Sunday, August 11, 2019

Perbincangan 2 Orang Editor

Editor
Work Space 
Gus Mus bilang, seseorang hanya perlu kerendahan hati untuk menerima semua ilmu yang ada di sekitar kita, terutama menganggap bahwa semua yang ada bisa menjadi guru untuk diri kita. Sepertinya sejak dua malam lalu saya mulai setuju dengan pendapatnya. Hal tersebut ternyata terbukti saat saya berbincang dengan teman satu kelas saya saat kuliah (kemarin), baru kemarin.

Ceritanya adalah mengenai perbincangan dua orang editor. Teman bicara saya dua malam lalu adalah teman sekelas saat saya kuliah. Ia menjadi lulusan pertama angkatan saya, sidang pertama, dan wisuda pertama. Kerennya lagi tidak ada masa tunggu untuk ia mendapatkan pekerjaan. Sejak lulus sampai saat ini, tepatnya satu tahun ia berkerja sebagai editor di salah satu penerbitan buku kota tempat kami kuliah.

Sejujurnya, saya memiliki pekerjaan yang sama dengan ia. Dapat dibilang, saya masih newbie menjadi seorang editor. Saya menjadi editor sejak tujuh bulan lalu di sebuah Publishing, Offset, and Trading Company. Ini adalah pekerjaan ketiga saya setelah sidang pendadaran. Ada dua pekerjaan yang sudah saya tekuni setelah sidang, tepatnya sebelum wisuda.

Persamaan pekerjaan menjadikan kami sering berbincang. Istilah Jawa-nya gendu-gendu rasa. Kami sering berbincang mengenai banyak hal, dari urusan tugas kerja sebagai editor, sampai pada manfaat menjadi seorang editor. Oya, perlu Anda ketahui, bahwa saat ini suatu bidang pekerjaan tidak hanya memiliki satu tugas pekerjaan. Misalnya saja menjadi editor, zaman sekarang editor tidak hanya bertugas mengenai menyiapkan suatu naskah siap terbit, tetapi dituntut untuk bisa mebuat atau menulis buku, mengedit, dan menginovasi sebuah buku.

Hal tersebut menjadikan saya sering berbincang dengan teman saya sesama profesi. Kami berbagi cerita mengenai pekerjaan yang menurut saya tugas teman saya di kantor lebih berat daripada saya meski sama-sama seorang editor. Kami sering membanding-bandingkan tugas, bukan untuk apa-apa karena semata-mata hanya agar lebih bersyukur. Begitu mudahnya, membanding-bandingkan untuk mensyukuri yang kita punya.

Poin penting pembicaraan saya dan teman saya atau mungkin bisa disebut sebagai pembicaraan dua orang editor adalah mengenai segi kebermanfaatan. Tentu saja, setiap orang berkeinginan agar hidupnya bermanfaat. Terlebih lagi apabila seseorang dapat mengamalkan dan membagi ilmunya kepada orang lain.

Saya sesekali berkeluh kesah mengenai tugas seorang editor yang sangat banyak dan berat. Senangnya, perbincangan dua malam lalu mengetuk hati saya. Teman saya, yang saya anggap senior sebagai seorang editor tiba-tiba mengatakan, bagaimana jika kita lebih memikirkan segi kebermanfaatan menjadi seorang editor? Katanya berlanjut menjelaskan. Ia mengatakan bahwa di luar banyaknya kesulitan menjadi seorang editor, secara tidak disadari banyak sekali yang sudah kita berikan pada masyarakat.

Meski berbeda perusahaan, kami berada pada satu jenis perusahaan penerbitan buku pendidikan (sekolah). Menurutnya, dengan berada di sebuah perusahaan penerbitan buku pendidikan tentu sudah menjadi barang pasti bahwa ternyata kita berdua berkontribusi di dunia pendidikan. Setiap hari kita membuat, mengolah, menginovasi, sampai pada menyiapkan sebuah buku bahan ajar dapat diterbitkan, sebagai editor. Jika saja kita melakukan itu untuk satu buku dan dicetak ribuan eksemplar serta kemudian dibaca oleh ribuan orang yang berniat belajar, betapa beruntung kita sebagai kontributor di dalamnya.

Padahal, sejauh ini sudah berapa banyak buku yang ada kontribusi kita di dalamnya? Menurut teman saya, sebagai seorang editor buku hanya perlu niat karena Allah Swt. untuk mengamalkan dan berbagi ilmu. Sisanya, apabila buku itu dapat dibaca, dipelajari, dan menjadikan satu orang saja mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui tentu akan menjadi amal jariah kita (sebagai editor) ke depannya. Begitu simpelnya.

Setelah berbincang dengannya dua malam lalu, saya semakin menikmati pekerjaan saya. Sejujurnya, sebelumnya saya tidak pernah berpikir sejauh itu. Mengenai segi kebermanfaatan minimal satu buku dapat membuka wawasan untuk satu orang, maka akan menjadi amal yang tidak terputus bagi seorang editor atau seluruh orang yang berkontribusi di dalamnya. Syaratnya, semua diniatkan karena Allah Swt.

Gus Mus benar, saya bahkan dapat ilmu dari teman saya sendiri. Kita hanya perlu keluasan hari untuk menerima banyak ilmu dari banyak guru di sekitar kita. Terima kasih teman kuliah dan teman profesi dari dulu sampai sekarang. Kita selalu tidak tau sesuatu yang ada di depan, kita hanya perlu belajar dan melakukan yang terbaik sekarang.

Surakarta, 11 Agustus 2019

Powered by Blogger.