Sunday, September 6, 2020

Dear Me #2

I don't know why I hate myself so much today. I think that everything in my heart, my brain, and in my body aren't in tune. It sucks honestly, but I can't handle them. How can everything inside us aren't in tune if we are the only thing that have those of things? Lot of times I always confused. I thought that my heart always knew about something that's right or not right. And then my brain think of how I should be or suppose to be, but the problem is in my body. The body is always like that, show to the heart and the brain that the body don't wanna be that the heart or the brain want. I am in so much trouble about that. How I can't handle my body to be something that my heart and my brain want. How to handle my body to be that the what the heart and the brain want it? 

How? Because I don't wanna ask why? 


Surakarta, 6 September 2020 

Wednesday, June 24, 2020

Dear Me #1

Hi you, it's been a long since the last time you posted the last story. So, what happen today? Why suddenly you open this site? Honestly, I don't know what happen with me. Just feel confuse about something. Btw, can I talk to you? Right, I think you want to listen to me now. 

Actually, I'm so confusing about something right now. That feeling started a couple days ago. I wanna tell you something. Sure, I will to be honest with you. You know that a couple days ago I got "big opportunity" for my life, but since that time I tell you that I scared to much. I don't know why and what I scared about. That opportunity makes me think about a lot of stuff. Many things gather in my brain. So, I can't think clearly and do my work at the office. Still, I haven't decide anything and every time I think about what my decision suppose to be, my brain hurts and feels so heavy. I did salat and told Allah Swt. whats going on. Now, I'm focus to understanding whats the sign that Allah gives to me. I hope you will say that what I'm doing is right. I tell you this, me. 

Surakarta, 24th June 2020

Sunday, January 19, 2020

Kulminasi (dan cerita-cerita lain)


Kulminasi dan cerita-cerita lain
Kulminasi (dan cerita-cerita lain) adalah sebuah buku antologi cerpen para Penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival, Ubud, Bali, 2016. Menurut kata pengantar, buku ini adalah media bagi mereka untuk mengikat tali silaturahmi dan produktifitas berkarya. Begitu ringkasnya.

Sejujurnya dari sekian banyak cerpen yang ada di dalamnya, saya perlu jungkir balik untuk memahaminya. Habisnya, baik tema, latar, maupun pemikiran dalam cerita berbeda-beda. Misalnya saja tema cinta yang bahkan dimaknai berbeda-beda dalam setiap cerita. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam saya memahami isi.

Saya boleh bilang bahwa hampir semua cerpen dalam buku ini saya sukai. Akan tetapi, sebagai pembaca saya tentu saja tidak munafik untuk mengakui ada satu cerita yang menjadi favorit saya.

Depor (dibaca dapur) karya Arung Wardhana Ellhafifie berhasil menjatuhkan hati saya. Depor adalah sebutan dapur oleh
orang-orang Madura. Berseting di Pondok Pesantren Nurut Taufiq dari 1987 sampai 2016 diringkasnya menjadi cerita 10 halaman.

Saya sangat terkesan dengan isi ceritanya. Pemahaman saya mengenai cerita tersebut adalah tentang prinsip "kesabaran dan penerimaan". Kita tidak pernah tahu segala sesuatu yang saat ini sedang dilakukan akan bermuara ke mana. Seperti keteguhan hati seorang santri dalam cerita yang sangat mencintai Kiainya sampai ia pun menjadi juru masak Kiai selama 12 tahun.

Cita-cita seorang santri adalah mengaji, mendapatkan ilmu, dan kembali ke kampung halaman untuk mengajar, sudah begitu kebiasannya. Akan tetapi si tokoh berbeda, Kiai menjadikannya juru masak selama 12 tahun, bahkan mengaji hanya dari kesempatannya mendengar obrolan Kiai dengan para tamu.

Keadaan seperti itu tidak menjamin seorang santri pun tidak mengeluh. Banyak keluhan, kekhawatiran, protes, dan penyesalan. Hanya, dalam hati seorang santri itu terdapat cinta yang besar dan kasih yang tulus kepada Kiainya. Sehingga, 12 tahun dilewatinya dengan kesabaran dan penerimaan.

Saya sebagai pembaca termasuk orang yang percaya bahwa kesabaran akan berlabuh kepada sesuatu, yang baik tentu saja. Seperti pada cerita, kesabaran dan penerimaan si santri dalam cerita membawanya menjadi pemimpin pondok pesantren menggantikan Kiainya yang meninggal dunia.

Seorang santri yang selama 12 tahun tidak pernah mengaji. Kegiatannya pun hanya memasak di dapur Kiai kini menjadi seorang pemimpin pondok, bahkan bukan lagi menjadi pengajar ngaji di kampung halaman seperti kebiasaan. Kesabaran dan penerimaannya berlabuh kepada yang baik, bahkan terbaik di kalangannya.

Surakarta, 19 Januari 2020

Sunday, January 12, 2020

LIFE BEGINS AT THE EDGE OF YOUR COMFORT ZONE

Life Begins at the End of Your Comfort Zone
Semua orang akan berubah, kecuali dia.
Foto: Wisuda 15 Desember 2018
I just wanna write my feeling this night. As you know, this night is one of the best night that I can have. That's happen because just few hour ago something big happened in my life. What is that? That is courage. Courage is one of important thing in my life, because I think without courage someone (like me) was tortured for a long time. 

I always love my family with a whole heart. That's the reason I did everything for them. I always think about them first. Especially about their happiness. I always focus to make them happy. I think about whats can make them happy. And I always try as best as I can to not make a mistake. But, as you know people like me (of course) made a lot of mistake. That hurts me. 

But you know, focus to make them happy was made me forgot abut happiness itself. I forgot to understand whats the real happiness. I even never ask to them what is in this world that can make them happy? So, how can I make them happy if I don't understand happiness itself. I forgot about that (their happiness). 

So, this night I ask them. Whats in this world can make them happy? They said that something can make them happy is if I'm happy. The problem is, I think after a long journey that I have, I just focus to them, make them happy with everything that I can gave. Even I don't like it and I'm not happy when I do that. I think they will happy for what I can give, even I'm hurt when I do that. And I forgot about my happiness. The important thing that can make them happy. 

I know this night that I'm wrong. Their happiness is me, if I'm happy. So first, I should make my self happy. Just because of that I can make them happy. I realize how can I forgot about that. How can I forgot about my happiness. So I told them that I wanna catch my dream, my big dream in this world that can make me happy and of course I can make them happy too.

This night, I'm proud of myself because I have courage to ask them about that. I thought I was understand about happiness (their happiness and my happiness), but I'm wrong. And in Asian culture, talk with parents about life, struggle, love, and happiness of course is really need courage and bravery. I'm proud I have both this night. And the end, I told them that I love them so much. How grateful I am. 

Surakarta, 12th January 2020. 

Sunday, August 11, 2019

Perbincangan 2 Orang Editor

Editor
Work Space 
Gus Mus bilang, seseorang hanya perlu kerendahan hati untuk menerima semua ilmu yang ada di sekitar kita, terutama menganggap bahwa semua yang ada bisa menjadi guru untuk diri kita. Sepertinya sejak dua malam lalu saya mulai setuju dengan pendapatnya. Hal tersebut ternyata terbukti saat saya berbincang dengan teman satu kelas saya saat kuliah (kemarin), baru kemarin.

Ceritanya adalah mengenai perbincangan dua orang editor. Teman bicara saya dua malam lalu adalah teman sekelas saat saya kuliah. Ia menjadi lulusan pertama angkatan saya, sidang pertama, dan wisuda pertama. Kerennya lagi tidak ada masa tunggu untuk ia mendapatkan pekerjaan. Sejak lulus sampai saat ini, tepatnya satu tahun ia berkerja sebagai editor di salah satu penerbitan buku kota tempat kami kuliah.

Sejujurnya, saya memiliki pekerjaan yang sama dengan ia. Dapat dibilang, saya masih newbie menjadi seorang editor. Saya menjadi editor sejak tujuh bulan lalu di sebuah Publishing, Offset, and Trading Company. Ini adalah pekerjaan ketiga saya setelah sidang pendadaran. Ada dua pekerjaan yang sudah saya tekuni setelah sidang, tepatnya sebelum wisuda.

Persamaan pekerjaan menjadikan kami sering berbincang. Istilah Jawa-nya gendu-gendu rasa. Kami sering berbincang mengenai banyak hal, dari urusan tugas kerja sebagai editor, sampai pada manfaat menjadi seorang editor. Oya, perlu Anda ketahui, bahwa saat ini suatu bidang pekerjaan tidak hanya memiliki satu tugas pekerjaan. Misalnya saja menjadi editor, zaman sekarang editor tidak hanya bertugas mengenai menyiapkan suatu naskah siap terbit, tetapi dituntut untuk bisa mebuat atau menulis buku, mengedit, dan menginovasi sebuah buku.

Hal tersebut menjadikan saya sering berbincang dengan teman saya sesama profesi. Kami berbagi cerita mengenai pekerjaan yang menurut saya tugas teman saya di kantor lebih berat daripada saya meski sama-sama seorang editor. Kami sering membanding-bandingkan tugas, bukan untuk apa-apa karena semata-mata hanya agar lebih bersyukur. Begitu mudahnya, membanding-bandingkan untuk mensyukuri yang kita punya.

Poin penting pembicaraan saya dan teman saya atau mungkin bisa disebut sebagai pembicaraan dua orang editor adalah mengenai segi kebermanfaatan. Tentu saja, setiap orang berkeinginan agar hidupnya bermanfaat. Terlebih lagi apabila seseorang dapat mengamalkan dan membagi ilmunya kepada orang lain.

Saya sesekali berkeluh kesah mengenai tugas seorang editor yang sangat banyak dan berat. Senangnya, perbincangan dua malam lalu mengetuk hati saya. Teman saya, yang saya anggap senior sebagai seorang editor tiba-tiba mengatakan, bagaimana jika kita lebih memikirkan segi kebermanfaatan menjadi seorang editor? Katanya berlanjut menjelaskan. Ia mengatakan bahwa di luar banyaknya kesulitan menjadi seorang editor, secara tidak disadari banyak sekali yang sudah kita berikan pada masyarakat.

Meski berbeda perusahaan, kami berada pada satu jenis perusahaan penerbitan buku pendidikan (sekolah). Menurutnya, dengan berada di sebuah perusahaan penerbitan buku pendidikan tentu sudah menjadi barang pasti bahwa ternyata kita berdua berkontribusi di dunia pendidikan. Setiap hari kita membuat, mengolah, menginovasi, sampai pada menyiapkan sebuah buku bahan ajar dapat diterbitkan, sebagai editor. Jika saja kita melakukan itu untuk satu buku dan dicetak ribuan eksemplar serta kemudian dibaca oleh ribuan orang yang berniat belajar, betapa beruntung kita sebagai kontributor di dalamnya.

Padahal, sejauh ini sudah berapa banyak buku yang ada kontribusi kita di dalamnya? Menurut teman saya, sebagai seorang editor buku hanya perlu niat karena Allah Swt. untuk mengamalkan dan berbagi ilmu. Sisanya, apabila buku itu dapat dibaca, dipelajari, dan menjadikan satu orang saja mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui tentu akan menjadi amal jariah kita (sebagai editor) ke depannya. Begitu simpelnya.

Setelah berbincang dengannya dua malam lalu, saya semakin menikmati pekerjaan saya. Sejujurnya, sebelumnya saya tidak pernah berpikir sejauh itu. Mengenai segi kebermanfaatan minimal satu buku dapat membuka wawasan untuk satu orang, maka akan menjadi amal yang tidak terputus bagi seorang editor atau seluruh orang yang berkontribusi di dalamnya. Syaratnya, semua diniatkan karena Allah Swt.

Gus Mus benar, saya bahkan dapat ilmu dari teman saya sendiri. Kita hanya perlu keluasan hari untuk menerima banyak ilmu dari banyak guru di sekitar kita. Terima kasih teman kuliah dan teman profesi dari dulu sampai sekarang. Kita selalu tidak tau sesuatu yang ada di depan, kita hanya perlu belajar dan melakukan yang terbaik sekarang.

Surakarta, 11 Agustus 2019

Monday, September 24, 2018

Petualangan Bersama Allah Swt.: Setelah Kuliah? Mencari Allah Swt.

Hari ini Selasa (25/9/2018), saya ingin mulai menuliskan Petualangan Bersama Allah Swt. Saya memberi judul pada postingan kali ini, yaitu "Setelah Kuliah? Mencari Allah Swt." Hal ini sebagai jawaban saya kepada banyak orang yang bertanya, "Setelah kuliah mau apa/ngapain?"

Well, this is the answer. Setelah kuliah, saya ingin sekali "mencari Allah Swt". Keinginan ini menjadi salah satu bagian dari petualangan saya bersamaNya. Tentu saja, bahwa saya telah bersama Allah Swt. sejak Ia menciptakan saya.
Lalu, kenapa saya ingin mencariNya?

Sejujurnya saya menulis ini di sela-sela menunggu wisuda. Pertanyaan yang sangat membosankan selalu dilontarkan orang kepada mahasiswa yang statusnya seperti saya (nunggu wisuda), mending daripada (jomblo menderita).
Perasaan saya ingin "mencari" Allah Swt. sudah saya planing sejak lama, tapi apa daya. Saya sangat sombong dengan kesibukan dunia yang fana.
Lalu bagaimana? Sebelum terlalu jauh dan salah perspektif, saya ingin menegaskan bahwa maksud dari "mencari" adalah "mendekati" Allah Swt.
Oke, kembali ke topik. Alasan saya ingin mencari Allah Swt. setelah kuliah didasari oleh banyak hal. Pertama, karena keinginan saya. Kedua, tentunya karena kuliah saya selama empat tahun yang luar biasa. Ketiga, karena orang tua dan keluarga. Keempat, karena pembimbing skripsi saya. Kelima, karena sahabat dan lingkungan.

Pertama: Keinginan
Saya adalah salah satu orang yang memiliki keinginan sangat kuat, sehingga sangat sering dibilang memaksakan kehendak. Saya pikir itu positif, karena pertama adalah saya orang yang memiliki keinginan kuat, akan tetapi saya ingin mencari Allah Swt. agar tidak memiliki embel-embel "memaksakan kehendak", namun lebih pada "berikhtiar" yang berarti berdoa serta berusaha lantas menyerahkan segala hasil kepada Allah Swt.

Kedua: Kuliah Empat Tahun yang Luar Biasa
Sejatinya pada awal, saya adalah mahasiswa salah jurusan. Kuliah saya "kupu-kupu" alias kuliah-pulang kuliah-pulang. Hidup saya FLAT waktu itu, tetapi memasuki semester tiga banyak hal yang akhirnya membuat saya jatuh cinta BANGET pada bidang studi yang saya ambil. So, sejak itulah HARD TIME HAS BEGIN, kalo kata kids jaman now "pas lagi sayang-sayangnya dan cinta-cintanya". Saya menghabiskan enam semester saya dengan air mata. Penyebabnya banyak, setiap orang pasti punya. Hal yang paling saya sukai adalah ketika enam semester itu saya sering menangis saat salat, doa, dan sendirian. Akhirnya saya dapat berdiskusi dengan Allah Swt. setelah selama itu (OMG I got it). This is one of the best feel I can have.

Ketiga: Karena Orang Tua dan Keluarga
Pasti, bahwa orang tua dan keluarga menjadi salah satu hal yang mendukung saya untuk mencari Allah Swt. Hal itu karena sejak saya kuliah, ortu dan keluarga pun ikut merasakan hard time. Keadaan itulah yang membuat saya berpikir, Allah Swt. is the only one who can give everything (for them), but I can't.

Keempat: Pembimbing Skripsi
Namanya Pak Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.A. Saya mengenal beliau sejak semester dua dan mulai sering berdiskusi sejak semester tiga. Sejak itulah saya percaya bahwa beliau bisa membimbing saya sampai skripsi. Hadiahnya adalah bahwa beliau tidak hanya sekedar pembimbing skripsi, namun membimbing dalam kaitannya dengan kehidupan. Setiap kali diskusi sejak semester bawah dan mulai intens bimbingan skripsi, saya sering mendapati bahwa beliau selalu mengaitkan satu hal dengan banyak konteks. Hal itulah yang membuat saya kagum pada beliau. Pada suatu bimbingan, kami sedang membahas konteks dari teks karya sastra dan beliau mengatakan, "Orang yang dekat dengan Allah Swt. pasti bahagia." Waktu itu bertepatan dengan saya yang sedang uring-uringan merasa tidak bahagia dalam hidup. Saya lantas menyimpulkan bahwa saya tidak dekat dengan Allah, maka saya tidak bahagia. Sejak itulah, saya ingin mencari Allah untuk kebahagiaan saya.

Kelima: Sahabat dan Lingkungan
Waktu-waktu sulit selama perkuliahan akhirnya menunjukkan sahabat-sahabat yang selalu tinggal namun tidak pernah meninggalkan. Sahabat itu kemudian menuntut saya pada lingkungan yang akhirnya membentuk saya, bahwa makhluk ciptaanNya saja mengasihi saya sedemikkan rupa. Lalu bagaimana atas apa yang dilakukan sang pemilik rasa kasih yang sesungguhnya kepada saya? Hal tersebut benar-benar membuat saya ingin mencarinya.
Beberapa uraian tersebut merupakan faktor yang mendukung saya untuk mencari Allah Swt. tentunya agar saya bahagia. Sisanya adalah reward dan hari ini, saya memulainya.
Bismillah, setelah kuliah? Saya mencari Allah Swt.

Saturday, August 4, 2018

Lombok, 27-30 Juli 2018

Lombok International Airport
Melihat postingan terakhir saya di blog ini rasanya sudah terlalu lama. Seketika, saya jadi ingin berbagi pengalaman mengenai perjalanan saya ke Lombok selama empat hari tiga malam. Anggap saja tulisan ini untuk memperbarui draf entri sekaligus berbagi cerita jalan yang dulu sering dilakukan namun tiba-tiba menjadi seperti terlupakan.

Masih ingat tentang gema berkekuatan 6.4 SR yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat pada 29 Juli 2018 lalu? Iya, waktu itu saya sedang berada di sana. Perjalanan saya untuk mengikuti acara "Seminar Antarbangsa: Arkeologi, Sejarah, Bahasa, dan Budaya di Alam Melayu" menjadikan saya salah satu orang yang merasakan gempa tersebut. 

Kepanikan terjadi pagi hari saat banyak orang bersiap memulai aktifitasnya. Waktu itu saya sedang mempersiapkan untuk mengikuti hari kedua acara seminar. Penginapan saya berada tepat di pinggir Pantai Senggigi, salah satu destinasi wisata favorit wisatawan yang datang ke Lombok. Mengingat posisi penginapan dan gempa yang datang tiba-tiba, saat itu saya hanya bisa berdoa dan memohon ampun kepada Allah Swt. 

Pascagempa pertama yang kemudian disusul gempa-gempa selanjutnya menjadikan saya dan kawan-kawan tetap berangkat ke acara seminar. Acara pun tetap berlangsung lancar meski gempa yang terjadi hari itu sedikit membuat panik. Hanya, pada pertengahan hari kedua seminar sempat dihebohkan dengan berita-berita yang muncul di media. Hal tersebut menjadikan beberapa keluarga yang berada di Jawa menjadi sangat khawatir. 

Komunikasi yang dilakukan lebih sering daripada biasanya diperlihatkan tidak hanya oleh saya, namun beberapa kawan-kawan pula. Hal ini terjadi karena banyak sekali peserta seminar yang berasal dari luar Lombok. Meski demikian, acara seminar tetap berjalan lancar sampai penutupan. Selebihnya, Lombok kembali tenang dan para peserta menghabiskan sisa waktunya dengan mengunjungi tempat wisata populer di Lombok. 

Perjalanan kemarin benar-benar memberi saya pelajaran, yaitu bahwa kematian memang sangat dekat dengan saya. Hal itulah yang dapat saya ambil dari perjalanan saya. Sekarang, saya perlu menghargai waktu yang telah Allah Swt. anugerahkan kepada saya. Selain itu, saya harap perjalanan ke Lombok seminggu lalu dapat mengajarkan kebaikan dan menjadi yang paling dirindukan untuk kembali. 

Surakarta, 4 Agustus 2018 
Nik Abdul Rakib Bin Nik Hassan
Bertemu dengan Nik Abdul Rakib Bin Nik Hassan (Head, Nusantara Studies Center)
Pantai Senggigi, Lombok, NTB
Pesawat Republik Indonesia
Pesawat Republik Indonesia
Lombok International Airport (29//7/2018)

ASBAM ke-7 2018
Pemakalah ASBAM ke-7 2018
(Mahasiswa pascasarjana kecuali saya)
Dr. Kathryn Wellen (Kitlv, Leiden)
ASBAM ke-7 2018
Pemakalah ASBAM ke-7 2018

ASBAM ke-7 2018
Acara Penutupan ASBAM ke-7 2018
The Jayakarta Lombok, Beach Resort & Spa
Powered by Blogger.