Monday, December 14, 2015

#sajakSINGKAT

Hujan, Lagi

Aku lihat genang air kemudian aku berkaca
Berlari melawan butir air segera aku meninggalkan
Menginjak jalan berlumpur lantas aku menerka
Menunduk, memilah jalan tanpa pandangan ke depan
Seyogyanya hujan menjadikan gelap semakin pekat 
Agar aku semakin berusaha membuka pupil mata lebar-lebar
Untuk tahu paras rupaku dalam cermin kehidupan
Pencapaian dari buah ketergesa-gesaan
Dan sesuatu yang berada di depan tanpa aku persiapkan
Selanjutnya pasti aku menggigil dalam ketakutan
Memeluk erat sesuatu yang berat
Terakhir, aku tak sanggup menahan gempuran hujan 
Yang datang bersamaan dan sangat menyakitkan


*Debu Ambigu
Surakarta, 14 Desember 2015

Tuesday, December 8, 2015

#sajakSINGKAT

Aku, pada Ibu

PUISI IBU, PUISI IBU, IBU

Kata temanku,
ibu adalah puisi yang tidak pernah ada dalam buku
Kata dosenku,
ibu adalah puisi terbaik dalam hidup
Kata pendaki,
ibu adalah capaian tertinggi dibanding puncak Mahameru
Kata guru,
ibu adalah pendidik pertama dalam kalbu


Aku,
kataku,
ah lidahku,
kelu


Aku tidak bisa mengungkap semua itu
karena ibu, 
satu-satunya sosok 
yang menjadikan kata tak ada yang pantas mewakili perasaanku
karena rasaku lebih dari itu


Iya,
itu bu, itu
dan aku diam
lantas memendam


*Debu Ambigu

Surakarta, 8 Desember 2015

Friday, December 4, 2015

ANALISIS SEKUEN : NOVEL CINTAKU DI KAMPUS BIRU Karya Ashadi Siregar

ANALISIS SEKUEN
NOVEL CINTAKU DI KAMPUS BIRU
Karya Ashadi Siregar
Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Kesusastraan

Dosen Pengampu : Asep Yudha Wirajaya, S.S.



Disusun Oleh :
Nama                              : Umi Amanah
NIM                               : C0214064
Jurusan                           : Sastra Indonesia / 1B

JURUSAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS) SURAKARTA
2014


ANALISIS SEKUEN
NOVEL CINTAKU DI KAMPUS BIRU Karya Ashadi Siregar
Umi Amanah
Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret

1. Pendahuluan
Dalam sebuah karya sastra salah satunya novel tentunya memiliki unsur-unsur sekuen yang perlu dianalisis. Unsur-unsur sekuen terseut ada tiga yaitu yang pertama adalah tekstual yang berarti berdasarkan kemunculannya dalam teks sastra. Kedua, kronologis yang berarti berdasarkan urutan peristiwanya. Ketiga, logis yang dalam hal ini akan dipaparkan berdasarkan hubungan sebab akibat yang kemudian akan menekankan pada logika cerita, sebab logika merupakan dasar struktur. 

1.1 Latar Belakang Masalah
Semakin banyaknya karya sastra yang tercipta seharusnya semakin banyak pengetahuan yang didapatkan oleh penikmat karya sastra salah satunya novel. Dalam sebuah novel tentunya memiliki pesan yang akan disampaikan oleh penulis pada para pembaca karya sastra tersebut. Namun beberapa tahun belakangan ini, karya sastra terkesan hanya dinikmati secara umumnya saja dan kemudian setelah itu hilang hingga seakan tidak ada pesan yang tersampaikan oleh penulis kepada pembaca. Perkembangan hasil karya sastra salah satunya novel yang sangat pesat menjadikan novel-novel yang dinikmati oleh pembaca sekarang kurang memiliki pesan moral yang kuat. Namun dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas dari sudut pandang penulis tetapi dari sudut pandang pembaca yang menganalisis sekuen hasil karya sastra novel. Analisis sekuen ini mengambil contoh novel Cintaku Di Kampus Biru karya Ashadi Siregar.

1.2 Rumusan Masalah 
Dalam analisis sekuen novel yang berjudul Cintaku Di Kampus Biru karya Ashadi Siregar tentunya memiliki sebuah rumusan masalah yang pertama, bagaimana sekuen tekstual dalam novel Cintaku Di Kampus Biru karya Ashadi Siregar? Kedua, bagaimana sekuen kronologis novel Cintaku Di Kampus Biru karya Ashadi Siregar? Ketiga, bagaimana kelogisan yang dipaparkan dalam cerita novel Cintaku Di Kampus Biru karya Ashadi Siregar?

1. Landasan Teori
a. Pengertian Novel

Novel berasal dari bahasa latin “novellus”, diturunkan dari kata “novies” yang berarti baru. Novel merupakan karya sastra yang paling baru dibandingkan puisi, drama, dan lainnya. Dalam The American College Dictionary, novel diartikan sebagai suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang tertentu, yangmelukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau keadaan yang agak kacau atau kusut. 

Dalam bukunya, Peyroutet (1991: 12) menyatakan bahwa cerita novel memiliki beberapa jenis, yaitu: 1) le récit réaliste, adalah novel yang menggambarkan kejadian secara nyata, 2) le récit historique, adalah novel yang menceritakan fakta pada suatu masa, 3) le récit d’aventures, novel yang menceritakan tentang petualangan dan kejadian-kejadian mengejutkan yang dialami tokoh, 4) le récit policier, adalah novel yang menceritakan tentang pahlawan, polisi, maupun detektif, 5) le récit fantastique, novel yang menceritakan kisah aneh dan irrasional, dan 6) le récit de science-fiction, novel yang menceritakan suatu kisah yang dipadukan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

b. Struktur Novel
Novel sebagai sebuah karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajiner, yang dibangun melalui unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh (dan penokohan), latar, sudut pandang, danlain-lain yang kesemuanya, tentu saja, juga bersifat imajiner (Nurgiantoro,1995: 4). Membaca sebuah novel, untuk sebagian (besar) orang hanya ingin menikmati cerita yang disuguhkan. Mereka hanya akan mendapat kesan secara

Tema menurut Stanton dan Keny (dalam Nurgiantoro ; 2002 : 67) adalah makna yang terkandung oleh sebuah cerita. Tema menurut Hartoko dan Rahmanto (dalam Nurgiantoro, 2002 : 68) merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuak karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai struktur semantic dan yang menyangkut persamaan atau perbedaan-perbedaan. Tema merupakan gagasan sentral sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam suatu tulisan atau karya sastra fiksi (Raminah Barbin, 1985 : 59-60).

Tokoh menunjukkan pada orangnya sebagai pelaku cerita. Menurut Abrams (1981 : 20), tokoh cerita adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (dalam Nurgiyantoro, 2002 : 165). Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembaca dan penyampai pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.

Alur atau (plot) merupakan unsur fiksi yang penting. Staton (1965 : 14) mengemukakan; plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Abrams (1981 : 137) mengemukakan bahwa plot merupakan struktur peristiwa-peristiwa, yaitu sebagaimana yang terlihat dalam pengurutan dan penyajian berbagai peristiwa unruk mencapai efek emosional dan efek artistik tertentu.

Abrams (1981 : 175) menyatakan bahwa latar adalah landas tumpu, penyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosoial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan ( Nurgiantoro, 2002 : 216).

c. Semiotik
Menurut Kamus Dewan edisi ketiga semiotik bolehlah didefinisikan sebagaikajian tentang tanda dan lambang terutamanya hubungan antara tanda danlambang dengan benda atau idea yang dimaksudkan. 

Semiotik adalah sains mengenai simbol-simbol. Manakala teori semiotikpula diilhamkan bagi mengkaji simbol-simbol serta tanda-tanda. Ianyamerupakan satu proses yang melihat kepada tanda yang muncul kemudianmemberikan makna kepada tanda tersebut supaya dapat difahami.

Semiotik juga berurusan dengan segala proses informasi yang bertukar-tukar yang bergantung kepada simbol-simbol yang diutarakan. Sebagaicontoh, manusia menulis, bercakap, melambai, mengenyit mata,menunjukkan ketidakpuasan hati dan sebagainya diantara manusia. Denganini mereka menggunakan simbol-simbol tertentu bagi berkomunikasi denganmanusia yang lain untuk mengekspreskan perkara-perkara di atas denganmenggunakan deria mereka.

Dengan ini juga lahirlah tanda-tanda yang mempunyai makna tertentu yangboleh dimengerti dan diinterpretrasikan. Sekiranya tidak ada komunikasiverbal yang berlaku secara tersurat maka tanda-tanda ataupun simbol-simbol ini yang akan menggantikan verbal. Sebagai contoh apabila sirenkecemasan berbunyi maka ianya melambangkan sesuatu, apabila lampuisyarat di jalanraya berwarna hijau maka kereta akan bergerak dan merahberhenti.

1. Pembahasan
a. Tema
Novel Cintaku Di Kampus Biru mengangkat tema percintaan. Hal tersebut mengacu pada teori yang menyatakan bahwa “Tema merupakan gagasan sentral sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam suatu tulisan atau karya sastra fiksi.” (Raminah Barbin, 1985 : 59-60). Dalam ceritanya meskipun banyak mengulas permasalahan dalam kampus, perkuliahan, dan sebagainya namun tetap yang ditonjolkan oleh penulis yaitu Ashadi Siregar adalah percintaannya dengan beberapa wanita dan kehidupan percintaannya di luar perkuliahan namun tetap berkisah di kampus biru (Universitas Gadjah Mada).

Pesawat Terbang

Tiga semester ini aku pikir sudah lama untuk perihal memandang. Iya, terlebih memandang malam yang sesekali dihiasi kerlip lampu menari. Bersumber dari lampu pesawat terbang, banyak waktu yang aku habiskan hanya untuk melihatnya. Entah kebetulan, kost yang aku tempati ternyata memberikan tempat jemuran yang terbuka. 

Lima hari dalam satu Minggu pasti aku sempatkan untuk memandang malam. Awalnya memandang malam, lama-kelamaan memandang segala yang dimiliki malam. Sudah banyak bulan purnama terindah yang telah aku saksikan, bintang terbanyak yang aku pandangi sampai kemalaman, rasi yang selalu aku hubung-hubungkan, dan terakhir pasti kerlip lampu pesawat terbang yang aku ikuti sampai menghilang di balik awan. 

Akhir-akhir ini aku sangat suka memandang kerlip lampu yang diberikan pesawat padaku. Gradasi warna hitam malam, serta putih, hijau, kuning, merah, biru yang dimiliki pesawat menjadikanku berimajinasi liar. Iya, ide menjadi kebutuhan dalam menulis semua yang ingin aku tulis. Sayangnya barusan aku baru tersadar, bahwa yang selalu aku pandang belum sempat aku tuliskan. 

Kini saatnya, aku ingin menulis segala yang telah dianugerahkan Alloh Swt. lewat malam padaku. Tentang pesawat yang setiap saat aku dengar suara baling-balingnya, tentang refleksi capung yang kerap aku dengar kegagahannya membelah udara, tentang benda bersayap di angkasa sana yang selalu aku nanti-nantikan lampunya, dan tentang tumpangan terbesar yang bisa melayang dan aku belum pernah menaikinya. 

Aku berspekulasi, tentunya sebagai seseorang yang belum pernah naik pesawat. Pikirku, orang-orang di dalam pesawat yang terbang di malam hari tidak sebahagia orang yang berada di daratan bumi. Iya, ini berkaitan dengan pandangan mereka yang dibatasi baja dengan awan hitam di luar sana. Mereka tidak bisa memandang banyak manusia, padahal banyak manusia yang memandang mereka. Mereka juga tidak bisa memandang lampu pesawat yang mereka tumpangi meski tersaji bak bintang yang terus berjalan. 

Itu bentuk spekulasi dari seseorang yang belum pernah naik pesawat. Semoga suatu saat spekulasiku itu terbantahkan oleh diriku. Akan ada waktu untuk aku terbang, di manapun, kapanpun, serta untuk alasan apapun, dan semoga semua untuk kebaikan. Aku ingin terbang, aku ingin memandang banyak lampu dari atas sana, aku ingin membelah udara, dan aku ingin merasa memeluk awan. Suatu saat, akan ada yang sepertiku, menulis indahnya lampu pesawat yang berkerlip di malam hari dengan pesawat yang di dalamnya ada seseorang yang pernah menulis ini sebelumnya. Itu saja, 

Powered by Blogger.