Friday, May 30, 2014

INSPIRASI TAK TERDEFINISI

INSPIRASI TAK TERDEFINISI Umy Amanah
Jika banyak blog yang menyajikan tulisan mengenai kata-kata mutiara, mungkin malam ini saya akan membuat sesuatu yang beda. Exactly, itu adalah sebuah inspirasi. Banyak orang yang berpendapat bahwa suatu inspirasi tentunya dari sebuah pemikiran yang kritis dan berdampak mengkritiskan pembacanya. Sayangnya aku akan menyajikan sebuah inspirasi namun tak terdefinisi, boro-boro kritis dalam pembuatannya, difikirkanpun tidak. Akupun tak berharap ini akan mengkritiskan pembaca, tapi aku berharap tanpa definisipun tulisanku dapat menginspirasi. Semoga ini bisa menggantikan kejenuhan para pembaca akan kata-kata muliara yang selalu sama karena hanya di copy paste saja. Saya (Umy Amanah) menyajikan sebuah Inspirasi Tak Terdefisini benar-benar murni dari saya. Saya tidak perlu membuktikan, biarkan anda semua para membaca yang meyakinkan.

"Berusaha mengubah DIRIKU terlebih dahulu, saat semua orang berusaha mengubah DUNIA." - Umy Amanah


"Aku yang bermimpi.
Aku yang berusaha.
Aku yang berdoa.
Aku yang merealisasikannya.
Dan aku yang mendapatkan akhirnya."
- Umy Amanah 


"Ternyata perlu sepi untuk kita mengerti betapa hati ini perlu ruang tuk sekedar menghela nafas saat fikir ini sadar bahwa sekarang aku tanpamu." - Umy Amanah


"Tidak mau menggembor-gemborkan, cukup menjadi penggemar yang selalu mendoakanmu padaNya. Hanya berharap agar kamu menjadi yang terbaik untukku tentunya, meski sekarang kita bukan siapa-siapa." - Umy Amanah


" Aku hanya bisa memberi kata dan berharap itu menjadi indah. Bukan memberi permata, yang aku takut itu akan tersingkirkan ketika ada kehadiran berlian disampingnya. " - Umy Amanah


"Sesaat aku menengok ke samping, berharap ada bahu yang bersedia tuk menjadi sandaran raga yang menjadi korban keletihan problematika hidup. Namun sayang, aku baru sadar bahwa aku benar-benar sendiri saat seperti ini." - Umy Amanah


"Aku selalu bersyukur atas apa yang aku peroleh dari-Nya. Mungkin secara nyata diatas kertas aku bukan apa-apa. Tapi aku bangga, akan sebuah komitmen yang terus aku bawa yang tentunya sejalan dengan-Nya. Bukan masalah hafalan, tapi sebuah pemahaman, analisa, dan realita di lapangan." - Umy Amanah


"Aku tak tau apa itu sahabat, yang aku tau hanyalah perasaan yang aku miliki untuk mereka. Dan semoga itu sudah mewakilkan tuk menafsirkan apa itu sebuah persahabatan." - Umy Amanah


"Aku tak pernah sebagus lensa kamera dalam mengabadikan sebuah peristiwa, tapi aku bisa menyimpan peristiwa dalam waktu yang lama, yang aku rasa kamerapun tidak bisa melakukannya."  - Umy Amanah


"Janganlah engkau memberi sesuatu yang terlalu indah pada seseorang, karena tanpa kau sadari kau tengah membuat dirinya terlalu menderita jika suatu saat engkau tiba-tipa pergi meninggalkannya. Karena percayalah dirinya tak mampu menghapus apa yang telah engkau beri." - Umy Amanah


"Dibahagiakan belum tentu hasil pemberian orang lain, namun saat kamu Membahagiakan orang lain dan kamu merasa Dibahagiakan, tak sepantasnya kamu meminta Dibahagiakan oleh orang lain. Karena orang yang kamu mintapun belum tentu dia bisa Membahagiakan dirinya sendiri" - Umy Amanah
 


"Jangan terlalu bangga bisa menjadi warna untuk orang lain, karena jika dirimu tak hati-hati dalam mengkombinasikannya, maka tentu saja kau telah membuat sesuatu yang sederhana tak nampak indah seperti semula." - Umy Amanah


"Seseorang sering lupa akan apa yang telah dia miliki, dan melupakan apa yang seharusnya dia beri tentunya untuk orang lain (KESEMPATAN)." - Umy Amanah


"Jangan terlalu berambisi menjadi yang terpenting untuk orang lain, jika untuk diri sendiri saja belum bisa menjadi yang lebih penting."  - Umy Amanah


"Cobalah menengok ke belakang, tentunya untuk sedikit tau apa yang telah kita lewatkan." - Umy Amanah 


"Seseorang lebih terlihat hebat dengan mengakui kejelekannya, karena percayalah orang lain lebih bisa menerima." - Umy Amanah


"Terkadang perlu luka tuk menjadikan sesuatu itu bahagia, tapi tak perlu bahagia untuk menjadikan sebuah luka." - Umy Amanah 


"Berharap senyummu bisa mengobati lukamu, apapun itu. Karena aku tak terlalu berarti dibanding senyummu tentunya apalagi untuk mengobati lukamu." - Umy Amanah


"Janganlah terlalu lama tinggal dalam mimpi dan melupakan untuk hidup." - Umy Amanah


"Ketakutan akan sebuah penantian yang baru bersumber dari penantian yang lama dan belum ada hasilnya." - Umy Amanah


"Terkadang aku memilih diam, kenapa? Karena saat orang berbicara sesuatu dan aku telah mengetahui yang sebenarnya kenapa aku harus ikut bercakap tanpa tahu arah dari pembicaraan tersebut mau menyalahkan siapa." - Umy Amanah


"Jangan memiliki sikap cuek yang KETERLALUAN, tapi milikilah sikap cuek yang membuat orang lain PENASARAN." - Umy Amanah


"Seringkali kita menyesali jika sesuatu tidak berjalan seperti biasanya. Pernahkah kita menyesali jika sesuatu itu berjalan seperti biasanya?" - Umy Amanah


"Belajar memandang seseorang dari berbagai sudut pandang itu lebih baik. Karena dengan hal itu kamu tidak hanya bisa melihat satu kebaikan, tetapi jutaan kebaikan dan kekurangan yang tentunya akan membuat kita mengerti apa yang harus kita perbaiki darinya." - Umy Amanah


"Lupa itu berbeda dengan Melupakan. Karena lupa adalah sebuah proses dimana memori mencoba mengingat atau mengulang, tapi melupakan adalah sebuah proses dimana memori berusaha untuk tidak kembali mengingat atau mengulang." Umy Amanah


"Terlalu berani jika kita mampu menutup mata tapi tak mau membukanya, karena sosok penakut saja saat dia berani menutup mata dia tak pernah takut membuka matanya tentunya untuk melihat apa yang ada dihadapannya." - Umy Amanah


"Berlarilah sebentar untuk tau betapa lelahnya dirimu, seperti saat sukses lelah menunggumu tentunya untuk memenuhi sepenuh hatimu." - Umy Amanah


"Tidak ada yang gagal, saat kamu hanya terpatahkan oleh ketidakadilan realita perbuatan manusia. Percayalah kau akan sukses dihadapan-Nya, saat kamu melakukan sesuai kehendak-Nya." - Umy Amanah


"Jangan terlalu takut jika rencanamu gagal, karena Alloh SWT memberimu akal tuk merencanakan. Meski hasil akhirnya kembali kepadaNya." - Umy Amanah


"Meragukan itu penting, agar kamu tau apa yang belum kamu yakini tentunya untuk membuatmu lebih siap akan apa yang kan kau dapati." - Umy Amanah


"Totalitaslah dalam melakukan sesuatu sesuai kemampuanmu, dan hindarilah suara mereka yang terbagi-bagi tentunya untuk membagi fokusmu yang nantinya itulah yang akan menghancurkanmu." - Umy Amanah


Satu hal yang bisa diambil dari sebuah perbincangan "PINTAR belum tentu MENGINSPIRASI, tapi MENGINSPIRASI sudah pasti PINTAR." - Rudie S.A


"Aku nggak lagi minta kamu untuk membalas budi, tapi setidaknya kamu bisa untuk sekedar membalikan badan dan mengucapkan terimakasih. Itu saja jika kamu tidak lupa caranya berterimakasih." - Umy Amanah


"Keluarga itu selalu menjadi yang pertama, jika kamu salah satu bagian dari keluarga, sudahkah kamu menjadi hal yang utama untuk dirimu dan keluargamu?" - Umy Amanah


"Berbagi bukan harus materi, saat kamu bisa membagi kasih tentunya itu sudah melebihi." - Umy Amanah


"CUEK merupakan bentuk seseorang untuk diam dalam kesendirian, tentunya untuk mengevaluasi diri. Dan berharap bukan protes yang didapatkan dari orang sekitar." - Umy Amanah


"PUTUS ASA DIRI INI SEMOGA HANYA FIKTIF BELAKA" - Umy Amanah


"Asli, sendiri itu membosankan. Tapi saat aku merasa bosan, hal terpenting yang aku inginkan adalah aku ingin sendiri." - Umy Amanah


"Sehina apa diri kita jika tak ada kata maaf dan memaafkan untuk saudara muslim kita, saat yang menciptakan kita saja bisa melakukannya."  - Umy Amanah


"Lolipop => sebuah permen yang bisa mengungkapkan banyak rasa melalui warna." - Umy Amanah


"Saat wanita tak suka sepak bola tapi mengenakan jersey bola itu ada sebabnya. Sebab, pacarnya udah beliin jersey couple dan si wanita wajib pakai. Daripada putus? Kan jadi cerita konyol."  - Umy Amanah


"Wanita over protective itu mimpi bruk bagi pasangan laki-lakinya."  - Umy Amanah


 "Belajarlah menepati janji karena itu menunjukan kesetiaanmu yang sejati." - Umy Amanah


Saat SASTRA memperlakukan kita penuh ARTI, apa masih ragu untuk kita membalasnya dengan HATI? - Umy Amanah


"Terkadang membuat orang lain tersenyum saat sedih lebih mudah dibanding membuat diri kita sedikit saja senyum saat hati kita sedang porak poranda."  - Umy Amanah


"Bermimpi boleh, tapi jangan terlalu lama. Bangunlah segera dan jadikanlah semua nyata!"
- Umy Amanah


"Kadang aku lebih senang mengungkapkan sesuatu dengan tulisan kata dibanding harus berkata yang mana terkadang saat kita berkata lebih sering menjerumuskan pada dusta." - Umy Amanah


Sastra itu sederhana, sesederhana kalimat yang diungkapkan sastrawan tapi memiliki arti yang meminimalkan pendustaan. Karena bukan kalimat luar biasa yang diungkapkan dengan penuhnya berbagai tipuan. - Umy Amanah


"Betapa beruntungnya dia yang aku cinta, dan betapa meruginya aku mencintainya."  -Umy Amanah


"Konflik peran memang memusingkan, sayangnya bukan itu yang jadi topik permasalahan. Karena semestinya lebih pada apa dan bagaimana kita mengambil keputusan." -  Umy Amanah


"Yang kita terima sekarang adalah hasil pencapaian dari pilihan proses yang kita ambil sebelumnya. Jika kita mengambil proses yang instan, tidak sedikit yang hasilnya instan pula."  -  Umy Amanah


"Cepatlah kemari...! Sebelum ada orang lain yang mengajakku beranjak dari tempat ini." -Umy Amanah 


"Terimakasih Tuhan, telah menjadikan aku ada di bagian dari orang-orang yg mencintai bahasa dengan keindahan." -  Umy Amanah


"Aku heran, saat banyak orang memandang sastra hanya dengan sebelah mata. Seakan mereka semua lupa, bahwa saat dia akan mengungkapkan perasaan saja harus berusaha keras menggunakan sastra agar terkesan lebih bermakna." -  Umy Amanah


"Teman-temanku sibuk membuat setatus bahwa dialek yang dibawanya dari kampung halaman tercinta menjadi bahan olok-olokan bersama. Alhamdulillah aku mendapatkan yang berbeda, karena di sastra keragaman bahasa adalah mahakarya.
‪#‎Terimakasih‬ SASTRA karena kamu berbeda, menjadikan kita di dalamnya lebih BERMAKNA."
 
-  Umy Amanah


"Hay teman, aku hanya BERSYAIR
Jika kamu merasa TERSINDIR
Ekspresiku cuma NYENGIR" 
-  Umy Amanah

 
"Terkadang sesuatu menjadi terlihat saat kita benar-benar gagal, salah satunya siapa yang berada di samping kita dan menggandeng kita untuk tetap kuat serta beranjak pada langkah yang Insya Alloh berkah." -  Umy Amanah


"Sejatinya kehidupan seseorang belum sempurna saat dia hanya bisa bahagia dengan pacarnya (salah satunya), tanpa ada kehadiran sahabat disampingnya." -  Umy Amanah


"Betapa beruntungnya aku karena hanya dengan KATA aku bisa BAHAGIA, tak seperti yang lainnya yang seolah mengemis cinta bak hanya cinta yang bisa membuat seseorang bahagia." -  Umy Amanah


"Aku ingin sederhana seperti kata dan luar biasa seperti makna."  -  Umy Amanah
  

"Jangan salahkan inspirasi yang kerap mendatangi kita saat tikaman malam kian meninggi, sejatinya ia datang hanya untuk melepaskan beban kehidupan dengan membuangnya secara santun lewat imajinasi." -  Umy Amanah


"Tujuan seseorang merangkai kata menjadi kalimat adalah agaknya ada seseorang yang bahagia saat membacanya, tanpa mengetahui siapa yang menulisnya." -  Umy Amanah


"Seseorang bertanya padaku kenapa aku jarang sekali menulis tulisan tentang cinta. Jawabku adalah karena sudah terlalu banyak tulisan yang terposting mengenai cinta dan untuk perasaan cintaku biar menjadi salah satu privasi dalam hidupku yang hanya aku, dia, dan Tuhan yang tau." -  Umy Amanah-  Umy Amanah - Umy Amanah


"Hay kawan, kenapa yang jelas-jelas sudah menipumu dengan perasaan cintamu yang tak dibalas olehnya masih saja kau inginkan. Kenapa bukan dia yang jelas-jelas mencintaimu malah kau abaikan." -  Umy Amanah


"Perkara mereka yang mengusik dibelakangmu, BIARKAN.....! Karena sejatinya merekalah yang membuatmu MAJU dan melihat MASA DEPAN."  -  Umy Amanah


"Karena pernah kau sukai, aku jadi sulit untuk merasa orang lain benar-benar menyukaiku."


"Kau bilang IPA mengajarimu hidup, aku bilang SASTRA mengajariku hidup dengan keindahan. Hayo pilih yang mana?"  -  Umy Amanah

Thursday, May 22, 2014

Dear S.A.H.A.B.A.T

Umy Amanah, Eky Nur Rofiqoh, Renara Theazita Araminta, Yovinda Prabanayu Ramadhani
Hari ini tepat 22 Mei 2014, SMAN 2 PURBALINGGA telah melaksanakan PERPISAHAN SISWA SISWI KELAS XII TAHUN PELAJARAN 2013/2014 dengan tema "See You Goodbye". Hari ini biasa saja, tapi jujur banyak rasa yang berkecimpuk dalam dada. Memulai dengan bangun pagi tuk berjuang mengalahkan ketidakbiasaan kita mengenakan kebaya menjadi sarapan pagi kita hari ini.

Bertempat di Gedung Sarwa Guna (GSG) Purbalingga, aku duduk tepat di tengah-tengah ruangan tersebut. Awalnya aku mengantuk, karena aku berpendapat sampai detik itu masih belum ada yang special. Meski duduk si tengah aku bingung akan berbicara dengan siapa, padahal seharusnya aku senang karena saat aku menengok sebelah kananku terlihat banyak pria berjas dan berdasi dilanjut pandanganku menuju banyaknya siswa yang memakai seragam identitas merah kebanggaan SMAN2PBG. Lanjut aku menoleh ke sebelah kiri, terlihat banyak wanita cantik mengenakan kebaya dengan anggunnya, akupun menoleh ke belakang terlihat sama saja, hanya yang berbeda pandanganku ke depan, hal tersebut karena ada panggung dengan pernak pernik kapal laut.

Memang disampingku tak lain adalah Rizky Nirmala Sari, dia teman seperjuanganku di kelas XII IPS 1. Tapi hal tersebut tidak bisa mengobati bahwa ditengah-tengan tempat dimana menjadi point of interest aku masih merasa kosong, padahal aku berfikir bahwa ini awal perpisahan sebelum perpisahan sesungguhnya pastinya. Aku diam dalam keramaian, aku sendiri adalam kehirukpikuan, aku tenggelam dalam kebisingan. Dimana sahabatku?

Tiap kebosanan, aku selalu menengok ke sudut 45 derajat dari tempat dudukku tentunya, terlihatlah mereka Renara Theazita Araminta dan Yovinda Prabanayu Ramadhani. Kemudian akupun melileh tepat 180 derajat, terlihatlah dia, yah sosok satu tahun lalu yang telah membuatnya masuk kekehidupanku. Namun aku masih tetap diam, sendiri, bosan dan mengantuk, semoga itu hanya aku karena aku harap selain diriku, mereka menkmati apa yang tidak aku nikmati.

Dari semua itu aku sadar, bahwa terkadang kita harus belajar. Tentunya belajar memahami sendiri, mengenali diam, mengerti sepi, dan menggeluti kebosanan. Karena saat kita masih bisa melihat mereka saja kita merasa menderita, apalagi jika kita telah benar-benar berpisah dengannya. Mengharapkan sebuah waktu tuk bertemu, sebuah kesempatan tuk saling berpapasan, dan sebuah dekap tuk saling menatap. Aku takut, saat aku belum belajar, aku telah harus mengerjakannya. Ketakutanku karena ini sebuah dunia nyata, tak ada kata remidi tuk memperbaiki, aku takut aku akan terus sendiri, diam, dan bosan.

Umy Amanah, Eky Nur Rofiqoh, Renara Theazita Araminta, Yovinda Prabanayu RamadhaniTapi mulai malam ini aku belajar, mengingat akan sebuah sosok kalian bertiga. Terimakasih telah menjadi nafas dalam kelas (@Eky Nur Rofiqoh), telah mendoakan selagi yang lain tidak, telah menggandeng selagi yang lain pergi, telah bertanya selagi yang lain acuh, telah ada selagi yang lain meninggalkan, telah memahami selagi yang lain tak bisa sedikitpun mengerti, telah mendekap selagi yang lain menyakiti, telah merangkul selagi yang lain hanya bisa diam, dan tentunya masih banyak lagi yang TELAH engkau berikan untukku.



Umy Amanah, Eky Nur Rofiqoh, Renara Theazita Araminta, Yovinda Prabanayu Ramadhani
Terimakasih telah menjadi warna dalam lentera (@Renara Theazita Araminta), telah mengajari saat yang lain hanya menghakimi, telah memberi saat yang lain hanya meminta, telah panik saat yang lain hanya berusik, telah mendengar saat yang lain hany bubar, telah menjiwai saat yang lain hanya menghormati, telah berduka saat orag lain memberi luka, telah mendewasakan saat orang lain menjadi sok dewasa, dan tentunya masih banyak lagi yang TELAH engkau berikan untukku.




Umy Amanah, Eky Nur Rofiqoh, Renara Theazita Araminta, Yovinda Prabanayu Ramadhani
Terimakasih telah menjadi sahabat tercepat (@Yovinda Prabanayu Ramadhani), telah menjadi sahabat saat yang lain hanya berucap, telah menjadi ada saat yang lain hanya mengada, telah menjadikanku percaya bahwa waktu tak mampu membuktikan bahwa ungkapan sahabat tak secepat waktu kan menjawab karena semua itu terpatahkan oleh pertemuan instan sebuah persahabatan.





Terimakasih TELAH MENJADI SAHABAT, anehnya sebegitu berartinya kalian sebagai sahabat, sampai detik inipun aku tidak bisa menafsirkan apa itu sahabat? Semoga itu tidak menjadi masalah, karena aku berharap tak perlu penafsiran jika sebuah perasaan saja sudah mewakilkan. 

"Aku tak tau apa itu sahabat, yang aku tau hanyalah perasaan yang aku miliki untuk mereka. Dan semoga itu sudah mewakilkan tuk menafsirkat apa itu sebuah persahabatan."

Umy Amanah

Monday, May 5, 2014

POETRY PART #21

TETAP SEPERTI SAAT AKU MENUTUP MATA

POETRY PART #21

Menatap cahaya sang surya
Buatku itu biasa saja
Tentunya jika aku lakukan bersamamu
Dan berada di sampingmu
Aku tak segan menutup mataku sekejap
Melewatkan gagahnya pancaran surya
Karena hati meyakinkanku
Aku kan tetap berada disamping bahumu
Aku berharap
Saat aku membuka kelopak mata
Kamu masih disitu, disampingku
Meski matamu takan pernah memandangku
Aku tetap selalu berharap
Engkau tetap seperti apa yang aku lihat
Tetap seperti mimpi saat aku menutup mataku
Sesuatu yang kan nyata saat aku membuka mataku
Aku takan pernah memandangmu
Ketika suryapun masih memandang kita berdua
Bukan salah satu diantara kita
Sampai suatu saat kita memahaminya
Tentunya tuk saling mengerti
Sesuatu yang sangat berharga
Berada disamping kita
Hingga akhirnya kita menatapnya
Saling menatap
Saling memahami
Saling merasakan
Betapa kita dicintai
Hingga kita layaknya sang surya
Memandang dua insan tanpa membedakan
Karena kita sudah dipersatukan
Oleh selain cinta, namun takdir kehidupan
- Umy Amanah -

Saturday, May 3, 2014

TULISANKU PART #14

DIBAHAGIAKAN atau MEMBAHAGIAKAN

Umy AmanahMinggu pagi ini tepat 4 Mei 2014, ucapan terimakasih dengan mengawali aktifitas hari ini Sholat Subuh bukan hal buruk yang dilakukan bukan? Alloh SWT masih memberiku kehidupan semudah aku bernafas. Terpenting adalah saat aku menatap sang surya pagi ini, dan masih dalam pertanyaan yang sama, ketika kita dihadapkan dalam dua pilihan lebih tepatnya Dibahagiakan atau Membahagiakan? Itu benar-benar pilihan yang sulit menurutku.

Saat hatiku merasa ingin dibahagiakan, entah mengapa saat waktu yang sama pula aku harus membahagiakan. Dibahagiakan bukan hal yang mudah, karena aku harus melalui waktu yang secepat kilat saat merasakannya, menunggu kekosongan yang tak pernh terisi, melalui hari tanpa tau kapan kan terakhiri dan tentunya terus menatap surya kapan dia kan menjadi saksi dalam cahaya kebahagiaan yang takan pernah terlewatkan. Hanya satu yang membuatku tak pernah melihatnya, exactly this is time. Aku takut melihat waktu, karena aku selalu berfikiran saat aku belum mendapatkannya waktu telah berakhir dan tak memberiku kesempatan untuk itu tentunya untuk merasakan Dibahagiakan.

Namun saat aku harus membahagiakan, aku merasa hal ini semudah aku bernafas, selama aku saat tertidur dan sedalam saat aku memberikan kasih lewat sebuah kebahagiaan. Terkadang banyak hal yang terlupakan, seperti tetap terjaga meski kelopak tak sanggup menahannya, tetap berdiri meski raga tak mampu berbuat, tetap tegar meski hati rapuh tak seperti yang dibayangkan, dan tentunya tetap tersenyum meski bibir ini melawan hati tuk berbohong, malah terkadang mata ini memancarkan kasih dan memberi kebahagiaan yang tulus meski didalamnya menyimpan berjuta air tuk seketika juga bisa keluar.

Sayangnya semua menjadi berbeda, terkadang aku rindu dibahagiakan. Namun jika membahagiakan saja sudah membuat kita dibahagiakan untuk apa kita meminta pada orang lain tentunya untuk membahagiakan kita, tak terpahami bukan bahwasanya kita melakukan dua hal yang terkadang membuat kita Dibahaiakan dan Membahagiakan.

"Dibahagiakan belum tentu hasil pemberian orang lain, namun saat kamu Membahagiakan orang lain dan kamu merasa Dibahagiakan, tak sepantasnya kamu meminta Dibahagiakan oleh orang lain. Karena orang yang kamu mintapun belum tentu dia bisa Membahagiakan dirinya sendiri" - Umy Amanah

Umy Amanah

Thursday, February 13, 2014

AKU BENCI DIBANGUNKAN

Umy Amanah
                 Umy Amanah pagi ini berjalan sekeren apa yang dia inginkan. Memakai kostum jurnalistik dan atribut lengkap dengan ID Card melangkahkan kakinya pada kegelapan. Kegelapan adalah sebuah suasana dimana hanya ada dalam sebuah negeri yang sangat dia cintai, sayangnya itu bukanlah yang dirinya kehendaki.

Suatu ketika Umy bertemu dengan seorang temannya, Endru sapaan akrabnya. Kedua sosok seprofesi ini bertemu di depan sebuah gedung dimana kewibawaan gedungnya saja kini telah hancur, tidak bisa membayangkan hancurnya orang-orang di dalamnya bukan? Ah coba tinggalkan itu! Dengan perlengkapan jurnalis, keduanya duduk di emperan jalan dengan menyantap seporsi rames yang dirasanya seperti suport asupan tenaga pagi yang membangunkan.
Lepas dari itu semua, ternyata mereka berdua menanti sosok kontraversi minggu ini yang memang sebagai tranding topic pembicaraan seluruh lapisan masyarakat. Dialog antara Umy dan Endru selepas menyantap sarapan pagipun tak terelakan.
Umy         : “Masih banyak yang kayak gini nggak ya? “
Endru       : “Ah,... apanya? Bisa hancur lah negeri kita ini.”
Umy         : “Dari dulu memangnya belum hancur?”
Endru       : “Yang aku lihat si setengah-setengah.”
Umy         : “Apa maksudmu ini?”
Endru       : “Ah lupakan!”
Mengakhiri pembicaraannya Endru langsung membuka note pribadinya untuk memeriksa kembali daftar pertanyaan yang akan diajukan pada narasumber yang dia dan rekannya tunggu-tunggu dari pagi. Tidak seperti Endru, Umy malah asyik dengan situs pribadinya. Saat diingatkan, ternyata belum ada satu daftar pertanyaanpun yang ada dalam note pribadi Umy. Padahal, kalian ketahui saja bahwa rekan Endru ini yang sering dipanggil Umy kesehariannya dia selalu mengatakan impiannya menjadi Agent Of Change.
Lewat dunia jurnalis, Umy memang berkeinginan menjadi agen perubahan negeri ini. Kemirisan akan apa yang ada didalamnya menjadikan hatinya berontak, kemauannya menjadikan negeri ini lebih baik dengan jalan jurnalis yang ada dalam darahnya memang membara. Menurutnya negeri ini bisa dirubah dengan kata-kata. Seperti selogan jurnalisnya “Hebatnya jadi jurnalis itu bisa mengubah dunia hanya dengan kata-kata” itu yang selalu dirinya inginkan.
Tepat pukul 08:00 WIB dirinya dan Endru rekannya bangkit dari posisi duduk pada awalnya. Semua rekan-rekan yang ada dalam lokasi tersebut semua berlarian dan berhamburan tepat di pintu masuk gedung dengan embel-embel lembaga peradilan hukum tertinggi itu. Berlari mengejar sosok yang telah kehilangan kewibawaan memang menjadi tugasnya untuk mendapatkan apa yang masyarakat perlukan. Tepat sekali, sebuah informasi skandal kehancuran pimpinan elit negeri ini.
Hujan pertanyaan dari rekan-rekan seprofesinya memang mempersempit kesempatannya untuk bertanya meski hanya satu pertanyaan. Terlebih postur tubuh dirinya yang tidak terlalu tinggi juga menambah pelik apa yang dirinya hadapi. Tak mau dikonfirmasi, sosok yang telah kehilangan kewibawaan itu terus dikawal polisi menuju persinggahannya. Rekan seprofesinya mungkin banyak yang menyerah karena tidak ada satupun kalimat yang keluar dari Hilang Wibawa, begitu kami memanggilnya di belakang.
Saat semua rekannya mundur dan kembali pada tempat semula sebelum tokoh kontrofersi itu datang, Umy tetap berdiri melihat Hilang Wibawa berjalan dengan kawalan ketat. Tanpa dibekali satu pertanyaan dalam note pribadinya, dia memberanikan diri menanyakan satu pertanyaan.
Umy           : “Pak, satu pertanyaan saja dari saya. Apa Tuhan menangis melihat apa yang anda lakukan untuk negeri ini?” (Teriaknya sebelum Hilang Wibawa memasuki gedung yang telah rontok kewibawaannya itu).
Endru         : “Hih kamu, itu bukan pertanyaan seorang jurnalis lah. Yang benar saja kau ini!” (Tadah keras Endru yang waktu itu masih berdiri bengong disampingnya).
Saat mendengar ada pertanyaan seperti itu, semua rekan profesinya menengok heran. Tak ada pertanyaan seperti itu sebelum-sebelumnya. Semua rekan profesinya kembali gencar menyoroti Hilang Wibawa dengan perlengkapan jurnalisnya. Terlihat memang putaran kepala sekitar 1300 Hilang Wibawa, mungkin karena heran atau merasa bersalah. Entahlah, karena Umypun tak sadar bahwa pertanyaan yang dia lontarkan telah membuat semuanya terkejut.
Jepretan flash kamera terus menyoroti dirinya dan sang tokoh kontrafersi Hilang Wibawa. Semua jurnalis yang ada disitu berinisiatif bahwa jika kejadian tersebut diberitakan akan menjadi berita terpopuler seketika itu juga. Sayangnya, dari semua ketidaksengajaan apa yang terjadi di luar pintu masuk berkaca itu, Hilang Wibawa kemudian meneruskan langkahnya untuk memasuki gedung yang memang sebagai tempat dirinya bekerja semula.
Semua awak media kini menyoroti dirinya, penasaran kenapa sampai keluar satu pertanyaan yang mematikan. Kini profile pribadinya muncuk dimana-mana sebagai headline berita dan lainnya. Banyak memang yang menyoroti kalimat pertanyaan Umy pada hari itu, sorotan pendapat dari berbagai kalanganpun bermunculan. Saat dirinya semakin buming menyaingi tokoh kontrafersi Hilang Wibawa, banyak orang berpendapat bahwa jarang sekali seseorang berfikir sebuah pertanyaan pemberitaan mengaitkannya dengan Tuhan.
Setelah kejadian itu, Endru datang ke ruang kerjanya. Seperti biasanya, terlihatlah sosok sederhana di depan monitor kerjanya.
Endru       : “Gila, jadi tranding topic pekan ini.”
Umy         : “Ah biasa aja, nggak ngaruh buat aku sebelum ada jawaban tuh dari Hilang Wibawa.” (Jawabnya sembari mengupdate situs pribadinya).
Endru       : “Sial, kaya gini kamu pikir biasa aja?”
Umy         : “Iyalah, semua masih biasa sebelum ada perubahan di negeri tercinta ini.”
Endru       : “Aku yakin, sebentar lagi bakalan ada perubahan dari kata-kata kamu, seperti opsesimu.”
Umy         : “Masih inget prinsip jurnalis aku?”
Endru       : “Iyalah, gini kan Hebatnya Jurnalis Itu Bisa Mengubah Dunia Hanya Dengan Kata-Kata.”
Umy         : “Exactly, itu inginku. Eitz,... tapi sebelum mengubah negeri ini dan dunia aku hanya sedang berusaha mengubah diriku sendiri.”
Endru       : “Nggak lama lagi kamu pasti bakal mengubah negeri ini, dengan kata-katamu itu. Hahaha,...” (candanya).
Benar, tak lama setelah perbincangan keduanya, Umy menjadi sosok fenomenal negeri ini, banyak diundang sebagai narasumber atas apa yang telah dia keluarkan lewat kata-kata. Tak terpikir sebelumnya bahwa Umy akan menjadi seseorang yang punya segudang jadwal undangan seperti sekarang ini, berbeda dengan jadwal kesibukannya dengan jadwal mengejar-ngejar berita. Kini khalayak menerima baik apa yang dia lakukan, banyak sekali yang mengapresiasi dengan baik.
Menjadi sosok fenomenal dan sedikit merubah negeri ini dari para Hilang Wibawa memang menjadikannya banyak menerima penghargaan, diantaranya yang hari ini akan dia terima. Penghargaan sebagai Tokoh Muda Inspirasi Negeri. Saat nama lengkapnya dipanggil untuk menuju podium, dengan teriakan Umy Amanah. Sayangnya banyak yang aneh, Umy merasa dia tidak disambut baik, seperti ini.
Ibu           : “Umy, Umy, Umy,..... Bangun, bangun, bangun! Setiap kali liburan sekolah, kamu selalu bangun jam 10. Cepet bangun!” (Teriak ibunya marah-marah membangunkan).
Umy         : “Aaaaghhhhhhhrrrrrrr...... Mamah, sebentar lagi aku mau jadi Tokoh Inspirasi Negeri ini, kenapa mamah bangunkan aku?” (Kekecewaannya mendalam karena gagal mendapatkan piala tokoh inspirasi yang sebentar lagi akan diberikan pada dirinya dalam mimpi).
Ibu           : “Oh ternyata kamu lagi mimpi? Kebanyakan tidur si, liat udah jam 10, cepat bangun, mandi!”
Umy         : “Mamaaaaaaaaaaah...... AKU BENCI DIBANGUNKAN!” (Marahnya Umy pada Ibunya yang membangunkannya dari mimpi terindahnya).
Beranjak dari tempat tidurnya, Umy lekas melakukan apa yang Ibunya perintahkan. Terlepas dari kemalasannya, Umy tetap anak perempuan yang menurut pada Ibunya. Meskipun dirinya sangat marah pada Ibunya karena telah membangunkannya dari mimpi terindahnya, namun hanya sesaat. Karena dirinya telah bersyukur bisa merasaakan menjadi apa yang dia inginkan di dalam mimpinya. Umy percaya bahwa masa depan yang besar dalam hidupnya berasal dari sebuah mimpi yang menjadikan kita berusaha untuk merealisasikan mimpi itu.

THE END
(Umi Amanah)
Facebook : Umy Amanah / www.facebook.com/UmyAmanah26
Twitter : @Umy_Amanah26 / www.twitter.com/Umy_Amanah26

POETRY PART #20

Me, You and Shadow

Saat rapuh merasa akan kesendirian
Sayang, hening tak mampu beritahukan
Aku bertanya pada sepi
Kenapa aku seperti ini?

Gema, aku dapat mendengarnya
Sayangnya, tak bisakah kulihat rupanya
Aku bertanya sendiri
Apa kau tak bisa kusentuh kembali?

Alone, ... alone
Dan kini aku tak mengerti
Saat aku hanya bisa rapuh
Dimana aku hanya bisa mendengar gema

Seringkali aku menutup mata
Berpura-pura semua baik-baik saja
Gema adalah satu-satunya yang datang kembali
Apakah itu satu-satunya teman yang aku miliki

Hanya bayangan yang tak pernah nyata
Tepatnya shadow
Satu-satunya temanku
Dan terakhir aku sendiri


Umy Amanah
Umy Amanah

Sunday, December 29, 2013

POETRY PART #19

Bahagia Itu Seperti Apa ?

Selang hari aku bertanya pada malam 
Apa arti bahagia itu sesungguhnya
Tapi malam selalu diam
Bisu, atau memang menghiraukan

Banyak orang mendefinisikan kebahagiaan
Banyak pula bahagia ditahsirkan dengan sederhana
Sesimpel apa sebenarnya sebuah kebahagiaan 
Saat diriku saja tak mengerti akan perihal bahagia

Bagaimana sebenarnya sebuah perasaan bahagia
Saat kita hanya bisa mendefinisikan
Seperti malam yang selalu diam 
Saat ditanya tentang arti kebahagiaan

Sayangnya malam selalu memberi gelap
Menandakan kembalinya manusia pada waktu istirahat
Apakah malam itu bahagia 
Atau manusia yang lupa berterimakasih padanya

Umy Amanah
Umy Amanah




Powered by Blogger.