Monday, December 14, 2015

#sajakSINGKAT

Hujan, Lagi

Aku lihat genang air kemudian aku berkaca
Berlari melawan butir air segera aku meninggalkan
Menginjak jalan berlumpur lantas aku menerka
Menunduk, memilah jalan tanpa pandangan ke depan
Seyogyanya hujan menjadikan gelap semakin pekat 
Agar aku semakin berusaha membuka pupil mata lebar-lebar
Untuk tahu paras rupaku dalam cermin kehidupan
Pencapaian dari buah ketergesa-gesaan
Dan sesuatu yang berada di depan tanpa aku persiapkan
Selanjutnya pasti aku menggigil dalam ketakutan
Memeluk erat sesuatu yang berat
Terakhir, aku tak sanggup menahan gempuran hujan 
Yang datang bersamaan dan sangat menyakitkan


*Debu Ambigu
Surakarta, 14 Desember 2015

Tuesday, December 8, 2015

#sajakSINGKAT

Aku, pada Ibu

PUISI IBU, PUISI IBU, IBU

Kata temanku,
ibu adalah puisi yang tidak pernah ada dalam buku
Kata dosenku,
ibu adalah puisi terbaik dalam hidup
Kata pendaki,
ibu adalah capaian tertinggi dibanding puncak Mahameru
Kata guru,
ibu adalah pendidik pertama dalam kalbu


Aku,
kataku,
ah lidahku,
kelu


Aku tidak bisa mengungkap semua itu
karena ibu, 
satu-satunya sosok 
yang menjadikan kata tak ada yang pantas mewakili perasaanku
karena rasaku lebih dari itu


Iya,
itu bu, itu
dan aku diam
lantas memendam


*Debu Ambigu

Surakarta, 8 Desember 2015

Friday, December 4, 2015

ANALISIS SEKUEN : NOVEL CINTAKU DI KAMPUS BIRU Karya Ashadi Siregar

ANALISIS SEKUEN
NOVEL CINTAKU DI KAMPUS BIRU
Karya Ashadi Siregar
Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Kesusastraan

Dosen Pengampu : Asep Yudha Wirajaya, S.S.



Disusun Oleh :
Nama                              : Umi Amanah
NIM                               : C0214064
Jurusan                           : Sastra Indonesia / 1B

JURUSAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS) SURAKARTA
2014


ANALISIS SEKUEN
NOVEL CINTAKU DI KAMPUS BIRU Karya Ashadi Siregar
Umi Amanah
Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret

1. Pendahuluan
Dalam sebuah karya sastra salah satunya novel tentunya memiliki unsur-unsur sekuen yang perlu dianalisis. Unsur-unsur sekuen terseut ada tiga yaitu yang pertama adalah tekstual yang berarti berdasarkan kemunculannya dalam teks sastra. Kedua, kronologis yang berarti berdasarkan urutan peristiwanya. Ketiga, logis yang dalam hal ini akan dipaparkan berdasarkan hubungan sebab akibat yang kemudian akan menekankan pada logika cerita, sebab logika merupakan dasar struktur. 

1.1 Latar Belakang Masalah
Semakin banyaknya karya sastra yang tercipta seharusnya semakin banyak pengetahuan yang didapatkan oleh penikmat karya sastra salah satunya novel. Dalam sebuah novel tentunya memiliki pesan yang akan disampaikan oleh penulis pada para pembaca karya sastra tersebut. Namun beberapa tahun belakangan ini, karya sastra terkesan hanya dinikmati secara umumnya saja dan kemudian setelah itu hilang hingga seakan tidak ada pesan yang tersampaikan oleh penulis kepada pembaca. Perkembangan hasil karya sastra salah satunya novel yang sangat pesat menjadikan novel-novel yang dinikmati oleh pembaca sekarang kurang memiliki pesan moral yang kuat. Namun dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas dari sudut pandang penulis tetapi dari sudut pandang pembaca yang menganalisis sekuen hasil karya sastra novel. Analisis sekuen ini mengambil contoh novel Cintaku Di Kampus Biru karya Ashadi Siregar.

1.2 Rumusan Masalah 
Dalam analisis sekuen novel yang berjudul Cintaku Di Kampus Biru karya Ashadi Siregar tentunya memiliki sebuah rumusan masalah yang pertama, bagaimana sekuen tekstual dalam novel Cintaku Di Kampus Biru karya Ashadi Siregar? Kedua, bagaimana sekuen kronologis novel Cintaku Di Kampus Biru karya Ashadi Siregar? Ketiga, bagaimana kelogisan yang dipaparkan dalam cerita novel Cintaku Di Kampus Biru karya Ashadi Siregar?

1. Landasan Teori
a. Pengertian Novel

Novel berasal dari bahasa latin “novellus”, diturunkan dari kata “novies” yang berarti baru. Novel merupakan karya sastra yang paling baru dibandingkan puisi, drama, dan lainnya. Dalam The American College Dictionary, novel diartikan sebagai suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang tertentu, yangmelukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau keadaan yang agak kacau atau kusut. 

Dalam bukunya, Peyroutet (1991: 12) menyatakan bahwa cerita novel memiliki beberapa jenis, yaitu: 1) le récit réaliste, adalah novel yang menggambarkan kejadian secara nyata, 2) le récit historique, adalah novel yang menceritakan fakta pada suatu masa, 3) le récit d’aventures, novel yang menceritakan tentang petualangan dan kejadian-kejadian mengejutkan yang dialami tokoh, 4) le récit policier, adalah novel yang menceritakan tentang pahlawan, polisi, maupun detektif, 5) le récit fantastique, novel yang menceritakan kisah aneh dan irrasional, dan 6) le récit de science-fiction, novel yang menceritakan suatu kisah yang dipadukan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

b. Struktur Novel
Novel sebagai sebuah karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajiner, yang dibangun melalui unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh (dan penokohan), latar, sudut pandang, danlain-lain yang kesemuanya, tentu saja, juga bersifat imajiner (Nurgiantoro,1995: 4). Membaca sebuah novel, untuk sebagian (besar) orang hanya ingin menikmati cerita yang disuguhkan. Mereka hanya akan mendapat kesan secara

Tema menurut Stanton dan Keny (dalam Nurgiantoro ; 2002 : 67) adalah makna yang terkandung oleh sebuah cerita. Tema menurut Hartoko dan Rahmanto (dalam Nurgiantoro, 2002 : 68) merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuak karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai struktur semantic dan yang menyangkut persamaan atau perbedaan-perbedaan. Tema merupakan gagasan sentral sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam suatu tulisan atau karya sastra fiksi (Raminah Barbin, 1985 : 59-60).

Tokoh menunjukkan pada orangnya sebagai pelaku cerita. Menurut Abrams (1981 : 20), tokoh cerita adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (dalam Nurgiyantoro, 2002 : 165). Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembaca dan penyampai pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.

Alur atau (plot) merupakan unsur fiksi yang penting. Staton (1965 : 14) mengemukakan; plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Abrams (1981 : 137) mengemukakan bahwa plot merupakan struktur peristiwa-peristiwa, yaitu sebagaimana yang terlihat dalam pengurutan dan penyajian berbagai peristiwa unruk mencapai efek emosional dan efek artistik tertentu.

Abrams (1981 : 175) menyatakan bahwa latar adalah landas tumpu, penyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosoial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan ( Nurgiantoro, 2002 : 216).

c. Semiotik
Menurut Kamus Dewan edisi ketiga semiotik bolehlah didefinisikan sebagaikajian tentang tanda dan lambang terutamanya hubungan antara tanda danlambang dengan benda atau idea yang dimaksudkan. 

Semiotik adalah sains mengenai simbol-simbol. Manakala teori semiotikpula diilhamkan bagi mengkaji simbol-simbol serta tanda-tanda. Ianyamerupakan satu proses yang melihat kepada tanda yang muncul kemudianmemberikan makna kepada tanda tersebut supaya dapat difahami.

Semiotik juga berurusan dengan segala proses informasi yang bertukar-tukar yang bergantung kepada simbol-simbol yang diutarakan. Sebagaicontoh, manusia menulis, bercakap, melambai, mengenyit mata,menunjukkan ketidakpuasan hati dan sebagainya diantara manusia. Denganini mereka menggunakan simbol-simbol tertentu bagi berkomunikasi denganmanusia yang lain untuk mengekspreskan perkara-perkara di atas denganmenggunakan deria mereka.

Dengan ini juga lahirlah tanda-tanda yang mempunyai makna tertentu yangboleh dimengerti dan diinterpretrasikan. Sekiranya tidak ada komunikasiverbal yang berlaku secara tersurat maka tanda-tanda ataupun simbol-simbol ini yang akan menggantikan verbal. Sebagai contoh apabila sirenkecemasan berbunyi maka ianya melambangkan sesuatu, apabila lampuisyarat di jalanraya berwarna hijau maka kereta akan bergerak dan merahberhenti.

1. Pembahasan
a. Tema
Novel Cintaku Di Kampus Biru mengangkat tema percintaan. Hal tersebut mengacu pada teori yang menyatakan bahwa “Tema merupakan gagasan sentral sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam suatu tulisan atau karya sastra fiksi.” (Raminah Barbin, 1985 : 59-60). Dalam ceritanya meskipun banyak mengulas permasalahan dalam kampus, perkuliahan, dan sebagainya namun tetap yang ditonjolkan oleh penulis yaitu Ashadi Siregar adalah percintaannya dengan beberapa wanita dan kehidupan percintaannya di luar perkuliahan namun tetap berkisah di kampus biru (Universitas Gadjah Mada).

Pesawat Terbang

Tiga semester ini aku pikir sudah lama untuk perihal memandang. Iya, terlebih memandang malam yang sesekali dihiasi kerlip lampu menari. Bersumber dari lampu pesawat terbang, banyak waktu yang aku habiskan hanya untuk melihatnya. Entah kebetulan, kost yang aku tempati ternyata memberikan tempat jemuran yang terbuka. 

Lima hari dalam satu Minggu pasti aku sempatkan untuk memandang malam. Awalnya memandang malam, lama-kelamaan memandang segala yang dimiliki malam. Sudah banyak bulan purnama terindah yang telah aku saksikan, bintang terbanyak yang aku pandangi sampai kemalaman, rasi yang selalu aku hubung-hubungkan, dan terakhir pasti kerlip lampu pesawat terbang yang aku ikuti sampai menghilang di balik awan. 

Akhir-akhir ini aku sangat suka memandang kerlip lampu yang diberikan pesawat padaku. Gradasi warna hitam malam, serta putih, hijau, kuning, merah, biru yang dimiliki pesawat menjadikanku berimajinasi liar. Iya, ide menjadi kebutuhan dalam menulis semua yang ingin aku tulis. Sayangnya barusan aku baru tersadar, bahwa yang selalu aku pandang belum sempat aku tuliskan. 

Kini saatnya, aku ingin menulis segala yang telah dianugerahkan Alloh Swt. lewat malam padaku. Tentang pesawat yang setiap saat aku dengar suara baling-balingnya, tentang refleksi capung yang kerap aku dengar kegagahannya membelah udara, tentang benda bersayap di angkasa sana yang selalu aku nanti-nantikan lampunya, dan tentang tumpangan terbesar yang bisa melayang dan aku belum pernah menaikinya. 

Aku berspekulasi, tentunya sebagai seseorang yang belum pernah naik pesawat. Pikirku, orang-orang di dalam pesawat yang terbang di malam hari tidak sebahagia orang yang berada di daratan bumi. Iya, ini berkaitan dengan pandangan mereka yang dibatasi baja dengan awan hitam di luar sana. Mereka tidak bisa memandang banyak manusia, padahal banyak manusia yang memandang mereka. Mereka juga tidak bisa memandang lampu pesawat yang mereka tumpangi meski tersaji bak bintang yang terus berjalan. 

Itu bentuk spekulasi dari seseorang yang belum pernah naik pesawat. Semoga suatu saat spekulasiku itu terbantahkan oleh diriku. Akan ada waktu untuk aku terbang, di manapun, kapanpun, serta untuk alasan apapun, dan semoga semua untuk kebaikan. Aku ingin terbang, aku ingin memandang banyak lampu dari atas sana, aku ingin membelah udara, dan aku ingin merasa memeluk awan. Suatu saat, akan ada yang sepertiku, menulis indahnya lampu pesawat yang berkerlip di malam hari dengan pesawat yang di dalamnya ada seseorang yang pernah menulis ini sebelumnya. Itu saja, 

Thursday, November 19, 2015

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Jumat (20/11) ini aku bukan sedang menulis berita, tapi sedang menjajaki teras berita. Iya, sebenarnya sudah setahun lebih setengah aku ada dalam lembaga pers mahasiswa. Tapi aku masih saja berada di teras. Entah kenapa, ada ketakutan tersendiri untuk mengetuk pintu lalu masuk atau kembali pulang. Aku seolah dihadapkan pada dilematika yang lebih sulit dari matematika. 

Hari ini acara pradiklat, rutinitas kegiatan untuk para anggota baru akan dilaksanakan. Aku menjadi ketua panitia, iya ketua panitia pradiklat dan diklat lpm. Sebenarnya bukan sedang pamer jabatan panitia, toh cuma panitia. Ternyata pikiranku lebih besar dari itu. Keberanian sedikit perlahan terkumpulkan. Tangan ini mulai berani memegang gagang pintu ruang independen. 

Entah kenapa aku ini, tiba-tiba saja aku tidak hanya diam di hadapan pintu. Berpikir untuk membuka pintu lantas masuk atau kembali pulang. Ini lebih besar dari itu, iya lebih besar. Jika tangan ini saja sudah menggenggam gagang pintu, maka hanya butuh dorongan bahu untuk menguatkan tangan kemudian membuka. 

Aku tidak sendiri, ah iya aku tidak sendiri. Banyak orang hebat di balik pintu dan orang-orang kuat di sampingku. Sesekali aku menengok bahu, ternyata banyak tangan yang merangkulku. Sedikit menghilangkan ketakutan untuk membuka sesuatu yang masih menjadi ragu dalam hidupku. Semoga perlahan aku kuat untuk membuka pintu, tidak hanya berada di teras dan diam. Masuk, iya masuk itu tujuanku. 

Sepertinya butuh proses sedikit lama untukku, hanya untukku. Karena ini tentang keberanian yang nantinya tidak akan bersembunyi lagi di balik tawa ketakutan, atau pilihan untuk pergi tanpa ada alasan untuk aku kembali. Sejatinya di dalam sana banyak yang ingin aku ketahui, segala yang aku ingini, segala yang aku butuhkan, dan segala yang belum aku selesaikan.

Kini, aku sedang memikirkan semua yang akan aku sampaikan. Lewat tiga menit waktu yang diberikan, semoga semmuanya tidak seperti aku yang ketakutan. Aamiin


Monday, November 16, 2015

SINTAKSIS : Identifikasi Kalimat

MATA KULIAH SINTAKSIS

1.      Bagaimana saya melakukan identifikasi bahwa sebuah satuan gramatikal bisa disebut kalimat?
Jawab :
Sebuah satuan gramatikal bisa disebut kalimat apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-          Sebuah kalimat harus memiliki tanda baca akhir.
-          Adanya intonasi.
-          Memiliki makna yang utuh.
-          Memiliki huruf kapital di awal kalimat.
-          Adanya jeda pada kalimat.
Ciri-ciri tersebut bisa dianalisis atau diidentifikasi dari linguistik modern (cara pandang) structural, dimana identifikasi semacam ini memandang langsung pada obyek atau kalimat.

2.      Buatlah 3 kalimat, kemudian analisislah ketiganya sebagai sebuah kalimat! Identifikasi seperti nomor 1.
Jawab :
-          Jembatan yang menghubungkan dua desa putus.
Analisis:
1. Satuan gramatikal tersebut dikatakan kalimat karena memiliki tanda baca titik (.) di akhir kalimat.
2. Diawali dengan huruf kapital (S) pada kalimat tersebut.
3. Memiliki makna yang utuh.
4. Adanya intonasi.
5. Adanya jeda pada kalimat tersebut. 
-          Banyak siswa tidak berangkat sekolah.
Analisis :
1. Satuan gramatikal tersebut dikatakan kalimat karena memiliki tanda titik (.) di akhir kalimat.
2. Diawali huruf capital (B) pada kalimat tersebut.
3. Adanya makna yang utuh.
4. Adanya intonasi.
5. Adanya jeda pada kalimat tersebut. 
-          Hujan!
Analisis :
1. Satuan gramatikal tersebut dikatakan kalimat meski hanya terdiri dari satu kata karena di belakang kata tersebut memiliki tanda baca seru (!).
2. Diawali huruf capital (H).
3. Adanya intonasi.
4. Memiliki makna yang utuh.

3.      Buatlah 3 kalimat yang memiliki struktur fungsi yang berbeda. Analisislah fungsi dari masing-masing kalimat! Struktur fungsi diawali Ket, S, dan P.
Jawab :
-          Struktur kalimat yang diawali kata keterangan.
Akibat tanah longsor,(KET) pemukiman warga(S) luluh lantak.(P)
-          Struktur kalimat yang diawali subyek.
Vera(S) pulang makrab(P) penampilannya kumal.(KET)
-          Struktur kalimat yang diawali predikat.
Amat menyedihkan(P) Vera itu.(S)

4.      Buatlah 3 kalimat yang berstruktur P mendahului S, analisislah fungsi kalimat!
-          Berjalan(P) Ibu(S) di sekeliling rumah.(KET)
-          Membaca(P) koran(S) di pagi hari.(KET)

-          Di atas meja,(KET) terdapat(P) vas bunga.(S)

MEMBUAT KALIMAT DAN MENGANALISIS FRASA

MATA KULIAH SINTAKSIS

MEMBUAT KALIMAT DAN MENGANALISIS
1. Frasa Nominal
Ayah saya membaca koran setiap pagi.
Ayah saya (S) | membaca (P) | koran (O) | setiap pagi (KET)
FN                 KV                 KN                          F.Ket

2. Frasa Verba
Saya ikut bangga atas prestasi anda.
Saya (S) | ikut bangga (P) | atas prestasi anda (PEL)
      KN                        FV                         FN

3. Frasa Bilangan
Mereka memotong dua belas ekor hewan kurban.
Mereka (S) | memotong (P) | dua belas ekor hewan kurban (O)
      KN               KV                           F.Bil

4. Frasa Keterangan
Pagi hari tadi, terpancar sinar matahari.
Pagi hari tadi (KET) | terpancar (P) | sinar matahari (S)
            F.Ket                     KV                                FN

5. Frasa Adjektiva
Saya merasa sangat pendek.
Saya (S) | merasa (P) | sangat pendek (O)
      KN            KV                  F.Adj

6. Frasa Depan
Dari pagi, anda melamun.
Dari pagi tadi(KET), | anda (S) | melamun (P)
      F.Dep                        KN            K.Sifat

Friday, November 13, 2015

Angsana November Kedua

musim gugur bunga angsana di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta
Angsana tahun ini gugur sedikit terlambat. Iya, biasanya rutinitas musim gugur bunga angsana di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta terjadi mulai bulan Oktober, untuk tahun ini dimulai bulan November. Entah aku sok tau atau apalah, intinya untukku ini adalah Angsana November Kedua. Semua masih sama, mengagumkan, indah, dan penuh rasa. 

musim gugur bunga angsana di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta
Jika aku boleh memaknai, angsana yang sedikit terlambat gugur tahun ini memang sejalan dengan diriku. Entahlah, semester ini begitu berat di bulan-bulan ini. Mungkin itu alasan kenapa bunga angsana gugur di bulan ini. Setidaknya untuk mengobati segala yang dianggap kejam dan terlalu menyedihkan. Dan akhirnya segala terobati, oleh sesuatu yang tidak semua tempat memiliki. 

musim gugur bunga angsana di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta
*Debu Ambigu

#sajakSINGKAT

Belum Kau Buka Hatiku?

Jelaga menghampiri

menerkam gulita tanpa peduli
menutup mata sontak harap kian meyakini
seingatku kau tiada begitu memandangku berarti

tapi

jika kau sibak 
segala apa yang pernah terlewati
tanpa bingung membedakan 
segala
air mata 
yang kau ubah menjadi tawa
dan luka
seketika kau ubah begitu berbeda
menjadi
rasa
lantas
begitu saja?

Tuesday, November 3, 2015

Richard Marx - Right Here Waiting

Oceans apart, day after day
Terpisah samudera, dari hari ke hari
And I slowly go insane
Dan perlahan aku hilang akal
I hear your voice on the line
Kudengar suaramu di telepon
But it doesn't stop the pain
Namun itu tak menghentikan rasa sakit ini

If I see you next to never
Jika aku hampir tak pernah melihatmu
But how can we say forever
Namun bagaimana kita bisa bilang selamanya

Chorus:
Wherever you go, whatever you do
Kemanapun kau pergi, apapun yang kau lakukan
I will be right here waiting for you
Aku akan tetap di sini menantimu
Whatever it takes or how my heart breaks
Apapun yang harus kulakukan atau betapapun hancurnya hatiku
I will be right here waiting for you
Aku akan tetap di sini menantimu

I took for granted, all the times
Kujalani begitu saja, semua waktu
That I thought would last somehow
Yang kupikir takkan pernah berakhir
I hear the laughter, I taste the tears
Kudengar tawa, kurasakan air mata
But I can't get near you now
Namun aku tak bisa menemuimu saat ini

I
Oh, can't you see it, baby
Oh, tak bisakah kau lihat, kasih
You've got me goin' crazy
Kau telah membuatku jadi gila

back to Chorus

I wonder how we can survive this romance
Aku tak tahu bagaimana kita bisa mempertahankan tali kasih ini
But in the end if I'm with you
Namun jika akhirnya aku bersamamu
I'll take the chance
Akan kumanfaatkan saat-saat itu

Back to I then Chorus

Waiting for you
Menantimu

SAJAK Sastra Indonesia 2015

Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta
Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menurut saya sudah cukup dewasa. Hal ini berkaitan dengan Studi Alternatif dan Ajang Kreativitas (SAJAK) yang diadakan setiap tahunnya untuk menyambut mahasiswa baru. Ini sebenarnya adalah sebuah acara yang orang umum lebih akrab menyapanya Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK). Namun, agenda ini diadakan di program studi Sastra Indonesia.


Puncak acara yang telah terselenggara dua hari yaitu 10 - 11 Oktober 2015 lalu dimulai pada Sabtu, 10 Oktober 2015. Pagi hari, acara dibuka oleh Dra. Chattri Sigit Widyastuti, M.Hum. (KAPRODI) Sastra Indonesia. Segala harapan terbang bersama seikat balon udara yang diterbangkan secara simbolik, hingga acara selanjutnya menjadi memori bahagia seperti senam bersama dan penampilan-penampilan yang sesungguhnya.

Akhirnya masuk pada acara inti, yaitu seminar. Mengundang dua pembicara dalam Seminar Kepenulisan Kreatif tentu menjadi saat yang ditunggu-tunggu untuk berbagi ilmu. Pertama adalah Rianna Wati, S.S. M.S. (dosen Sastra Indonesia FIB UNS). Karya beliau yang sangat banyak tentunya dalam kepenulisan menjadikan seminar kala itu begitu menarik. Banyaknya buku yang telah diterbitkan oleh beberapa penerbit menjadi alasan bagi panitia meminta beliau untuk berbagi ilmunya pada kami dan para mahasiswa baru dan semua yang datang pada waktu itu.

Acara yang dipandu oleh Zulfahmirda Matondang (mahasiswi Sastra Indonesia angkatan 2014) tentu semakin menarik saat Sosiawan Leak mulai berbagi pengetahuan soal dunia kesastraan. Memiliki nama asli Sosiawan Budi Sulistyo atau yang lebih dikenal Sosiawan Leak merupakan sastrawan dan budayawan asal Surakarta. Karyanya yang sudah sangat banyak yang dibarengi dengan sepak terjangnya menjadikan banyak mahasiswa terinspirasi dari beliau.

Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tahun 1994 ini sepertinya sudah tidak diragukan lagi dalam berbagai karya dan sepak terjangnya di dunia sastra baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Salah satunya pada Festival Puisi Internasional The Road di Bremen, Jerman, membaca puisi dan memberi workshop. Saat itu pula diundang membaca puisi dan menjadi narasumber di Universitas Hamburg dan Universitas Passau Jerman (Mei 2003).


Diskusi yang terjadi setelah pemaparan ilmu oleh narasumber sangat hangat. Ini berkaitan dengan banyaknya peserta seminar yang ingin bertanya dan batasan yang diberikan oleh moderator pada setiap terminnya. Namun, akhirnya setelah diskusi antarpeserta dan narasumber, acara dilanjutkan kembali. Kini diisi dengan hiburan dan penampilan dari tiap-tiap Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di Fakultas Ilmu Budaya UNS.

Hari pertama SAJAK selesai pukul 16:30 WIB. Dilanjutkan pada hari kedua yang dilaksanakan pada Minggu, 11 Oktober 2015. Acara pada hari itu merupakan penampilan dari semua kelompok mahasiswa baru Sastra Indonesia 2015. Penampilan tujuh kelompok dilakukan secara bertahap. Ada kelompok yang menampilkan musikalisasi puisi, parodi, drama, pantomim, drama musikal, dll. Selanjutnya diisi oleh penampilan perwakilan dari tiap-tiap angkatan, diantaranya angkatan 2014, 2013, 2012, 2011 s.d. 2008. Selain dari tiap angkatan, ada juga dari BEM dan kelompok musik atau komunitas tertentu.

Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta

Puncak sajak hari kedua berakhir dengan pemberian penghargaan bagi tiap katagori. Perasaan mengharukan dan kebahagiaan terpancar dari orang-orang yang memahami SAJAK sesungguhnya. Dari proses yang telah dilewati dan segala yang telah dikorbankan untuk sebuah persembahan dan tujuan. Intinya adalah, saat semua orang menganggap OSPEK itu menakutkan, Sastra Indonesia UNS punya sesuatu yang membahagiakan mengenai OSPEK yang tidak semua orang mengetahui, mengerti, dan memahami. Menurut saya, ini merupakan bentuk kedewasaan dalam dunia pendidikan. Di mana banyak sekali kegiatan di luar sana yang tidak sedikitpun mendidik dan itu masuk dalam agenda pendidikan.

Segalanya telah berlalu, tapi saya selaku panitia bersama rekan-rekan Sastra Indonesia angkatan 2014 berterimakasih atas segala proses yang telah dilewati. Sastra Indonesia..........! "AKU SAYANG KITA". Itu saja.

Saturday, October 31, 2015

MAKALAH SASTRA BATAK DAN SASTRA MINANG

MAKALAH SASTRA BATAK DAN SASTRA MINANG
Dibuat untuk memenuhi tugas Ulangan Tengah Semester
 Mata Kuliah Sastra Nusantara
Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M.Hum.




Disusun Oleh:
                      Nama                        : Umi Amanah
                      NIM                         : CO214064
                       Semester/Kelas        : 3/B





PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

MAKALAH SASTRA BATAK DAN SASTRA MINANG
Umi Amanah
Universitas Sebelas Maret Surakarta

1.      PENDAHULUAN
a.       Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki kekayaan sastra. Hal tersebut mengacu pada banyaknya wilayah kepulauan di Indonesia yang mengakibatkan adanya pembagian wilayah Sastra Nusantara. Dalam hal ini, penulis akan mengambil konsentrasi pada sastra nusantara yang wilayahnya terpengaruh budaya Melayu.
Pengaruh Melayu tentunya tampak pada bentuk-bentuk karya sastra seperti pantun, syair, seloka, gurindam, dan hikayat. Wilayah tersebut diantaranya Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaka. Namun, ternyata pembagian wilayah dalam sastra nusantara merupakan sebuah skema belaka yang di dalamnya masih terdapat tumpang tindih dan ketidakpastian. Dalam tulisan ini, penulis akan mengulas sastra Batak dan sastra Minang sebagai bentuk atau bagian dari sastra nusantara.

b. Rumusan Masalah
1.         Bagaimana contoh karya sastra Batak?
2.         Bagaimana isi dalam karya sastra Batak?
3.         Bagaimana suatu karya dapat dikategorikan dalam sastra Batak?
4.         Bagaimana contoh karya sastra Minang?
5.         Apa saja jenis karya sastra Minang?
6.         Bagaimana karya tersebut dapat dikategorikan dalam sastra Minang?

c.    Tujuan Penulisan
1.         Mengetahui contoh karya sastra Batak.
2.         Mengetahui isi contoh karya sastra Batak.
3.         Mengetahui bagaimana suatu karya dapat dikategorikan dalam karya sastra Batak.
4.         Mengetahui contoh karya sastra Minang.
5.         Mengetahui jenis karya sastra Minang.
6.         Mengetahui bagaimana suatu karya dapat dikategorikan dalam karya sastra Minang.


2. PEMBAHASAN
Sastra Nusantara adalah sebuah frasa yang menunjuk tentang karya-karya sastra dan hal terkait yang terdapat di wilayah kepulauan Asia Tenggara. Karena Indonesia merupakan negara yang masuk dalam negara kepulauan, oleh karena itu Indonesia memiliki sebutan Nusantara. Indonesia tentu memiliki banyak wilayah yang di dalamnya tentu terdapat karya sastra. Ini sangat dekat dengan pembagian wilayah sastra nusantara. Dalam hal ini, penulis akan memngambil dua wilayah di Indonesia yang memiliki karya sastra terpengaruh Melayu yaitu sastra Batak dan Sastra Minang.   
Sastra Batak merupakan hasil kebudayaan yang berkenaan dengan cerita rakyatnya. Ini berkaitan erat dengan Bahasa Batak pada zaman dahulu secara umum merupakan bahasa lisan. Sebenarnya hingga saat ini, sastra Batak belum dapat diuraikan dengan jelas dan lengkap karena beberapa faktor yang mempengaruhiny.

Wednesday, October 21, 2015

#sajakSINGKAT

Dia

Dia,
dia?
dia!

petaka,
lantas
aku bercerita
ini makna

dia,
dia?
dia!

Ah,
suara,
luka,
dan cerita

Cerita,
cerita?
Cerita!

semua
aku bunuh bersama
dia, dia? dia!
segala melegenda
aku membunuhnya

*Debu Ambigu
Powered by Blogger.