Sunday, April 10, 2016

SASTRA MISTIK: Analisis puisi berdasarkan konsep Al-Fana dan Al Baqa dalam Tasawuf

Analisis puisi berdasarkan konsep Al-Fana dan Al Baqa dalam Tasawuf

Puisi

Fana’ dan Hulul

Karya : Abu al-Mughits al-Husain bin Manshur bin Muhammad al Baidhawi Al-Hallaj



Duh, penganugerah bagi si pemegang karunia

Terhadap diri-Mu dan diriku begitu aku terpada

Kau buat begitu dekat diriku dengan-Mu, sehingga

Kau adalah aku, begitu kukira

Kini dalam wujud diriku menjadi sirna

Dengan-Mu aku kau buat menjadi fana

Aku yang kucinta

Dan yang kucinta Aku pula

Kami dua jiwa padu jadi Satu

Dan jika kau lihat aku

Tampak pula Dia dalam pandanganmu

Dan jika kau lihat Dia

Kami, dalam pandanganmu tampak nyata

Kau antara kalbu dan denyutku, berlalu

Bagaikan air mata menetes dari kelopakku

Bisik-Mu pun tinggal dalam relung hatiku

Bagai ruh yang hulul dalam tubuh jadi satu

Maha suci Dzat yang menyatakan nasut-nya

Dengan lahut-nya , yang cerlang seiring bersama

Lalu dalam mahluk-Nya pun tampak nyata

Bagai si peminum serta si pemakan tampak sosok-Nya

Hingga semua mahluk-Nya melihat-Nya

Bagai bertemunya dua kelopak mata

Ka’bah Qolbu



Analisis : Puisi karya Abu al-Mughits al-Husain bin Manshur bin Muhammad al Baidhawi Al-Hallaj yang berjudul Fana’ dan Hulul ini mengandung konsep tasawuf Al-Fana. Hal ini karena di dalamnya terdapat makna bahwa seseorang telah menghancurkan dirinya.

Pada lirik:



Terhadap diri-Mu dan diriku begitu aku terpada



Dapat diartikan bahwa seseorang telah merasa Tuhan ada dalam dirinya. Anggapan ini kemudian diteruskan sebelum dirinya mengagumi Tuhan dengan begitu besarnya dan merasa bahwa yang ia kagumi ada dalam dirinya.



Kau buat begitu dekat diriku dengan-Mu, sehingga

Kau adalah aku, begitu kukira



Kemudian pada larik ini dapat diartikan bahwa untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan yang sesungguhnya, seseorang benar-benar menganggap bahwa Tuhan sudah ada dalam dirinya. Menganggap dirinya sendiri sudah tidak ada, oleh sebab itu dirinya sudah dianggap fana atau tidak ada melainkan hanya ada Tuhan.



 Kini dalam wujud diriku menjadi sirna



Pada larik ini, seseorang benar-benar sudah dalam kondisi Al-Fana. Kondisi di mana seseorang itu menganggap bahwa wujud aslinya sudah sirna. Sirna di sini bermakna bahwa wujud asli atau fisik seseorang itu sudah hilang atau sudah dihancurkan oleh dirinya sendiri. Hal ini terjadi tentu karena seseorang itu menganggap bahwa di dalam dirinya adalah Tuhan. Hingga dia tidak sadar tentang dirinya sendiri.



Dengan-Mu aku kau buat menjadi fana



Pada larik ini, ada pengakuan oleh seseorang bahwa diri atau wujud asli seseorang tersebut sudah menjadi fana atau hancur. Sudah benar-benar tidak sadar bahwa dirinya benar-benar ada. Hanya merasakan Tuhan yang ada di dalam dirinya.



Aku yang kucinta

Dan yang kucinta Aku pula



Pada larik ini, dapat dimaknakan bahwa ada pengakuan bahwa Aku di sini adalah Tuhan dan Tuhan adalah Aku. Ini menunjukkan bahwa seseorang tersebut memang sudah benar-benar ada dalam kondisi Al-Fana.



Dan jika kau lihat aku

Tampak pula Dia dalam pandanganmu

Dan jika kau lihat Dia

Kami, dalam pandanganmu tampak nyata



Pada larik ini dapat menjelaskan bahwa dia telah melihat Tuhan pada dirinya dan dirinya adalah Tuhan. Ini membuktikan bahwa seseorang telah merasa benar-benar menyatu dengan Tuhan dan menganggap dirinya tidak ada.



Hingga semua mahluk-Nya melihat-Nya

Bagai bertemunya dua kelopak mata

Ka’bah Qolbu



Pada larik ini menunjukkan bahwa seseorang tersebut akhirnya mencapai kondisi Al-Baqa. Sebuah kondisi di mana merupakan kelanjutan dari kondisi fana seseorang. Sebelum mencapai Al Baqa, seseorang tentu sudah mencapai kondisi Al-Fana sebelum-sebelumnya sesuai yang telah diuraikan tadi di atas. Sampai pada akhirnya seseorang ada dalam Al-Baqa, yaitu sebuah ketetapan untuk terus hidup seperti pada larik ini. Pada larik Ka’bah Qolbu mengartikan bahwa sesuatu akan abadi dan tetap hidup.


Simpulan: Setelah dianalisis, puisi Fana’ dan Hulul karya Abu al-Mughits al-Husain bin Manshur bin Muhammad al Baidhawi Al-Hallaj merupakan sebuah puisi yang masuk dalam konsep Al-Fana dan Al-Baqa dalam ilmu Tasawuf. Hal ini sudah dibuktikan oleh penulis dari makna-makna larik yang mengandung konsep tersebut. Ini seperti konsep yang memang kondisi seorang sufi terlebih dahulu akan mengalami Al-Fana sebelum akhirnya mencapai kondisi Al-Baqa. Karena dua kondisi tersebut merupakan kondisi yang saling berkait.

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.