada mega tidak segagah biasanya di hadapan aku dan dia, serta di hadapan cinta yang agung.

Rizal Muhamad, Aku dan Dia Hanya Berdua, Cerpen, Cinta, Karya Sastra
Iya, sekarang aku mencintai dia, dan semua itu hidup dalam mimpiku sore tadi. Jangan salahkan aku untuk membawa semuanya dalam realita. Itu semua memang mimpi, tapi jika awalnya dimulai dari kerinduanku pada dia, aku rasa mulai ada yang berbeda antara aku dan dia. Akhirnya, sore tadi kita telah bertemu (dalam mimpi), aku dan dia hanya berdua. Bangunku, membawaku melupakan cinta yang sebelumnya dan memulai segala yang belum pernah ada. Semoga aku dapat cinta yang tidak hanya hidup dalam mimpiku, tapi secara nyata dalam realita. Itu saja,
*Debu Ambigu

Friday, October 16, 2015

Surat Untuk Terkasih

Surat Untuk Terkasih #coretSINGKAT
Wahai pemilik cinta yang terkesan dipeluk nistapa. Jika aku hitung waktu yang telah aku lalui untuk diam, apa kau sanggup menggambarkan? Jika aku kejar waktu lamanya aku memulai mencintaimu, apa kau sanggup berlari bersamaku? Jika aku bicarakan tentang cinta yang memenuhi sajak-sajaku, apa kau sanggup membaca tanpa ada jeda waktu? Dan jika aku ceritakan bagaimana aku mencintaimu lewat tulisan, apa kau sanggup untuk memaknai perasaan?

Itu semua yang aku ragukan. Karena selama ini kau menganggap semua puisiku itu visualisasi imaji, ceritaku adalah larik penghibur diri, dan suratku adalah bentuk nyata dari hasil karya sastra.

Semua itu bukan, wahai yang terkasih..! Karena puisi adalah ungkapan cinta yang sanggup aku beri, cerita adalah bentuk nyata bagaimana aku mengadu pada dunia tentang cinta, dan surat adalah bentuk terakhir bagaimana aku memberitahumu tentang cinta yang tersirat.

Lantas, apa yang akan kau tanyakan padaku setelah membaca suratku? Memastikan atau bahkan memutuskan? Keduanya, aku telah memiliki jawaban. Tapi jika kau masih saja tidak paham, kau telah membuatku kembali diam untuk sesuatu yang menyakitkan.

*Debu Ambigu

Saturday, September 19, 2015

Ini Tentang Kecewa

Ini Tentang Kecewa
Sekian lama tidak menulis, agaknya aku bingung ingin memulai kalimat awal apa dan mengambil judul apa. Sayangnya, karena hari ini begitu berat, jadi aku mencoba memvisualisasikannya pada tulisan. Semoga saja kepalaku tidak meledak karena emosi dalam diri yang sejatinya tidak terkontrol lagi.

Ini tentang kecewa jujur saja. Iya, hari ini aku ingin sekali mencurhakan tulisan tentang kecewa. Wah masih bingung juga ini tentang kecewa, mengecewakan, atau dikecewakan. Satu kata, tapi dengan beberapa afiks itu maknanya jadi sangat berjauhan.

Kalau saja kata 'kecewa' itu sedang dalam mata kuliah Morfologi, wah tentu saja akan terjadi seperti ini,
kecewa => me + kecewa + kan
kecewa => di + kecewa + kan
Itu, sederhananya dalam Morfologi, dalam hidup ini ternyata berat sekali. Ah, entahlah. 

Ah, hari ini memang bisa dibilang hari yang sangat berat. Berat antara menjadi pecundang atau pengecut. Aku ingin sedikit bercerita tentang pecundang, iya pecundang. Awalnya aku kira, aku tidak mau menjadi pecundang, habisnya pecundang itu suka sembunyi-sembunyi. Apalagi sembunyi dari masalah.

Eh ternyata, hari ini aku telah menjadi pecundang. Alasannya simpel saja, karena jika aku jadi pembelapun yang aku akan dapatkan sama saja dengan jadi pecundang. Iya, ini kembali pada pilihan mana yang lebih mudah dan ringan. Bukan tidak suka pekerjaan berat, tapi karena tersaji yang ringan dan menguntungkan, kenapa harus mengambil yang berat dan merugikan. 

Nah anehnya, setelah menjadi pecundang. Aku ternyata juga jadi pengecut. Kalu ini tentang diam tentu saja. Diamku kali ini sebenarnya bukan diam emas pada umumnya, karena ini tentang diam yang membara, diam yang beramarah, dan diam tentang sesuatu bertentangan dengan nurani. Jika berbicara tentang nurani itu terlalu jauh, baiklah ini yentang hati. 

Kembali pada hal bahwa ini tentang kecewa, tentang mengecewakan atau dikecewakan. Awalnya sebenarnya aku merasa bahwa aku telah mengecewakan. Sayangnya pola berpikirku berubah di tengah-tengah. Karena ini jujur saja tentang kecewa yang diimbuhi afiks 'di' dan 'kan' hingga berakhir dikecewakan. 

Satu kata, beda penambahan hingga beda penafsiran. Lantas katanya kita satu keluarga, beda perlakuan, hingga beda memaknai siapa yang sebenarnya benar-benar benar dalam kesalahan. Itu tidak ada. Itu saja.,  

Umy Amanah
Powered by Blogger.